Written by • 6:53 pm• Feature

Kisah Bharata Band, “The Beatles-nya Indonesia”

Pernahkah membayangkan sebuah band yang begitu identik dengan idolanya, dan ketika mereka mencoba babak baru lewat karya sendiri, para penggemar justru menolaknya mentah-mentah?

kamarmusi.id Langkah awal kelompok ini bermula pada tahun 1963, nyaris bersamaan dengan munculnya Koes Bersaudara yang kelak bertransformasi menjadi Koes Plus. Nama Bharata sendiri diambil sebagai akronim dari para pendirinya, yaitu Bambang Herwidie pada drum, Hari Putranto atau Hari Bharata pada bass dan vokal, A. Suharlie pada gitar (yang saat ini dikenal sebagai pemilik biro perjalanan umroh Al Amin Universal), serta Tato Bharata pada gitar ritme dan vokal.

Perlu dicatat pula, Tato Bharata adalah sosok ayah dari mendiang Tommy Pratama (promotor musik kenamaan di balik bendera Original Production yang sukses mendatangkan band-band raksasa dunia seperti Scorpions, Deep Purple, Iron Maiden, Bon Jovi, hingga Toto ke Indonesia), Yudha (musisi yang pernah tergabung di Romeo, Bima, dan sejumlah band lainnya), dan Donny (wartawan majalah remaja HAI).

Namun, fase awal perjalanan mereka diwarnai ujian berat yang menguji mental. Pada dekade 1960-an hingga pertengahan masa itu, rezim di Indonesia menerapkan kebijakan ketat yang melarang peredaran maupun pertunjukan musik berbau kebarat-baratan, yang pada masa itu dicap sebagai musik ngak ngik ngok. Seperti halnya para perintis sezamannya, para personel Bharata Band bahkan sempat merasakan getirnya hidup di balik jeruji besi akibat kecintaan mereka pada estetika musik rock barat. Situasi politik yang tidak menentu serta kesibukan personal akhirnya memaksa Bharata Band vakum dari panggung pertunjukan sejak tahun 1967.

Hari Bharata (bass, vokal), Jelly Tobing (drum, vokal), Tato Bharata (gitar, vokal), Abadi Soesman (piano, vokal).

Bangkit dan Merajai Pentas

Setelah belasan tahun tertidur lelap, kebangkitan yang paling dinanti akhirnya tiba pada 11 Juli 1984. Bharata Band muncul kembali setelah vakum dalam sebuah event bertajuk “14 Tahun Matinya The Beatles” yang dihelat di Taman Ismail Marzuki (TIM). Acara ini diinisiasi oleh Yapto Soelistyo Soerjosoemarno selaku Ketua Umum Pemuda Pancasila bersama Sys NS yang merupakan penyiar legendaris dari Radio Prambors.

Di titik inilah formasi Bharata Band mengalami perombakan penting dengan masuknya dua nama besar industri musik Indonesia untuk mengisi posisi awal yang kosong. Jelly Tobing masuk mengisi posisi drum, menggantikan Bambang Herwidie. Jelly adalah seorang maestro penabuh drum rock legendaris yang sempat malang melintang di berbagai band besar seperti The Rollies, Superkid, Lipstick, hingga sempat mengisi formasi Koes Plus. Nggak tanggung-tanggung, ayah dari penabuh drum handal Ikmal Tobing ini juga tercatat dua kali memecahkan rekor MURI sebagai penabuh drum terlama di Indonesia, yakni 8 jam di Drive-In Ancol pada tahun 1988 dan 10 jam di Stadion Persija Menteng pada tahun 1992.

Sementara itu, posisi gitar yang sebelumnya diisi oleh A. Suharlie digantikan oleh Abadi Soesman, seorang musisi serba bisa yang menguasai pop, jazz, blues, rock, hingga dangdut. Abadi pernah memperkuat The Pros, The Eternals, Giant Guruh Gipsy, hingga band dangdut Tarantula pimpinan Reynold Panggabean, dan kemudian dikenal luas mengisi posisi keyboard di God Bless serta turut meracik album kedua God Bless bertajuk Cermin pada tahun 1980. Adapun dua personel pendiri lainnya—Hari Putranto atau Hari Bharata pada bass dan vokal, serta Tato Bharata pada gitar ritme dan vokal—tetap bertahan.

Aksi panggung yang memukau di TIM pada tahun 1984 tersebut langsung mendatangkan applause luar biasa dan melekatkan julukan abadi sebagai The Beatles-nya Indonesia. Di awal hingga pertengahan tahun 1980-an, gelombang Beatlemania benar-benar melanda Jakarta dan Indonesia karena kehadiran Bharata Band. Setiap event yang menampilkan mereka pasti dipenuhi lautan penonton dengan sambutan histeris yang luar biasa di setiap konsernya. Saking histerisnya penonton, dua tempat gelaran event utama di Jakarta pada masa itu—Balai Sidang Senayan Jakarta (sekarang JCC) dan Taman Impian Jaya Ancol—bahkan sempat melarang penyelenggaraan event yang menampilkan Bharata Band demi keamanan.

Bahkan, di masa kejayaan mereka, tidak ada satu pun band lokal yang berani bersaing atau sepanggung. Setiap band yang dijadwalkan sepanggung dengan Bharata Band pasti menolak ditaruh di pengujung acara, karena konsekuensinya mereka akan mendapati penonton langsung pulang berhamburan begitu merasa puas setelah menyaksikan penampilan Bharata Band. Reputasi sebagai magnet massa ini juga menjadikan Bharata Band tercatat sebagai salah satu band dengan bayaran termahal di Indonesia pada masanya; dalam sebuah event bertajuk Bharata Band with Orchestra di Balai Sidang Senayan pada tahun 1987, bayaran mereka bahkan menembus angka fantastis mencapai 9 digit.

Reputasi mereka pun menembus batas negara. Bharata Band pernah mendapat apresiasi khusus dari seorang bule asal Inggris ketika mereka tampil all out membawakan lagu-lagu The Beatles di Captain’s Bar, Hotel Mandarin Jakarta. Usut punya usut, bule tersebut berasal dari Kedutaan Besar Inggris yang kantornya terletak tidak jauh dari Hotel Mandarin, dan kebetulan memiliki kedekatan personal dengan Sir Paul McCartney. Ia kemudian menceritakan pengalaman luar biasa menyaksikan aksi Bharata Band kepada Paul melalui sebuah surat. Di luar dugaan, Sir Paul merespon surat tersebut dengan memberikan umpan balik (feedback) berupa apresiasi hangat, menyatakan kekagumannya bahwa di sebuah negeri yang begitu jauh dari Britania Raya, terdapat sebuah kelompok musik yang mampu merepresentasikan The Beatles dengan sangat baik.

Album yang Gagal

Popularitas Bharata Band pada dekade 1980-an hingga awal 1990-an tidak hanya berkobar di dalam negeri. Gelombang Beatlemania ala Bharata turut merambah negara tetangga, di mana mereka kerap diundang khusus untuk mengisi berbagai acara Beatles Mania di Malaysia dan Singapura, membuktikan betapa presisinya kemampuan mereka dalam mereplikasi harmoni vokal John Lennon, Paul McCartney, George Harrison, dan Ringo Starr di atas panggung.

Namun, di balik kesuksesan besar tersebut, tersimpan sebuah ironi yang menguji idealisme mereka sebagai seniman. Dalam perjalanannya, Bharata Band sempat mencoba keluar dari zona nyaman dengan merilis album bertajuk Kawula Muda yang memuat 14 lagu, dengan nomor andalan berjudul sama. Sayangnya, penerimaan pencinta musik di Indonesia ternyata jauh dari harapan. Publik telanjur melekatkan identitas mutlak pada diri Bharata Band sebagai manifestasi The Beatles di tanah air. Akibatnya, para penggemar menolak keras ketika mereka mencoba membawakan materi orisinal atau lagu-lagu dari band lain, karena mereka hanya ingin melihat Bharata menghidupkan kembali roh Fab Four.

Hingga saat ini, band ini masih kerap mengisi panggung pertunjukan di Indonesia, meskipun format dan skala penampilannya telah jauh berbeda dibandingkan era keemasan mereka di tahun 1980-an hingga awal 1990-an. Panggung-panggung mereka hari ini murni bergerak di ranah kenangan, memori, nostalgia, serta ajang Tribute to The Beatles atau perayaan hari jadi sang legenda asal Liverpool. Meskipun kemeriahan dan jumlah penontonnya tidak lagi semasif dekade lampau, jejak Bharata Band, yang kini tinggal menyisakan Tato Bharata, tetap abadi sebagai monumen otentik yang mencatat bagaimana kecintaan tanpa batas mampu menghidupkan kembali kepingan sejarah musik dunia di bumi Nusantara. (*)

Penulis : Junior Eka Putro. Foto: Dok. Bharata Band

Visited 5 times, 1 visit(s) today
Close Search Window
↑
Close