kamarmusik.id.Bagi sebagian orang, nama Ten2Five mungkin langsung membawa kembali ingatan ke pertengahan 2000-an: era ketika lagu-lagu cinta masih sering berpindah dari CD ke pemutar MP3, ketika radio menjadi tempat pertama menemukan lagu baru, dan ketika “I Will Fly” terdengar di begitu banyak ruang—dari kamar tidur, kafe, di radio saat perjalanan pulang, hingga menjadi soundtrack kisah cinta yang tak selalu berakhir bahagia.
Dirilis pada 2004 sebagai bagian dari album debut dengan judul yang sama, lagu itu muncul pada masa ketika musik pop Indonesia sedang menemukan banyak warna baru. Ten2Five datang dengan perpaduan pop, jazz, soul, dan nuansa akustik yang terasa ringan, romantis, sekaligus berbeda. Lirik berbahasa Inggrisnya pun memberi identitas tersendiri.
Dua puluh dua tahun kemudian, lagu tersebut masih punya daya magis yang sama. Bedanya, kali ini Ten2Five tidak hanya akan menyanyikan kembali lagu-lagu yang pernah membesarkan nama mereka. Mereka akan merayakan perjalanan panjang itu lewat konser tunggal perdana bertajuk TEN2FIVE 22nd ANNIVERSARY CONCERT – PERJALANAN CINTA, 10 Oktober 2026 di Live House, M Bloc Space, Jakarta Selatan. Konser ini menjadi momen penting karena selama 22 tahun perjalanan mereka, Ten2Five belum pernah benar-benar menggelar konser tunggal sendiri. Ironisnya konser tunggal ini baru terlaksana ketika band ini pernah nyaris bubar!
Dua Puluh Tahun yang Tidak Selalu mudah

Ten2Five lahir dari pertemanan dan kecintaan pada musik. Pada 1998, Arief dan Robin yang sedang berkuliah di Perth, Australia, mulai bermain musik bersama. Poltak dan Lea kemudian bergabung, hingga nama Ten2Five muncul dari kebiasaan mereka berlatih setiap Sabtu, pukul 10.00 pagi hingga 17.00.
Sekembalinya ke Indonesia, perjalanan itu berlanjut. Namun akhirnya Lea mengundurkan diri karena sibuk bekerja lalu Imel dan Didit kemudian bergabung pada 2001. Momentum besar datang ketika mereka memenangkan kompetisi band di radio Mustang Jakarta pada 2003. Setahun kemudian, album perdana mereka, I Will Fly dirilis. Responsnya luar biasa, Ten2Five menerima Golden Award setelah berhasil menjual lebih dari 75 ribu kaset dan 17 ribu CD. Album tersebut juga mengantar Ten2Five mendapatkan penghargaan AMI Awards untuk Artis Pendatang Baru Terbaik dan Lagu Berbahasa Asing Terbaik lewat “I Will Fly”. Nama Ten2Five pun segera menjadi bagian dari lanskap musik pop Indonesia era 2000-an.
Mereka kemudian merilis sejumlah album termasuk album soundtrack film Me vs High Heels di tahun 2005. Tak hanya mengisi soundtrack, mereka ini juga tampil sebagai cameo dalam film remaja produksi Starvision ini. Di tahun itu pula Ten2Five kembali mendapatkan penghargaan AMI Awards untuk lagu “You” sebagai Lagu Berbahasa Asing Terbaik.
Album-album berikutnya pun dirilis dan mereka mulai memperluas warna musikalnya. Dari A Brand New Day, 3, Journey, hingga album yang membawa lagu-lagu daerah ke dalam interpretasi mereka sendiri seperti Zamrud Khatulistiwa dan I Love Indonesia. Namun perjalanan panjang sebuah band hampir tidak pernah berjalan mulus. Ada pergantian personel. Ada perubahan industri. Ada fase ketika kreativitas terasa buntu. Bahkan, Ten2Five beberapa kali sempat berada di titik nyaris bubar.
Dalam konferensi pers menjelang konser anniversary ke-22, vokalis Imel mengungkapkan bahwa Ten2Five memang sempat beberapa kali berada di ambang bubar. Salah satu pemicunya adalah perasaan bahwa karya mereka mulai terasa monoton. Imel juga mengakui pernah mengalami writer’s block, yang membuat proses kreatif menjadi tidak mudah. Namun pada akhirnya, mereka selalu menemukan alasan untuk kembali. “Pada akhirnya selalu happy ending,” ujar Imel dalam konferensi pers tersebut. Kalimat sederhana itu mungkin menjadi rangkuman paling tepat untuk perjalanan Ten2Five selama 22 tahun. Karena bertahan dalam sebuah band bukan hanya soal terus memainkan musik. Ada kalanya seseorang harus kembali menemukan alasan mengapa musik itu masih layak dimainkan. Ten2Five memilih kembali dengan personel terakhirnya Imel (vocal), Arief (bass), Ardhy ( gitar ) dan Thomas (drum).
KONSER YANG TERTUNDA DAN DITUNGGU

Karena itu, konser anniversary ke-22 ini terasa lebih personal daripada sekadar pertunjukan ulang tahun. Ada sesuatu yang selama ini belum mereka lakukan: berdiri di atas panggung konser tunggal dengan membawa seluruh perjalanan Ten2Five sebagai sebuah cerita. Maka ketika tawaran konser tunggal datang, Ten2Five tidak melihatnya sekadar sebagai pekerjaan berikutnya. Ini adalah bucket list. Selama 22 tahun, mereka belum pernah benar-benar memiliki panggung konser tunggal sendiri. Mereka lebih sering hadir di berbagai festival, pensi, maupun acara musik lainnya. Karena itu, konser ini menjadi kesempatan untuk melakukan sesuatu yang selama ini belum pernah mereka lakukan: membawa penonton masuk ke dalam perjalanan Ten2Five secara utuh. “Kami tidak ingin menampilkan performance yang seperti biasanya di pensi-pensi atau festival,” kata Imel dalam konferensi pers.
Konser ini dirancang sebagai perjalanan yang lebih utuh, dengan lagu-lagu yang menjadi bagian dari sejarah mereka. Sejumlah anggota original juga akan kembali untuk reuni. Tiga kolaborator spesial telah disiapkan, meski identitasnya masih menjadi kejutan. Judul konser Perjalanan Cinta sendiri terasa pas. Sebab, jika dipikir-pikir, perjalanan sebuah band memang mirip sebuah hubungan. Ada masa jatuh cinta, masa penuh energi, konflik, kejenuhan, bahkan keinginan untuk berpisah. Tetapi ada juga alasan untuk kembali. Dan Ten2Five sudah melewati semuanya.
Ten2Five masih terus terbang seperti hitsnya “I Will Fly”. Kali ini, mereka mengajak kita semua ikut merayakannya. Pada 10 Oktober nanti, Live House M Bloc Space akan menjadi tempat mereka merayakan 22 tahun perjalanan itu. Tiketnya tersedia dalam tiga kategori: I Will Fly untuk tiket normal seharga Rp300 ribu, Hanya Untukmu VIP Experience Rp500 ribu, dan YOU bundling dua tiket seharga Rp550 ribu. Tiket VIP mencakup akses masuk lebih awal, meet and greet, serta kesempatan berfoto bersama Ten2Five.
Dua puluh dua tahun setelah melewati perubahan personel, pasang surut industri, kebuntuan kreatif, bahkan beberapa kali nyaris bubar, mereka ternyata masih berada di sini. Di industri musik Indonesia (*)
Penulis : Djoko Adnan Foto: Dok. Ten2Five