Written by 4:24 pm Uncategorized

Kepalsuan dan Kejujuran Dolly Parton

Kamu harus pergi dari tempat asalmu kalau mau maju, tapi jangan pernah lupa dari mana kamu berasal, karena di situlah kekuatanmu berpijak

kamarmusik.id Saat membicarakan Dolly Parton, yang langsung terbayang di kepala ini cuma satu: perempuan berambut pirang “super” mengembang, berbaju blink-blink penuh manik-manik, Dan senyum lebarnya saat bercanda soal penampilannya sendiri.

Ya, dunia kadung mengenalnya sebagai paket komplet seorang penghibur, ratu pop-country yang ramah, bahkan tante baik hati yang hobi bagi-bagi buku gratis ke anak-anak kecil lewat yayasannya.

Tapi, ada hal yang sering terlewat dari mata banyak orang. Di balik semua dekorasi panggung yang meriah dan mencolok mata, Dolly sebenarnya menyimpan lemari besi yang terkunci rapat. Isinya bukan hanya piala dan penghargaan yang sukses diraih, tapi setumpuk draf lagu tentang luka masa kecil yang dialaminya di tengah kemiskinan, rasa sakit yang dipendam, dan cara bertahan hidup di industri hiburan yang kejam.

Ya, perempuan bernama tengah Rebecca ini memang punya sisi kehidupan yang jarang dibicarakan. Semua disembunyikannya di balik balik lagu-lagu riang. Dan itu salah satu alasan, kenapa pecinta musik hari ini yang hari-harinya sudah dibuat puyeng sama urusan media sosial dan tekanan hidup, perlu mendengarkan karya-karyanya.

***

Buat ngerti siapa sebenarnya Dolly Parton, kita harus paham dulu cara dia bermain dengan citranya. Dolly pernah bikin kalimat yang paling jujur soal penampilannya, “Butuh biaya yang nggak sedikit buat keliatan semurah ini.”

Itu bukan sekadar candaan buat mencairkan suasana di acara TV. Itu sebenarnya adalah bentuk perlawanan yang cerdas. Lahir sebagai anak keempat dari dua belas bersaudara pada keluarga petani miskin yang belum mengenal listrik di Pegunungan Great Smoky, Dolly belajar satu hal pahit sejak kecil: orang miskin itu nggak bakal didengar suaranya, kecuali mereka bisa menghibur atau bikin orang kasihan.

Dan, Dolly menolak dikasihani. Pilihan yang tersisa hanyalah menghibur. Dia menjalaninya dengan satu keistimewaan, Dolly memegang kendali penuh atas narasinya.

Dia sengaja berdandan ala cewek-cewek kota kecil yang sering dicap norak sama kaum had: rambut palsu raksasa, make-up tebal, baju ketat berkilau. Semuanya adalah hal-hal yang ingin ditertawakan sama orang-orang kota. Yang nggak banyak orang tahu, di balik senyum lebarnya, otaknya terus berputar menyusun strategi.

Lewat topeng buatan itu, Dolly bebas melenggang ke mana-mana tanpa ada satu pun orang yang bener-bener tahu rapuhnya isi hatinya. Rambut palsunya jadi benteng, suaranya yang melengking manis jadi pengalih perhatian. Dan, dia berhasil menipu semua orang, hingga ajal menjemputnya di bulan Agustus 2026 silam.

***

Banyak yang cuma dengerin lagu-lagu Dolly sepintasan. Apalagi, musiknya juga nggak terlalu hype di Asia.  Padahal, kalau kita bedah ribuan lagu yang dia tulis, isinya banyak yang nggak seceria penampilannya.

Coba dengar “Coat of Many Colors” yang dirilis 1971. Banyak yang menganggap lagu manis ini bicara soal kehangatan keluarga pas lagi di masa sulit. Di liriknya, Dolly bercerita bagaimana ibunya menjahit mantel dari sisa kain perca warna-warni, terinspirasi dari kisah Alkitab soal Nabi Yusuf. Sungguh sebuah cerita yang manis. Tapi kalau didengar pelan-pelan, lagu ini sebenarnya bercerita soal perisakan di sekolah. Waktu kecil, Dolly dengan bangga memakai mantel itu ke sekolah, tapi anak-anak lain malah menertawakan dan mencemoohnya karena dianggap jelek. Dolly menyanyikan kisah itu dengan nada tegar, tapi di baliknya ada pesan tegas: harga diri manusia nggak diukur dari mahalnya baju yang dia pakai.

Lantas, lagu “Jolene” rilisan 1973. Sebuah lagu tentang istri yang ketakutan suaminya direbut cewek lain yang lebih cantik. Padahal, esensinya jauh lebih dalam dari itu. Lagu ini adalah potret jujur tentang rasa insecure, rasa takut kalau dirinya nggak cukup baik, nggak cukup cantik, dan gampang dibuang begitu saja. Suara Dolly di lagu itu terdengar bukan cuma cemburu, tapi lebih mirip orang yang lagi minta tolong.

Dolly juga menulis lagu kayak “In the Good Old Days”, di mana dia blak-blakan bilang kalau masa kecilnya di gunung itu nggak seindah gambar-gambar di kartu pos. Nggak ada tuh yang namanya romantisme kemiskinan, yang ada adalah perjuangan berat mencari sekerat roti untuk makan besok pagi.

***

Di balik gayanya yang terlihat lugu, Dolly itu pengusaha yang amat lihai.  Waktu Elvis Presley mau menyanyikan ulang lagunya, “I Will Always Love You”, manajer Elvis sempat meminta setengah dari hak cipta lagu tersebut padanya.

Saat itu, musisi muda biasanya bakal langsung bilang oke. Selain merasa terhormat, mereka takut dimusuhi orang besar. Tapi, Dolly nggak begitu. Dengan senyum manis dan logat kampung yang kental, dia santai saja bilang ke manajer Elvis kalau lagu itu adalah tabungan buat masa depannya.

Das! Jawaban Dolly sempat dianggap blunder besar oleh banyak orang saat itu. Tapi, belasan tahun kemudian, dia membuktikan bahwa langkahnya tepat. Waktu Whitney Houston menyanyikan lagu itu di film The Bodyguard (1992), royaltinya mengalir deras banget. Sampai-sampai bikin Dolly bisa beli apa aja.

Dia memegang kontrol penuh atas karyanya sendiri, satu hal yang jarang banget bisa dilakuin oleh musisi perempuan di masanya. Khususnya musisi country.

***

Pertanyaannya, setelah meninggal dunia, apakah musik dan sosok Dolly Parton masih relevan dan layak didengarkan? Apa yang bikin anak-anak gen z, gen alpha, dan gen-gen yang mengikutinya perlu mendengarkan musiknya?

Ada satu hal yang justru sangat relevan dengan yang dialami banyak orang hari ini: kelelahan mental gara-gara tuntutan harus terlihat “sempurna” dan “orisinal”. Bukan di dunia nyata, tapi di medsos.

Bayangkan, generasi sekarang pasti capek banget harus pasang imej keren terus. Di kasus ini, Dolly ngasih contoh sebaliknya. Dia terang-terangan ngaku kalau penampilannya palsu, rambutnya palsu, tapi karya dan isi kepalanya 100 persen orisinal. Dia ngasih contoh, kelihatan artifisial di luar bukan berarti hati kita ikut busuk.

Dia juga memberi teladan soal bertahan hidup meski kondisinya berat. Di tengah tekanan ekonomi dan biaya hidup yang makin gila, lagu-lagu Dolly soal kerja keras dan harga diri jadi relevan lagi. Dia bisa jadi suara untuk orang-orang yang ngerasa tersisih oleh sistem yang terjadi hari ini.

Dan, Dolly adalah contoh nyata soal ngelawan tanpa harus ribut. Kita nggak perlu berteriak di media sosial buat nunjukin sikap. Dia justru membuktikan perlawanan lewat kerja nyata lebih efisien. Dia membangun komunitas, dan terus menjalankan prinsip hidupnya tanpa peduli omongan orang.

Kamu harus pergi dari tempat asalmu kalau mau maju, tapi jangan pernah lupa dari mana kamu berasal, karena di situlah kekuatanmu berpijak.” — Dolly Parton (*)

Penulis: Junior Eka Putro. Foto: Dolly Parton Official.

Visited 7 times, 1 visit(s) today
Close Search Window
Close