Kamarmusik.id Peristiwanya berlangsung di Jones Beach Theater, New York, 12 Agustus 2026. Ritchie Blackmore terlihat bersepanggung dengan Deep purple pada lagu “Smoke on the Water”. Saat itu Deep Purple tengah menjalani tur SPLAT! untuk Kanada dan Amerika Serikat. Ada pun lokasi Jones Beach Theater sangat dekat dengan tempat tinggal Blackmore di Long Island. Ia segera menghubungi Ian Gillan.
Dalam sebuah wawancara, Blackmore mengatakan bahwa kesempatan tersebut bisa menjadi yang terakhir untuk bertemu dan bermain bersama. Ia ingin “menyembuhkan luka”. Kepada penonton Ian Gillan memperkenalkannya sebagai ‘Legenda Abadi’.
Di kalangan band lawas, seorang musisi yang menjadi bintang tamu dari band yang pernah ia perkuat adalah cerita lumrah. Setidaknya The Rolling Stones pernah melakukannya dengan Mick Taylor atau Scorpions dengan uli Jon Roth.
Namun bintang tamu kali ini bernama Ritchie Blackmore, satu-satunya sosok yang mendapat julukan ‘gitaris paling berbahaya’. Dunia pun tersentak. Pemberitaannya begitu masif. Apalagi, seperti diungkap langsung oleh Blackmore, momen tersebut berasal dari inisiatif dirinya.
Ritchie Blackmore berjasa besar menjadikan Deep Purple supergrup dunia, namun pada saat yang sama ia dikenal memiliki hubungan buruk sepanjang karir band tersebut sejak formasi Mark I. Ia dikenal arogan, perfeksionis, temperamental, dan otoriter. Namun juga diakui dunia sebagai gitaris jenius.
Berikut ini sebagian cuplikan perseteruan mereka.
Perpecahan Mark I (1988 – 1969)

Dialah yang menyebabkan tersingkirnya Rod Evans dan Nick Simper pada 1969, meski rencana tersebut sebenarnya berasal dari Blackmore, Jon Lord, dan Ian Paice. Blackmore-lah yang paling frontal. Ketiganya menginginkan perubahan warna musik Deep Purple menjadi jauh lebih berat, keras dan agresif. Sementara vokal Evans dianggap terlalu ngepop.
Terkesan kejam karena langkah tersebut tidak disampaikan secara langsung. Deep Purple saat itu tengah menjalani sebuah tur. Mereka mengetahui rencana akan terjadi pergantian justru dari sumber lain dan memutuskan pergi sebelum terjadi pemecatan secara resmi. Posisinya digantikan Ian Gillan dan Roger Glover dari Episode Six.
Menurut Nick Simper, awal keretakan sebenarnya sudah dimulai setelah Deep Purple menghasilkan uang. Hubungan persahabatan berubah. Blackmore kesal karena Rod Evans memperoleh pemasukan dari sisi penulisan lirik.
“Lirik yang dihasilkannya semua receh.”
Sebuah pendapat aneh dan cenderung absurd. Ini memperlihatkan bahwa Blackmore lebih mengedepankan elemen musik dan menganggap hal di luar itu dengan standar sangat subjektif. Simper pun memberikan pembelaan bahwa menulis lirik bukan pekerjaan yang bisa diremehkan. Untuk diingat, Ritchie Blackmore adalah yang membawa Rod Evans ke dalam Deep Purple.
Perpecahan Mark II (1969 – 1973)

Setelah kepergian Evans – Simper, Blackmore juga merasa terganggu atas keberadaan Jon Lord yang dianggapnya terlalu dominan. Jon Lord mempunyai latar belakang musik klasik dan menjadi arsitek Concerto for Group and Orchestra. Maka, ketika pers mulai menggambarkan dirinya sebagai figur utama Deep Purple, Blackmore mulai terusik. Persaingan terutama sering terjadi di atas panggung. Keduanya berusaha saling mengungguli satu sama lain dan yang senang tentu saja penonton.
Roger Glover memandangnya dari sisi positif. Menurutnya, kondisi itulah yang melahirkan Deep Purple In Rock (1970). Album ini sebuah deklarasi tegas tentang pergantian warna musik Deep Purple dari psychedelic/classical rock menjadi hard rock. Dan, arsitek perubahannya adalah Ritchie Blackmore.
Jadi, harus diakui tanpa obsesinya terhadap suara gitar yang lebih keras, riff yang lebih berat, dan permainan yang lebih agresif, sangat mungkin Deep Purple akan tetap menjadi band psychedelic/progressive yang menarik tetapi tidak menjadi Deep Purple yang kita kenal melalui album In Rock, Fireball, Machine Head dan Made in Japan.
Pada awalnya gitaris yang senang menyendiri itu tidak tampak seperti seorang otoriter. Namun setelah Deep Purple sukses besar, situasinya berubah. Blackmore cenderung ingin mengatur segalanya dan menganggap seolah-olah anggota band lainnya tidak ada.
Jon Lord pernah mengatakan bahwa sebagian besar konflik internal Deep Purple memang dimulai dari Blackmore. Ia bahkan terang-terangan mengatakan Ritchie Blackmore sebagai diktator.
Perseteruan paling terkenal terjadi antara Ritchie Blackmore dan Ian Gilllan. Kedua orang ini sama-sama keras kepala. Salah satu sumber pertengkaran, sepintas terdengar konyol, yaitu lagu “Child in Time”. Gillan keberatan jika lagu tersebut selalu dibawakan. Alasannya masuk akal karena membutuhkan nada tinggi ekstrem. Jika kondisi tenggorokan sedang buruk, menyanyikannya bisa membuatnya kehilangan suara selama beberapa hari. Namun Blackmore sengaja memainkan “Child in Time” justru ketika Gillan meminta tidak tidak dimainkan. Menurut Gillan, Blackmore seakan mendapatkan kesenangan dari provokasi tersebut.
Setelah menyelesaikan album Who Do We Think We Are, Gillan pun keluar dari Deep Purple.
Sementara itu Glover mencoba bertahan dan mengira masih memiliki masa depan. Ternyata tidak. Ia mendengar kabar Blackmore mengajukan pilihan kepada manajer Tony Edward bahwa ia akan bertahan dengan Deep Purple jika Roger Glover dikeluarkan. Rupanya saat itu diam-diam Deep Purple sudah melihat Glenn Hughes sebagai kandidat pengganti.
Kepada Glover akhirnya Blackmore berterus-terang. “Ini murni pertimbangan bisnis, bukan masalah pribadi.”
Formasi ini kembali berkumpul pada 1984 namun bukan berarti hubungan Blackmore-Gillan membaik. Mereka menghasilkan Perfect Stranger yang sukses dan beberapa album lain. Hingga terjadi insiden kamera yang kembali memicu perpecahan. Ketika itu Deep Purlpe sedang menjalani tur The Battle Rages On….
Sebelumnya Blackmore tidak menginginkan ada kamera tertentu berada di panggung karena akan mengganggu pandangannya. Saat tampil di Birmingham NEC, 9 November 1993, posisi kamera ternyata tak bergeser.
Merasa kesal, ia tidak langsung muncul di panggung untuk memainkan “Highway Star.” Blackmore baru muncul saat bagian solonya. Ketika itulah ia menyambar gelas berisi air minum dari sekitar posisi keyboard Jon Lord dan melemparkannya ke kamera.
Yang menarik, dalam rekaman konser berjudul Come Hell or High Water itu terlihat bahwa sasaran Blackmore memang kamera, namun dari sudut tertentu terlihat seolah-olah ia melempar ke arah Gillan.
Setelah peristiwa tersebut ia meninggalkan Deep Purple lagi. Posisinya digantikan Joe Satriani kemudian Steve Morse secara permanen. Kini Simon McBride.
Saat tampil di Kuala Lumpur dengan formasi gitaris Steve Morse, saya dan Pican Rachmat (alm) dari label Warner Indonensia datang sebagai undangan. Kami kebetulan menginap di hotel yang sama. Usai konser, kami nongkrong di cofee shop. Saat itulah muncul Roger Glover. Saya pun meminta pendapatnya tentang Blackmore yang keluar masuk Deep Purple.
“Ya, kami menempatkan diri sebagai baby sitter,” jawabnya tertawa.
Perpecahan Mark III (1973 – 1975)

Soal insiden kamera paling dikenal luas terjadi saat Deep Purplpe tampil di California Jam, Ontario Motor Speedway, California, pada 6 April 1974. Mereka dijadwalkan tampil menjelang senja namun pihak penyelenggara mengubahnya secara sepihak.
Di atas panggung, ia sangat terganggu oleh posisi kamera ABC yang menurutnya menghalangi pandangannya kepada penonton. Blackmore yang sejak awal sudah marah kemudian menghantam kamera televisi dengan gitarnya. Menghancurkan gitar dan monitor. Tidak hanya itu. Blackmore meminta peralatan amplifier disiram bahan bakar. Tak ayal, amplifier pun berkobar dan meledak. Kerusakan kamera ABC diperkirakan sekitar US$10.000 dan kemudian diselesaikan oleh manajemen. Setelah itu Deep Purple meninggalkan lokasi dengan helikopter.
Peristiwa tersebut berlangsung di hadapan jutaan penonton. Momen inilah yang memberinya gelar gitaris paling berbahaya.
Pada titik ini Blackmore sebenarnya mempunyai alasan rasional mengenai perubahan jadwal dan keberadaan kamera, tetapi responsnya dianggap berlebihan.
Album Burn sukses besar. Akan tetapi Blackmore semakin tidak nyaman dengan arah musik yang mulai memasukkan unsur funk, soul dan groove yang dibawa oleh Glenn Hughes serta David Coverdale. Pada album Stormbringer, Hughes bahkan menjadi semakin dominan sebagai penulis. Blackmore merasa Deep Purple “direbut” dari dirinya.

Menurut Coverdale, Blackmore sangat marah karena “Soldier of Fortune”, lagu yang ditulis oleh mereka berdua, tidak disukai oleh anggota lain. Tanpa membuka ruang diskusi, ia kemudian memutuskan mundur dari Deep Purple. Ini sangat khas Blackmore, jika keinginnya tidak terjuwud, hubungan personal tidak menjadi penting lagi baginya. Coverdale dan Blackmore tak saling bertegur sama selama 30 tahun.
Blackmore kemudian mewujudkan ambisinya sebagai pengendali penuh di tempat baru: Rainbow. Namun, usai merilis album pertama, ia berkata dingin: “Kalian semua saya ganti.”
Ia hanya hanya mempertahankan Ronnie Dio karena merasa memiliki chemistry. Album Rising dan Long Live Rock and Roll membuktikannya. Selain Dio, ia membongkar pasang personel sesuai keinginannya. Tidak ada susunan formasi Rainbow yang bertahan lebih dari dua album.
Ritchie Blackmore memiliki kepribadian paradoks. Sosok yang sulit diajak bekerja sama. Ia sangat sensitif pada situasi panggung, tidak pernah mau mengalah dan perfeksionis sejati. Namun rasanya kita juga harus adil. Blackmore bukan sekadar diktator yang kebetulan pandai bermain gitar. Ia mempunyai visi musikal yang sangat spesifik dan sering kali benar.
Perdamaian Melalui Musik

Maka, sangat menarik bahwa pada reuni 12 Agustus 2026 itu ia berterus terang sebagai pihak yang mencetuskan ide. Rupanya Blackmore sudah capek dengan atmosfer permusuhan.
Dalam video unggahan istrinya, Candice Night, lelaki berusia 81 tahun ini nampak berjalan perlahan menuju ke depan panggung. Kondisinya telah jauh menurun. Bahkan salah-salah pula ketika memainkan interlud “Smoke on the Water”.
Secara berkelakar Blackmore mengatakan bahwa memang tidak berpretensi tampil serius karena sudah lama tidak mendengarkan musik rock. Gitaris ikonik yang 33 tahun lalu meninggalkan Deep Purple dengan hubungan yang nyaris hancur itu akhirnya berdiri lagi di panggung bersama Gillan, Ian Paice dan Roger Glover.
Momen sekejap itu mungkin bisa menjadi cara paling indah untuk memahami Ritchie Blackmore: seorang jenius yang berkali-kali menodai hubungan dengan orang-orang yang menghasilkan musik terbaik bersamanya, yang di senja hidupnya telah memutuskan untuk berdamai melalui musik (*)

Penulis: Denny MR. Foto Image: Christie Goodwin