kamarmusik.id Di balik vokal khas Mick Jagger dan entakan drum Charlie Watts, inti dari nyawa The Rolling Stones terletak pada apa yang disebut oleh Keith Richards sendiri sebagai “the ancient art of weaving”. Seni kuno merajut gitar. Ini bukan tentang siapa yang menjadi guitar hero paling jago pamer kecepatan jari, melainkan bagaimana gitar berpadu tanpa saling merebut ruang. Menciptakan alur groove yang kotor, berbahaya, dan abadi.
Sepanjang lebih dari enam dekade perjalanan mereka, Keith Richards telah berbagi panggung dan studio dengan para gitaris brilian. Dan, untuk memahami bagaimana cetak biru suara band ini terbentuk, kita harus menelusuri perjalanan mereka. Dari sang pendiri yang berakhir tragis, hingga perdebatan abadi dua era gitaris legend yang mendefinisikan masa jaya dan masa pesta mereka.
***
Membicarakan riwayat gitar The Rolling Stones, bakalan pincang jika tidak menengok kembali sosok peletak batu pertama berdirinya band ini: Brian Jones. Jauh sebelum perdebatan mengenai siapa partner terbaik Keith Richards mengemuka, Brian Jones adalah otak musikal, pemberi nama, sekaligus pemimpin yang memantik kelahiran Rolling Stones pada tahun 1962.

Di masa awal kelahirannya, Stones adalah sekelompok anak muda Inggris yang terobsesi setengah mati pada musik blues khas Amerika. Brian Jones, seorang instrumentalis muda visioner yang mempelajari musik secara otodidak, adalah motor di balik obsesi tersebut.
Berbeda dengan Keith Richards -yang saat itu fokus mengulik pakem gitar ritme Chuck Berry- Brian memiliki wawasan musik yang sangat luas. Dia nggak sekadar memetik gitar, tapi jadi orang pertama yang memperkaya tekstur suara band dengan memasukkan instrumen-instrumen unik ke dalam musik rock. Coba kamu dengan slide guitar yang tajam, harmonika, petikan sitar di lagu “Paint It Black”, dulcimer dalam “Lady Jane”, hingga marimba.
Bisa dibilang, di tahun-tahun awal perjalanan band ini, 1962–1965, Brian Jones adalah guitar hero utama dalam band. Namun, kehadirannya memudar seiring makin produktifnya duo Mick Jagger dan Keith Richards menulis lagu orisinal. Peran komposer utama pun bergeser menjauhi Brian. Dan, di saat yang sama, jerat kecanduan narkoba dan gangguan mental membuat kontribusinya merosot drastis. Pada Juni 1969, ia resmi dipecat dari band, dan sebulan kemudian ditemukan tewas di kolam renangnya pada 3 Juli 1969 dalam usia 27 tahun.
Kendati era keemasan komersial Stones baru meledak setelah kepergiannya, fondasi kultural dan keberanian eksperimental band ini selamanya dibangun di atas pundak Brian Jones.
***
Hilangnya Brian memaksa Stones mencari penyelamat musikal. Di saat seperti inilah muncul Mick Taylor, pemuda pendiam berusia 20 tahun jebolan band John Mayall & the Bluesbreakers. Nggak seperti Brian, Mick membawa teknik bermain gitar berstandar tinggi dengan sentuhan blues-jazz yang bersih. Sangat melodius dan….. mematikan.
Masuknya Mick mengubah total cetak biru sound yang mereka mainkan. Jika Keith bermain dengan gaya ritme yang liar, kehadiran Mick memaksanya naik level. Gitaris ini nggak datang untuk sekadar menimpa ritme Keith. Dia melengkapinya dengan racun yang sama tajamnya.

Coba deh kamu dengar bagaimana komposisi lagu “Midnight Rambler” versi live di album Get Yer Ya-Ya’s Out! (1970). Belum lagi kejeniusan struktural dalam “Can’t You Hear Me Knocking” (1971). Keith memegang fondasi open-G tuning yang kotor, sementara Mick melayang di atasnya dengan melodi slide gitar yang menangis dan penuh emosi. Sungguh sebuah mahakarya!
Secara teknis, era ini melahirkan tetralogi album paling sakral dalam sejarah the Stones: Let It Bleed (1969), Sticky Fingers (1971), Exile on Main St (1972), dan Goats Head Soup (1973). Di bawah duet Keith dan Mick, The Rolling Stones menjelma jadi entitas seni tingkat tinggi yang membuat para kritikus bertekuk lutut. Sayangnya, pernikahan musikal ini kandas dan Taylor mengundurkan diri pada 1974.
***
Mundurnya Mick membuat band berkutat pada pencarian panjang. Akhirnya, the Rolling Stones memilih Ronnie Wood, mantan gitaris The Faces, sebagai suksesornya. Uniknya, kalau Mick dikenal sebagai seniman akademik yang serius, Ronnie punya karakter yang beda jauh. Dia lebih cocok jadi sahabat yang seru buat diajak nenggak wiski di atas panggung.

Karakter permainan Ronnie juga jauh berbeda dari Mick. Ronnie adalah tipikal gitaris party-rock yang bermain dengan gaya longgar, kasar, dan terkadang berantakan (sloppy). Tapi, dia punya energi visual yang luar biasa. Bersama Ronnie, Keith Richards bermain dalam satu frekuensi: keduanya adalah penyuka riff blues grass roots yang simpel, namun bisa bikin dada sesak.
Ronnie Wood jelas menyelamatkan The Rolling Stones dari potensi bubar. Gitaris berambut hitam ini bahkan sukses mentransformasikan band menjadi monster stadium rock di era modern.
Saat barisan tur raksasa dunia mulai populer pada dekade 80-an, Ronnie Wood adalah roda penggerak yang membuat mesin pesta band terus hidup. Hingga hari ini!
Hubungan Mick dan Keith yang kerap tegang bahkan teredam oleh kehadiran Ronnie yang santai. Meskipun secara teknis improvisasinya berada di bawah Mick Taylor, Ronnie sukses memberikan kestabilan dan napas panjang yang membuat band ini terus bertahan hingga usia senja.
***
Kalau ditanya, siapa teman duet terbaik Keith Richards? Jawabannya tergantung pada bagaimana kita mendefinisikannya.

Jika ukurannya adalah pencapaian artistik, kompleksitas komposisi, dan kematangan musikal di studio, maka Mick Taylor adalah pemenangnya. Dalam rentang lima tahun bersama gitaris ini, Stones merilis mahakarya abadi yang menghasilkan harmoni gitar kembar paling mematikan dalam sejarah rock.
Namun, jika kamu memilih untuk melihat daya tahan hidup, solidnya aksi panggung, dan kemampuan menjaga band tetap utuh selama setengah abad, maka Ronnie Wood adalah jawabannya. Ronnie memberikan kegembiraan dan energi yang memastikan legenda rock and roll ini nggak pernah kehabisan tenaga saat manggung.
Brian Jones meletakkan batu pertama, Mick Taylor mendorong band memaksimalkan potensi mereka di musik, dan Ronnie Wood memastikan pestanya nggak pernah berhenti. Ketiganya bukan sekadar gitaris. Masing-masing membawa babak penting dari evolusi the Rolling Stones, The Greatest Rock and Roll Band in the World. (*)
Foto image: IG The Rolling Stones Official