kamarmusik.id. Bulan ini album Rollies Live Show – TIM 2 & 3 Oct. 1976 tepat berusia setengah abad. Menarik bahwa produksi label Hidayat dengan nomor katalog 2-5010 ini bukan hanya merupakan puncak kematangan musikal The Rollies, tetapi juga sebagai salah satu tonggak awal album live rock Indonesia. Perlu diingat bahwa album ini dibuat ketika teknologi rekaman Indonesia masih sangat jauh dari standar studio rekaman Barat.
The Rollies ketika itu menampilkan salah satu formasinya paling sangar: Bangun Sugito (vokal), Delly Joko Arifin (keyboard/vokal), Bonny Nurdaya (gitar/vkcal), Oetje F. Tekol (bass), Jimmy Manopo (drum), Benny Likumahuwa (trombon, saksofon, flute, vokal), T. Iskandar Madian (tenor saxophone/vokal) dan Didiet Maruto (trumpet/vokal latar).
Masa Transisi

Formasi ini sekaligus menjadi ujian bagi mereka setelah ditinggalkan dua personel penting: Deddy Stanzah (bass/vokal) dan Iwan Krisnawan (drum). Gito kemudian menjadi pusat energi pertunjukan dan personel lainnya membawa musik The Rollies menuju era baru yang lebih matang dan berorientasi ke ensemble.
Untuk dapat menangkap esensi sejarah album ini, tinggalkan dulu standar “hi-fi” modern. Bayangkan bagaimana teknisi dan musisi pada 1976 mampu mengubah pertunjukan panggung yang kompleks menjadi dokumen audio yang masih bisa didengar lebih dari setengah abad kemudian. Secara teknologi, merekam konser mereka bukan persoalan mudah. Sound engineer harus menghadapi tantangan instrument drum, bass, gitar, keyboard, vokal, rumpet, trombone, saxophone, sekaligus suara penonton dan akustik gedung.
Jadi, album produksi Hidayat ini mendokumentasikan keterbatasan teknologi saat itu, seperti separasi instrumen yang tidak setajam teknologi digital, bass yang tidak bulat atau cymbal yang terdengar kasar. Namun pada saat yang sama keterbatasan tersebut justru membawa imajinasi kita seperti hadir secara langsung.
Selain menampilkan karya sendiri seperti “Tiada Kusangka”, “Salam Terakhir” , “Setangkai Bunga” dan solo drum Jimmy Manoppo, album Rollies Live Show – TIM 2 & 3 Oct. 1976 berisi versi cover “Free” (Chicago), “It’s A Man’s World” (James Brown), “King Arthur” (Rick Wakeman), “You’re Still a Young Man” (Tower of Power) serta “Gone Are the Songs of Yesterday”.
Secara musikal susunan di atas bukanlah repertoear yang aman. The Rollies sepertinya sadar betul tengah memasuki sebuah medan kreatif dengan tingkat kesulitan tinggi. Dengarkan “Free” yang mengetengahkan persilangan rock rhythm section dan horn section dalam balutan aransemen jazz. Elemen brass dalam konsep The Rollies bukan lagi hanya sebagai riff melainkan sebuah truktur. Dan, Benny Likumahuwa berada di balik semua pencapaian aransemen.
Di samping penguasaan skill, personel The Rollies juga terlihat mengikuti perkembangan musik Amerika secara intens. Ini terasa pada pemilihan “You’re Still a Young Man”” yang memperlihatkan mereka tengah memasuki wilayah funk. Tower of Power bukan sekadar band soul. Mereka adalah salah satu kelompok funk yang sangat mengandalkan presisi ritem. Sementara “King Arthur” memperlihatkan keberanian The Rollies untuk memainkan genre proggresif rock.
Sekali lagi, harus dilihat bahwa semua peristiwa di atas berlangsung pada 1976.
Relasi Artistik

Bagaimana label Hidayat yang produksinya lebih berfokus pada musik tradisional Sunda dan jazz dapat mendokumentasikan konser The Rollies?
Bill Firmansyah, pemilik label asal Bandung tersebut, sudah lama berada di lingkungan The Rollies. Pintu masuknya adalah Benny Likumahuwa yang sebelumnya sudah sering terlibat dalam serangkaian rekaman Hidayat. Salah satunya adalah album Api Asmana dari Djamain yang dirilis 1975 nomor katalog 1-1007. Benny Lukumahuwa sosok yang telah lama berada di lingkaran Jack Lesmana yang beberapa karyanya dirilis oleh Hidayat. Benny mata rantai terpenting kelahiran album Rollies Live Show – TIM 2 & 3 Oct. 1976.
Mengapa album ini penting dalam kaitannya dengan sejarah teknologi rekaman Indonesia?
Hidayat bukan sekadar membuat album studio, tetapi berhasil mengabadikan kemampuan sebuah band ketika berada di atas panggung. Oleh karena itu kurang tepat jika kita mencari kesempurnaan audiophile. Album ini bukan untuk mempertanyakan mengapa dentum dawai bass tidak sedalam rekaman modern atau separasi brass section terdengar kurang terstruktur.
Pertanyaannya justru bagaimana tim Hidayat bisa menangkap delapan musisi dengan karakter instrumen yang sangat kompleks dalam sebuah pertunjukan live pada 1976?
Album Rollies Live Show TIM 2 & 3 Oct. 1976 harus ditempatkan pada perspektif salah satu rekaman paling penting dalam sejarah rock Indonesia, sekaligus memperlihatkan bahwa Rollies pada 1976 sudah berada jauh di depan dalam hal definisi “band rock Indonesia”. (*)