kamarmusik.id. Genre city pop belakangan kembali popular. Bahkan beberapa platform music digital membuat playlist khusus bergenre city pop ini. Ada alasan mengapa City Pop terdengar begitu familiar, bahkan bagi mereka yang tidak pernah hidup di Jepang pada era 1980-an.
Genre ini berakar dari perpaduan pop, folk-rock, jazz, funk, dan R&B asal Amerika Serikat, yang kemudian dikemas dengan nuansa kosmopolitan. Dalam perkembangannya, City Pop juga menyerap disco, soul, soft rock, boogie hingga electronic music dan menciptakan sebuah suara yang sophisticated sekaligus catchy. Dan menariknya, ketika Jepang memiliki City Pop, Indonesia pada periode yang kurang lebih sama sebenarnya sudah mempunyai musik dengan DNA yang serupa. Namanya: Pop Kreatif.
Tokyo dan Mimpi Kehidupan Modern
City pop berkembang di Jepang sejak pertengahan 1970-an dan mencapai masa emasnya pada dekade 1980-an, bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi dan gaya hidup kaum urban. Di sana sedang menikmati masa optimisme dan modernisasi. Mobil, walkman, kaset, perangkat stereo, televisi dan teknologi elektronik menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Musik pun ikut berubah.
Pengaruh musik Amerika—khususnya jazz, funk, soul, R&B dan disco—diolah oleh musisi Jepang menjadi sesuatu yang baru. Musik pop menjadi semakin sophisticated, dengan produksi yang detail, harmoni yang kaya dan groove yang kuat. Nama-nama seperti Tatsuro Yamashita, Mariya Takeuchi, Anri, Miki Matsubara dan Toshiki Kadomatsu kemudian menjadi bagian penting dari sejarah city pop.

Tatsuro Yamashita, misalnya, menghadirkan musik yang begitu polished dan penuh detail. Album For You (1982), yang memuat “Sparkle”, menjadi salah satu karya yang kini dianggap penting dalam kanon City Pop Jepang. Situs resmi Yamashita menyebut For You sebagai salah satu karya yang merangkum esensi sound-nya. City Pop pada akhirnya bukan sekadar genre, melainkan menjadi imajinasi tentang kehidupan urban oleh penggemar music di Jepang.
INDONESIA DAN LAHIRNYA POP KREATIF
Pada saat yang hampir bersamaan, Indonesia juga sedang mengalami modernisasi.
Akhir 1970-an hingga 1980-an melahirkan generasi musisi yang berusaha membuat musik pop Indonesia terdengar lebih modern dan tanpa sengaja mirip dengan city pop. Perpaduan jazz, funk, soul, disco, fusion dan berbagai pengaruh Barat bertemu dengan melodi dan bahasa Indonesia. Kemudian lahirlah istilah pop kreatif.
Nama-nama seperti Chrisye, Fariz RM, Candra Darusman, Yockie Suryo Prayogo, Dian Pramana Poetra, Utha Likumahuwa, Vina Panduwinata, Dodo Zakaria hingga Elfa Secioria ikut membangun lanskap tersebut. Fariz RM dengan “Sakura”, Chrisye dengan berbagai eksplorasinya salah satunya “Juwita”, Dian Pramana Poetra dengan jazz-pop, serta karya Candra Darusman dan Chaseiro memperlihatkan bahwa pop Indonesia saat itu sedang bergerak ke wilayah yang lebih sophisticated. Dan genre Pop Kreatif ini ketika didengarkan hari ini, persinggungannya terasa jelas dengan City Pop. Jika Tokyo memiliki City Pop, Jakarta punya Pop Kreatif.
SHEILA MAJID DAN “SPARKLE”

Hubungan city pop dengan Asia Tenggara menjadi semakin menarik ketika kita bicara tentang Sheila Majid. Ratu jazz dari Malaysia yang juga ngetop di Indonesia sejak tahun 1987 lewat lagu “Sinaran” dan “Antara Anyer dan Jakarta” ini, bukan hanya memiliki warna musik yang dekat dengan jazz, soul dan pop, tetapi juga pernah secara langsung menyentuh salah satu karya paling ikonik dalam repertoar city pop Jepang: Sparkle milik Tatsuro Yamashita.
Sheila Majid pernah membawakan cover Sparkle secara langsung pada awal 1990-an. Salah satu dokumentasi paling ikoniknya adalah penampilannya dalam Legenda The Concert pada 1991. Ia menyanyikan lagu berbahasa Jepang tersebut dengan energi dan artikulasi yang mendapat apresiasi dari para penikmat musik. Dokumentasi penampilannya kemudian beredar luas di kalangan penggemar musik sebagai salah satu contoh menarik pertemuan musik pop-jazz Malaysia dengan Japanese city pop.
Yang menarik, arsip siaran lagu Tatsuro Yamashita juga mencatat versi Sheila Majid untuk Sparkle pada 1992. Dengan kata lain, jauh sebelum algoritma YouTube mempertemukan pendengar global dengan city pop, Sheila sudah lebih dulu menunjukkan bahwa musik tersebut bisa hidup di luar Jepang. Dan hubungan Sheila dengan Indonesia sendiri juga sangat kuat. Album Emosi (1986) dan Warna (1988), misalnya, mempertemukannya dengan sejumlah musisi Indonesia, termasuk Indra Lesmana, Oddie Agam dan James F Sundah.
Ketika Media Sosial Menemukan City Pop

Pada 2010-an, city pop Jepang kembali meledak. Lagu “Plastic Love” dari Mariya Takeuchi ditemukan generasi baru melalui YouTube. “Mayonaka no Door / Stay With Me” milik Miki Matsubara kemudian viral melalui Spotify dan TikTok. Musik berusia puluhan tahun tiba-tiba terdengar baru. Generasi yang bahkan belum lahir ketika lagu-lagu tersebut direkam mulai menikmati musik jaman orang tuanya dulu. Dan social media membuat nostalgia terasa futuristic dan hits.
Dan ketika anak-anak muda Indonesia mulai mengenal Tatsuro Yamashita, Mariya Takeuchi dan Miki Matsubara, mereka menemukan kejutan lain: Indonesia ternyata punya musik seperti ini juga. Lagu-lagu Chrisye, Fariz RM, Dian Pramana Poetra, Candra Darusman, Utha Likumahuwa dan banyak nama lain kembali masuk playlist generasi baru atau gen-z. Sebuah label yang mungkin tidak pernah digunakan oleh para musisinya ketika membuat karya tersebut, tetapi terasa relevan ketika karya mereka ditempatkan dalam percakapan global mengenai City Pop.
Diskoria: Membawa Masa Lalu ke Lantai Dansa

Di tengah kebangkitan tersebut, nama Diskoria menjadi penting.
Sejak 2015, Diskoria tumbuh dari kultur DJ dan kecintaan terhadap musik disko Indonesia. Namun mereka tidak berhenti sebagai penjaga katalog lama. Mereka membawa musik masa lalu kembali ke lantai dansa.
Kemudian lahirlah karya-karya baru dan kolaborasi yang mempertemukan generasi berbeda. Salah satu yang paling penting adalah “C.H.R.I.S.Y.E.”, kolaborasi Diskoria, Laleilmanino dan Eva Celia yang menjadikan nama Chrisye sekaligus estetika pop Indonesia masa lalu kembali terdengar di telinga generasi baru.
Sepuluh tahun perjalanan Diskoria kemudian menemukan bentuk paling lengkap melalui album debut mereka, Intonesia. Dirilis pada 2025, album ini berisi sebelas lagu dan menjadi perayaan satu dekade perjalanan Diskoria. Konsepnya bermain dengan frasa Into Indonesia—sebuah ajakan untuk masuk lebih dalam ke identitas dan memori musik Indonesia.
Intonesia bukan sekadar album disco, tetapi upaya memperkenalkan kembali kepada pendengar yang mungkin tidak pernah mengalami zaman ketika lagu-lagu semacam itu pertama kali dibuat. Pada 19 Agustus 2026 lalu, video musik “Dua Mimpi”, duet mereka bersama Tatjana Saphira dirilis sebagai video musik penutup rangkaian visual Intonesia. Dengan demikian, sebelas lagu dalam album tersebut kini memiliki video musik masing-masing.
Nostalgia akhirnya berubah menjadi sebuah karya baru. Mungkin itulah alasan City Pop terus kembali.