Written by 4:34 pm Review

Film Dokumenter Oasis yang Nyaris Mustahil

Enam belas tahun setelah perpisahan yang mengakhiri Oasis, Liam dan Noel Gallagher kembali berdiri di panggung yang sama. Film dokumenter ini seolah mengembalikan chemistry yang pernah menjadikan Oasis band besar.

kamarmusik.id Ada banyak cara untuk membuat film tentang kembalinya sebuah band besar. Bisa dengan membuat film konser yang megah. Bisa pula dengan menelusuri sejarah panjang band melalui arsip, wawancara, dan komentar para pengamat musik. Namun Oasis: Don’t Look Back in Anger memilih jalan yang lebih intim.

Disutradarai Dylan Southern dan Will Lovelace, film ini mengikuti perjalanan Oasis menuju reuni mereka setelah 16 tahun berpisah—dari rehearsal hingga rangkaian konser Oasis Live ’25 yang membawa Liam dan Noel Gallagher kembali ke panggung bersama. Dan justru di balik panggung itulah film ini menemukan cerita terbesarnya. Bukan sekadar bagaimana Oasis kembali bermain. Tetapi bagaimana dua bersaudara yang selama bertahun-tahun berada dalam konflik akhirnya kembali menemukan cara untuk bermain bersama.

16 Tahun yang Hilang

Hubungan Liam dan Noel Gallagher selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan karir Oasis. Keduanya sama-sama keras kepala, memiliki ego besar, tetapi juga mempunyai kemampuan luar biasa dalam menciptakan musik. Kombinasi itulah yang membuat Oasis menjadi salah satu nama terpenting dari era Britpop. Namun kombinasi yang sama pula yang akhirnya menghancurkan mereka. Pada 2009, konflik di antara keduanya mencapai titik akhir. Noel meninggalkan Oasis dan band tersebut resmi berakhir. Setelah itu, dua bersaudara ini menjalani jalan masing-masing.

Tahun berganti. Album datang dan pergi. Proyek musik baru bermunculan. Tetapi kemungkinan Liam dan Noel kembali bersama semakin terlihat seperti sesuatu yang mustahil.

Enam belas tahun bukan waktu yang sebentar. Dalam rentang tersebut, sebuah generasi tumbuh dewasa. Penggemar yang dulu mengenal WonderwallLive Forever atau Don’t Look Back in Anger ketika masih remaja kini telah menjadi orang tua. Sementara generasi baru menemukan lagu-lagu Oasis melalui streaming, YouTube, playlist digital, atau koleksi musik orang tua mereka. Maka ketika reuni dua bersaudara ini akhirnya terjadi, yang kembali bukan hanya sebuah band. Sebuah masa lalu ikut kembali.

Behind The Scene

Salah satu aspek paling menarik dari film ini justru terjadi sebelum Oasis memainkan konser pertamanya. Para pembuat film mendapatkan akses luar biasa terhadap proses rehearsal reunion. Namun bagaimana cara merekam dua bersaudara yang baru saja kembali bekerja bersama setelah 16 tahun bertikai?

Jawabannya cukup unik. Tim produksi menggunakan kamera yang disembunyikan di perangkat sound system selama sekitar enam minggu rehearsal. Kamera-kamera tersebut dibuat sedemikian rupa agar keberadaan kru tidak mengganggu proses persiapan band. Pendekatan ini menghasilkan footage yang terasa berbeda dari dokumentasi konser konvensional. Dan dari situ, chemistry Oasis perlahan terlihat kembali.

Skala produksi film kemudian membesar ketika kamera mengikuti rangkaian konser Oasis Live ’25. Sebanyak 13 konser direkam untuk kebutuhan film, menggunakan sekitar 20 kamera dengan sejumlah sinematografer yang memiliki pendekatan berbeda terhadap pertunjukan musik. Hasilnya bukan hanya footage Liam dan Noel di atas  panggung. Film juga menangkap atmosfer stadion, backstage, persiapan konser, hingga reaksi para penggemar. Pilihan tersebut membuat Don’t Look Back in Anger berada di antara dua bentuk: dokumenter musik dan film konser.

Ketika Musik Menjadi Bahasa Rekonsiliasi

Menariknya, film ini tidak terlalu sibuk mengorek kembali seluruh konflik Liam dan Noel. Pertengkaran mereka memang menjadi bagian penting dari sejarah Oasis, tetapi Don’t Look Back in Anger lebih tertarik melihat apa yang terjadi setelah semua itu. Dan pada akhirnya, musik kembali menjadi bahasa yang mereka pahami bersama. Rekonsiliasi Liam dan Noel tidak ditampilkan melalui satu adegan dramatis yang menjelaskan semuanya. Ia justru terlihat melalui hal-hal kecil yang sangat natural.

Meski Liam dan Noel menjadi pusat cerita, para fans mendapatkan ruang yang cukup besar dalam film ini. Karena reuni Oasis pada akhirnya bukan hanya cerita tentang dua bersaudara. Ini juga cerita tentang jutaan orang yang selama bertahun-tahun menunggu. Ada fans yang mengikuti Oasis sejak era Britpop. Ada yang baru mengenal mereka bertahun-tahun kemudian. Ada yang membawa kenangan masa muda ke konser, sementara generasi baru menemukan pengalaman Oasis mereka sendiri. Dengan menghadirkan mereka, hal ini makin memperluas ceritanya.

Sebagai film musik, Oasis: Don’t Look Back in Anger berhasil karena memahami bahwa penonton tidak hanya ingin melihat Oasis bermain. Mereka ingin melihat bagaimana Oasis bisa kembali menjadi Oasis. Footage rehearsal yang diperoleh dengan pendekatan produksi yang tidak biasa, rekaman dari 13 konser, materi backstage, wawancara, serta kisah para penggemar dirangkai menjadi dokumenter yang lebih emosional daripada investigatif.

Memang, pendekatan sentimental film ini mungkin terasa terlalu aman bagi sebagian penonton. Film ini tidak secara agresif membongkar kembali konflik Liam dan Noel, maupun memberikan analisis panjang mengenai sejarah dan pengaruh Oasis terhadap musik populer. Karena Don’t Look Back in Anger tidak dibuat untuk mengulang kembali cerita tentang bagaimana Oasis berakhir.

Film ini dibuat untuk memperlihatkan apa yang terjadi ketika mereka kembali ke panggung.

Foto-foto: Dok . Disney Studios

Visited 14 times, 1 visit(s) today
Close Search Window
Close