Kamarmusik.id. Lupakan layar ponsel, tinggalkan YouTube, lalu bayangkan ketika senja jatuh di Kota Bandung pada dekade 1970-an. Jalan Braga belum menjadi medan swafoto seperti sekarang, tapi lebih merupakan ruang pertemuan romantisme: toko-toko, restoran, seniman, mahasiswa, turis, anak muda, dan orang-orang yang sekadar ingin menikmati keindahan sore.
Di pertigaan antara jalan Braga dengan jalan Naripan, tidak jauh dari apotek A. Kasoem, di antara lalu lalang pejalan kaki, seorang lelaki tuna netra tengah memainkan kecapi. Namanya Supeno, biasa dipanggil Mang Peno. Namun penduduk Bandung lebih mengenalnya dengan panggilan keren Braga Stone.
Seseorang menuliskan kenangannya dalam tulisan Mengenang Braga Stone Di Jalan Braga Bandung yang dimuat senyum-itb. Blogspot.
“Ketika di Bandung tahun 1980-an saya sempat terpana dan selalu betah menyaksikan Braga Stone alias Supeno ini.”
Mengutip Majalah Mutiara edisi 26 Februari 1986, nama Braga Stone tersebut diberikan oleh mahasiswa ITB angkatan 1973–1974 yang sering melewati tempat Supeno mangkal. Mereka memanggilnya, “Halo, Braga Stone!”
Jadi, julukan “Braga Stone” bukan nama panggung yang ia ciptakan sendiri, melainkan lahir secara organik dari komunitas anak muda Bandung, kota yang memang dikenal sangat Rolling Stones.
Sebuah sumber menyebutkan bahwa ‘panggung’ pertamanya datang dari seorang mahasiswa ITB jurusan Elektro, sekitar 1974. Untuk pertunjukan itu ia memperoleh honor Rp1.350 – jumlah yang terbilang besar. Sebagai perbandingan: harga majalah Aktuil kala itu sekitar Rp150.
“Saya sempat dibeliin Sepatu sama dia,” kata Supeno seperti dikutip dalam tulisan Budi Warsito (budiwarsito.net)
Terobosan Radikal
Apa yang membuatnya unik adalah caranya memperlakukan instrument kecapi siter. Buku Kacapi Sunda terbitan Pustaka Wisata Budaya menjelaskan bahwa ia menggunakan kacapi siter dengan tangga nada yang diubah menjadi diatonik, sehingga memungkinkan baginya untuk memainkan lagu pop Indonesia bahkan lagu Barat. Mulai The Beatles, Bob Dylan sampai The Rolling Stones.
Pada titik ini Supeno telah berhasil melakukan terobosan radikal. Dalam lanskap musik Bandung era 1970-an, ia mampu mengubah Braga menjadi ruang pertunjukan. Supeno menerjemahkan lagu-lagu yang lahir dari gitar elektrik, drum, bass, dan amplifier ke instrumen petik tradisional. Ia seharusnya disebut sebagai eksperimentalis jalanan yang layak menempati sejarah musik hibrida Indonesia.
Hasil eksperimen Supeno menjadikan ruas jalan Braga menjadi bertambah semarak. Pengunjung toko atau para pejalan kaki dapat memintanya untuk memainkan sebuah lagu dengan imbalan sejumlah uang. Entah itu “Yesterday” atau “Michele” dari The Beatles atau “Angie” dan “Lady Jane”-nya The Rolling Stones.
Mereka yang tertarik menyaksikan kepiawaiannya tidak sebatas orang Bandung, tetapi juga turis asing. Engkus Irawan, warga yang rajin ‘ngongkrongin konser’ Supeno, menceritakan bahwa di antara turis asing itu ada yang menghadiahkan seperangkat sound system sehingga denting kecapinya terdengar lebih jernih.
“Supeno pun menjadi lebih percaya diri,” katanya.
“Saya ingat waktu kecil sering diajak ayah saya nonton Braga Stone,” kenang Alvin Yunata, gitaris Teenage Death Star.
Menembus Dunia Rekaman

Pada 1977, grup Bimbo disebut pernah mengajak Braga Stone mengisi intro dan interlude lagu “Sendiri” karya Titiek Puspa. Petikannya terdengar lirih. Kolaborasi tersebut membawa Supeno tampil di TVRI.
Setahun kemudian nama Supeno semakin fenomenal ketika Yess Records merilis Baru rekaman kaset berjudul Kecapi in Pop. Repertoarnya berisi lagu-lagu Barat dan Indonesia seperti “Blowin’ in the Wind”, “Ob-La-Di, Ob-La-Da”, “Anna” atau “Widuri”.
Bayangkan, musisi jalanan itu memainkan karya Bob Dylan dengan kecapi Sunda. Absurd sekaligus indah. Seorang pemain kecapi jalanan masuk ke lingkungan label yang dikenal karena musik-musik progresif dan eksperimental. Kini kaset tanpa nomor seri itu menjadi buruan super langka.
Beberapa waktu lalu saya memnyempatkan memutar ulang kaset yang dibeli dari seorang pedagang puluhan tahun lalu. Suaranya masih jernih. Kualitas audio Yess Records sepertinya hanya bisa disaingi oleh produk label Hidayat.
Terobosan ini menarik perhatian Pancoro Rahartono untuk menjadikan inovasi Supeno terhadap kecapi Sunda sebagai objek skripsi di Institut Seni Indonesia Yogyakarta (1996). Karya tersebut secara khusus membahas perkembangan, bentuk, fungsi, teknik permainan, dan penggunaan tangga nada dalam reformasi kecapi yang dilakukan Supeno. Ia mengubah kemungkinan sebuah instrumen.
Ketika generasi muda melakukan terobosan di di era sampling, remix, mash-up, dan kolaborasi lintas genre, Supeno sudah melakukannya puluhan tahun sebelumnya. Dan, Braga adalah studionya.
Supeno bukan “pengamen” sembarangan seperti yang hidup dalam ingatan anak muda sekarang, yang berpindah dari satu kendaraan ke kendaraan lain. Ia memiliki jadwal ‘ngantor’ tetap: pukul 08.00–13.00 kemudian kembali bermain pukul17.00–21.00
Siapa Supeno Alias Braga Stone?

Dari sejumlah literasi, Supeno disebut sebagai musisi tunanetra asal Medan, Sumatera Utara, yang kemudian hidup dan berkiprah di Bandung. Ayahnya disebut berdarah Pasundan dan ibunya keturunan Jawa. Sebuah sumber menyebutkan ia tunanetra sejak lahir.
Menurut catatan Bambang Aroengbinang, Supeno meninggal pada 15 Juni 1997 dalam usia 49 tahun, setelah tampil di Shanghai bersama Bonnie Rollies.
Ya, dalam perjalanannya, ‘panggung’ Supeno tidak hanya Bandung, khususnya jalan Braga, tetapi sudah melebar ke luar kota seperti Yogyakarta, Bogor, Solo, Jakarta, Sukabumi termasuk kota di Sumatera dan Kalimantan.
Sangat ikonik dan menjadi destinasi wajib, jalan Braga dulunya dikenal sebagai Karren Weg atau Pedati Weg karena hanya bisa dilalui oleh pedati kopi. Karena suasananya masih rawan, dikenal juga sebagai jalan culik.
Setelah Pieter Sijthoff menjadi Asisten Residen Bandung, ia pun mendirikan kelompok tonil (teater) bernama Braga Weg pada 1882.
Masuk awal abad ke-20, kawasan ini bermetafora menjadi pusat belanja dan hiburan mewah bagi kaum kolonial serta pengusaha the. Sehingga dijuluki sebagai De meest Eropeesche winkelstraat van Indie (komplek pertokoan Eropa paling terkemuka di Hindia Belanda) yang membuat Bandung terkenal dengan gaya hidup kosmopolitan. Dihiasi butik pakaian Paris, restoran elit, bar, hingga bioskop terkenal seperti Maison Bogaert dan Cafe De Vries – sekarang berganti nama menjadi Braga Permai.
Supeno adalah bagian dari ikon tersebut. Namanya diabadikan dalam Wall the Legend bersama Pieter Sijthoff sebagai pemberi nama Braga dan Ateng Wahyudi, mantan Wali Kota Bandung (*)
Foto image: Dok. Buyunk Aktuil