Written by 2:12 pm Feature

2 D ‘Masih Ada’ di Skena Musik Indonesia

kamarmusik.id Warisan 2D – duo Deddy Dhukun dan Dian Pramana Poetra (alm) akan kembali dihidupkan dalam sebuah momen spesial melalui konser tribute “2D: The Legacy of Deddy Dhukun & Dian Pramana Poetra” yang dijadwalkan berlangsung pada 26 Agustus 2026 mendatang. Konser ini menjadi ruang perayaan sekaligus pengingat bahwa karya-karya mereka tidak pernah benar-benar pergi. Sejumlah musisi lintas generasi akan membawakan ulang lagu-lagu 2D dalam aransemen baru. Sebelum kita merayakan karya-karya mereka, mari kita telusuri jejak perjalanan dua legenda pop Indonesia ini di kancah musik Indonesia.

Dari Perbedaan Menjadi Chemistry

Nama yang sederhana. Hanya dua huruf, 2D. Tetapi di baliknya ada salah satu kolaborasi paling menarik dalam sejarah pop Indonesia. Sebab 2D lahir dari dua karakter musikal yang tidak sepenuhnya sama. Deddy Dhukun memiliki naluri pop yang kuat: komunikatif, melodis, dan dekat dengan publik. Sementara Dian Pramana Poetra membawa latar musikal yang lebih jazz-oriented, dengan perhatian besar terhadap harmoni, aransemen, dan musikalitas.

Bahkan awal terbentuknya 2D tidak langsung berjalan mulus. Keduanya sempat berbeda pandangan mengenai arah musik. Deddy menginginkan musik yang lebih komunikatif dan bisa diterima banyak orang, sedangkan Dian cenderung ingin mengeksplorasi jazz yang lebih segmented. Pada akhirnya mereka menemukan titik temu. Musik boleh sophisticated dan berkelas, tetapi tidak harus sulit dinikmati. Dan formula inilah yang akhirnya menjadi kunci kesuksesan lagu-lagu 2D.

Sebelum 2D, Deddy dan Dian sudah saling mengenal melalui dunia penciptaan lagu dan kolaborasi musik. Keduanya pernah menjadi bagian dari K3S—Kelompok Tiga Suara—bersama Bagoes AA di awal -80an. Mereka sempat ngetop lewat hits “Bohong”. Pengalaman tersebut menjadi semacam laboratorium awal. Mereka belajar bagaimana harmoni, karakter vokal, melodi pop, dan musikalitas dapat bertemu dalam sebuah karya.

Ketika kemudian Deddy dan Dian berdiri sebagai 2D, chemistry itu menemukan bentuk baru. Album perdana, Keraguan pada 1987 menjadi salah satu penanda penting. Kemudian Masih Ada pada 1989 semakin memperkuat identitas mereka. 2D mulai memiliki sebuah sound yang khas: pop romantis, harmoni vokal yang kuat, sentuhan jazz dan soul, aransemen elegan, tetapi tetap memiliki melodi yang mudah diingat. Formula tersebut terdengar sederhana. Namun justru membuat karya mereka bertahan.

Bukan Sekadar Penyanyi

Salah satu kesalahan terbesar ketika membicarakan 2D adalah menempatkan Deddy dan Dian hanya sebagai penyanyi. Padahal keduanya adalah songwriter, arranger, produser, sekaligus bagian dari ekosistem kreatif musik Indonesia yang jauh lebih luas.

Dian, khususnya, memiliki perjalanan solo yang panjang. Karyanya beririsan dengan banyak nama besar musik Indonesia—mulai dari Chrisye, Vina Panduwinata, Utha Likumahuwa, Harvey Malaihollo, Fariz RM hingga January Christy.

Salah satu contoh paling kuat adalah “Melayang”, lagu yang ditulis Dian bersama Deddy Dhukun dan menjadi bagian penting dari perjalanan penyanyi January Christy. Karya Dian Intermezzo bahkan masuk dalam daftar 150 Album Indonesia Terbaik versi majalah Rolling Stone Indonesia. Artinya, pengaruh 2D tidak berhenti pada diskografi mereka sendiri. Jejaknya menyebar melalui lagu-lagu yang mereka ciptakan untuk penyanyi lain. Inilah yang membuat posisi Deddy dan Dian penting  dan sangat berpengaruh dalam sejarah musik Indonesia.

Pengaruh yang Berlanjut ke Generasi Berikutnya

Pada era 1980-an, musik Indonesia sedang mengalami periode yang sangat menarik. Jazz, funk, soul, fusion, dan pop kreatif saling bertemu. Nama-nama seperti Chrisye, Fariz RM, Candra Darusman, Chaseiro, Elfa Secioria, Guruh Soekarnoputra, Deddy Dhukun dan Dian Pramana Poetra menjadi bagian dari lanskap yang kemudian sering dikaitkan dengan perkembangan pop kreatif Indonesia. 2D berada di era perubahan tersebut. Lagu-lagu yang mereka ciptakan mampu bertahan melampaui zamannya.

Warisan 2D juga tidak berhenti pada generasi yang tumbuh bersama kaset dan radio. Karya mereka terus mendapatkan interpretasi baru. Salah satu contoh menarik adalah “Bohong”, yang kembali diperkenalkan melalui aransemen generasi baru oleh grup vocal TIGA di tahun 2018 dan penyanyi solo, Ekey di tahun 2023. Lagu tersebut menunjukkan bagaimana sebuah karya lama masih dapat menemukan konteks baru ketika dibaca ulang oleh musisi berbeda.

Deddy  Dhukun juga memiliki peran dalam perjalanan sejumlah penyanyi generasi berikutnya. Salah satunya Afgan. Sebelum menjadi salah satu penyanyi pop pria terkemuka Indonesia, Deddy Dukun dan Dian Pramana Poetra (alm)  menjadi sosok yang merekomendasikan Afgan kepada produser untuk masuk ke dapur rekaman.  Bukan hanya sampai di situ, di album debut Afgan bertajuk Confession No. 1 (2008), Deddy Dhukun turut membantu proses penggarapan album serta menyumbangkan karya lagu seperti lagu berjudul “Biru” (diciptakan bersama Dian PP) dan lagu “Betapa Aku Cinta Padamu“.

Warisan seorang musisi tidak selalu terdengar dari lagu yang ia nyanyikan. Tak jarang yang terdengar dari musisi yang ia bantu lahirkan.

Setelah Dian Pergi

Kepergian Dian Pramana Poetra pada 27 Desember 2018 karena penyakit leukemia atau kanker darah stadium 4, meninggalkan duka yang besar bagi dunia musik Indonesia. Setahun kemudian, untuk mengenang persahabatan mereka yang tak lekang waktu ini, Deddy Dhukun akhirnya  merilis album kelima 2D berjudul Satu Cinta Abadi yang memuat lagu-lagu rekaman suara asli almarhum Dian saat berjuang melawan sakit. Album ini menjadi rangkuman perjalanan karir musik mereka selama kurang lebih 35 tahun di industri musik Indonesia.

Warisan 2D juga akan kembali dihidupkan dalam sebuah momen spesial melalui konser tribute “2D: The Legacy of Deddy Dhukun & Dian Pramana Poetra” yang dijadwalkan berlangsung pada 26 Agustus 2026 mendatang di deCONCERT Room, Deheng House Lantai 4, Jakarta Selatan.

Deddy Dhukun dan sejumlah musisi lintas generasi seperti Andien, Sandhy Sondoro, Wijaya 80, dan Pesona Tiga Suara (beranggotakan dua putra Deddy Dhukun dan satu putra Dian Pramana Poetra) akan membawakan ulang lagu-lagu 2D dalam aransemen baru, menghadirkan kembali hits “Keraguan”, “Masih Ada”, hingga karya-karya lain dalam ‘format’ yang segar, tanpa kehilangan jiwa aslinya.

Ini menjadi sebuah penegasan bahwa musik 2D bukan hanya arsip masa lalu, tetapi sesuatu yang terus hidup, bernapas, dan menemukan pendengar barunya di hari ini.

Penulis : Djoko Adnan Foto Eksklusif: Dion Momongan

Visited 8 times, 9 visit(s) today
Close Search Window
Close