Written by • 4:22 pm• Feature

Soundtrack Film Indonesia, Bukan Sekadar Musik Latar

Soundtrack film Indonesia pernah menjadi salah satu bagian terpenting dari budaya pop. Bukan hanya sebagai musik latar dalam sebuah produksi layar lebar, tapi jadi pertanda pengingat sebuah generasi.

Kamarmusik.id Ada masa ketika menonton film Indonesia hampir selalu diikuti oleh satu kebiasaan lain: mencari kaset soundtrack-nya. Hubungan antara film dan musik pada periode itu memang jauh lebih erat dibandingkan sekarang. Sebuah film yang berhasil di bioskop bisa melahirkan album yang beredar di toko kaset, lagu-lagunya diputar di radio, dinyanyikan ulang di berbagai kesempatan, bahkan kemudian lebih diingat daripada film yang melahirkannya.

Badai Pasti Berlalu, Soundtrack Sepanjang Masa

Pada era ketika pilihan hiburan belum sebanyak sekarang, soundtrack menjadi salah satu cara paling efektif untuk memperpanjang umur sebuah film di luar gedung bioskop. Fenomena tersebut sebenarnya sudah terlihat sejak akhir 1970-an ketika Badai Pasti Berlalu muncul. Film Teguh Karya yang dirilis pada 1977 itu menghasilkan sebuah album yang kemudian menempati posisi penting dalam sejarah musik pop Indonesia. Musiknya digarap Eros Djarot, dengan Chrisye dan Berlian Hutauruk sebagai vokalis serta Yockie Suryoprayogo yang menangani aransemen. Materi albumnya ditulis dalam waktu sekitar sebulan, sementara proses rekamannya berlangsung di studio Irama Mas, Pluit.

Yang menarik, sejak awal Eros tidak memperlakukan musik Badai Pasti Berlalu sebagai pekerjaan yang baru dimulai setelah film selesai. Dalam sebuah wawancara pada 2024, ia mengatakan bahwa dirinya ikut mengikuti proses syuting agar bisa memahami emosi yang sedang dibangun film tersebut. Pendekatan itu penting karena menjelaskan mengapa album ini terasa seperti satu kesatuan, bukan sekadar kumpulan lagu yang ditempatkan pada beberapa adegan.

Album tersebut kemudian melahirkan sejumlah lagu yang bertahan jauh melampaui usia filmnya, termasuk “Merpati Putih”, “Cintaku”, “Merepih Alam”, “Pelangi” dan “Badai Pasti Berlalu”. Bahkan ketika Rolling Stone Indonesiamenerbitkan daftar 150 Album Indonesia Terbaik pada 2007, Badai Pasti Berlalu ditempatkan di posisi teratas.

Di titik inilah Eros Djarot menjadi figur penting dalam sejarah soundtrack Indonesia. Ia memperlihatkan bahwa musik film dapat diperlakukan sebagai karya yang memiliki nilai artistik sendiri. Album tersebut tidak membutuhkan filmnya untuk tetap menarik. Ia bisa berdiri sebagai album pop yang utuh. Dan gagasan itu kemudian menemukan bentuk yang berbeda pada dekade berikutnya.

Romantisme Billy J. Budiarjo Dalam Film Indonesia

Memasuki 1980-an, industri musik Indonesia mengalami perkembangan yang membuat soundtrack mempunyai ruang yang semakin besar. Kaset menjadi medium utama, radio masih memiliki pengaruh besar, sementara film remaja berkembang menjadi salah satu produk budaya populer yang penting. Musik film pun mulai bergerak lebih dekat dengan industri pop. Nama Billy J. Budiarjo berada di tengah perkembangan tersebut.

Billy terlibat dalam sejumlah produksi musik film pada era itu, mulai dari Kulihat Cinta Di Matanya, Cinta Dibalik Noda, Kamus Cinta Sang Primadona, hingga film remaja Lupus termasuk Merpati Tak Pernah Ingkar Janji dan Anak-Anak Gass dalam Elegi Buat Nana. Pada Merpati Tak Pernah Ingkar Janji, soundtrack menjadi bagian penting dari atmosfer film yang dibintangi Paramitha Rusady dan Adi Bing Slamet. Selain membintangi filmnya, mereka berdua sekaligus membawakan lagu soundtracknya. Sementara dalam Elegi Buat Nana, musik kembali menjadi elemen yang memperkuat karakter drama remaja. Hingga mencetak hits “Ketulusan Hati” (Ryan Hidayat), “Janji Kita” (Nourma Yunita) dan “Tiada Lagi Keraguan” (Trie Utami).

Pendekatan seperti ini memperlihatkan perubahan fungsi soundtrack. Kalau Badai Pasti Berlalu lebih banyak dikenang sebagai sebuah album yang secara artistik berdiri sendiri, soundtrack film remaja 1980-an mulai mempunyai fungsi ganda: menghidupkan emosi cerita sekaligus menjadi produk musik yang bisa dipasarkan secara mandiri.

Pada masa itu, sebuah lagu dari film bisa berpindah medium dengan sangat mudah. Penonton mendengarnya di bioskop, kemudian menemukan lagunya di radio, membeli kasetnya, lalu memutarnya di rumah. Tidak ada streaming, tidak ada playlist personal, dan tidak ada algoritma yang menentukan lagu berikutnya. Album soundtrack menjadi pengalaman yang lebih utuh karena pendengar biasanya mengonsumsi keseluruhan album, bukan hanya satu lagu. Billy J. Budiarjo adalah salah satu nama yang ikut membentuk tradisi tersebut dan musisi paling produktif dalam menggarap album soundtrack di jaman itu.

Dodo Zakaria dan Suara Anak Muda Jakarta

Jika ada satu soundtrack yang memperlihatkan bagaimana musik film bisa menjadi bagian dari identitas gaya hidup, Catatan Si Boy adalah salah satu contoh paling jelas.

Film pertama Catatan Si Boy dirilis pada 1987 dan disutradarai Nasri Cheppy. Dodo Zakaria menangani musiknya. Album soundtrack Catatan Si Boy I kemudian dirilis pada tahun yang sama dengan sederet nama penyanyi yang sedang berada dalam orbit musik populer Indonesia, antara lain Ikang Fawzi, Dian Pramana Poetra, Dian Mayasari, Titi DJ, Achmad Albar, Neni Alfiani, Gideon Tengker dan Lydia Noorsaid.

Daftar lagunya sendiri memperlihatkan betapa kuatnya ekosistem musik pop Indonesia ketika itu. Ada “Catatan Si Boy”, “Cinta Itu Terbuka”, “Tapi Mungkinkah”, “Manakala”, “Sebuah Catatan”, “Kutaklukkan Dunia” dan “Pesta Pora”. Dodo Zakaria berperan sebagai produser sekaligus arranger, dengan dukungan sejumlah musisi penting seperti Ekki Soekarno, Oetje F. Tekol, Jopie Item dan Gideon Tengker.

Yang membuat Catatan Si Boy menarik bukan hanya kualitas lagu-lagunya, tetapi hubungan antara musik dengan dunia yang dibangun film. Boy adalah representasi anak muda Jakarta yang memiliki akses terhadap gaya hidup urban, mobil, pergaulan, pesta dan percintaan. Musik kemudian menjadi bagian dari konstruksi karakter tersebut.

Karena itu, ketika orang mendengar soundtrack Catatan Si Boy beberapa dekade kemudian, yang muncul bukan hanya ingatan terhadap Onky Alexander atau karakter Boy. Musiknya membawa pendengar kembali ke lanskap budaya anak muda Jakarta pada akhir 1980-an. Dodo Zakaria memahami bahwa soundtrack bisa menjadi lebih dari sekadar musik pengiring. Ia bisa menjadi bagian dari identitas sebuah film.

Elfa Secioria dan Fenomena Petualangan Sherina

Memasuki akhir 1990-an dan awal 2000-an, perfilman Indonesia berada di titik perubahan. Setelah periode yang panjang dan tidak mudah, muncul generasi pembuat film baru yang membawa energi berbeda. Salah satu film yang kemudian menjadi simbol kebangkitan itu adalah Petualangan Sherina.

Yang membuatnya semakin menarik adalah kenyataan bahwa film tersebut merupakan film musikal keluarga dengan pemeran utama seorang anak.Risikonya cukup besar. Musiknya bisa saja dibuat terlalu kekanak-kanakan dan hanya menarik bagi penonton seusia Sherina. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya, album soundtrack Petualangan Sherina menjadi fenomena.

Di sinilah peran Elfa Secioria sangat penting. Lagu-lagu dalam film tersebut diciptakan oleh Elfa Secioria dan Mira Lesmana, sementara Elfa juga menjadi penata musiknya. “Lihatlah Lebih Dekat”, “Jagoan”, “Bintang-Bintang” dan “Persahabatan” tidak diperlakukan seperti lagu anak biasa. Aransemen dan struktur musiknya membuat lagu-lagu tersebut bisa diterima oleh anak-anak sekaligus orang dewasa. Itulah salah satu hal yang membuat Petualangan Sherina berbeda. Soundtrack film anak ini justru mampu menembus batas usia pendengarnya.

Dua puluh tiga tahun setelah film pertama dirilis, ketika Yura Yunita merekam ulang “Lihatlah Lebih Dekat”, Mira Lesmana kembali menjelaskan bahwa lagu dan seluruh musik film tersebut merupakan karya Elfa Secioria dan dirinya. Lagu tersebut masih memiliki daya emosional yang kuat bagi generasi yang tumbuh bersama film itu.

Fenomena Petualangan Sherina juga memperlihatkan sesuatu yang sebelumnya sudah dibangun oleh generasi Eros Djarot, Billy J. Budiarjo dan Dodo Zakaria: soundtrack yang bagus tidak perlu membatasi dirinya pada fungsi film.

Soundtrack Kembali Menjadi Pusat Perhatian

Dua tahun setelah Petualangan Sherina, muncul Ada Apa Dengan Cinta?  (AADC) yang membawa hubungan film dan musik ke level yang berbeda. Melly Goeslaw dan Anto Hoed mengisi sebagian besar kebutuhan musikal film tersebut. Soundtrack-nya memuat “Ada Apa Dengan Cinta”, “Bimbang”, “Denting”, “Ku Bahagia”, “Suara Hati Seorang Kekasih”, “Ingin Mencintai dan Dicintai”, “Tentang Seseorang” dan sejumlah lagu lainnya. Kredit soundtrack menunjukkan dominasi Melly Goeslaw sebagai performer serta kolaborasinya dengan Anto Hoed dalam penulisan musik dan lirik.

Keberhasilan musik AADC tidak bisa dilepaskan dari karakter filmnya. Cinta dan Rangga bukan hanya membutuhkan dialog yang kuat, tetapi juga membutuhkan bahasa emosional yang bisa menghubungkan penonton dengan dunia mereka. Musik Melly dan Anto mengisi ruang tersebut. Di sini soundtrack mulai berfungsi seperti karakter tambahan.

Ia membantu menjelaskan perasaan tokoh ketika dialog tidak cukup. Ia memperkuat suasana adegan. Tetapi pada saat yang sama, lagu-lagunya juga bisa hidup di luar film. Formula tersebut kemudian semakin sering digunakan dalam film Indonesia era 2000-an. Soundtrack tidak lagi hanya menjadi bagian dari produksi film. Ia juga menjadi salah satu elemen pemasaran, materi promosi, single radio, video musik dan produk yang memperpanjang umur sebuah film.

Perjalanan itu kemudian berlanjut melalui sejumlah film populer pada dekade 2000-an, termasuk Eiffel I’m in Love, Heart, Ayat-Ayat Cinta, 30 Hari Mencari Cinta, 3 Hari Untuk Selamanya, Alexandria, Mengejar Matahari hingga film  Laskar Pelangi.

Laskar Pelangi menjadi contoh menarik karena musiknya mengambil fungsi yang berbeda lagi. Album soundtrack resminya dirilis Nidji pada 26 September 2008 melalui Musica Studio’s. Lagu “Laskar Pelangi” kemudian menjadi sangat identik dengan filmnya. Ia membawa tema tentang mimpi, pendidikan dan perjuangan yang menjadi inti cerita ke luar bioskop.

Di titik ini, perjalanan soundtrack Indonesia sudah berubah cukup jauh dibandingkan tiga dekade sebelumnya. Kalau pada era Eros Djarot musik film menjadi karya album yang berdiri sendiri, pada era Dodo Zakaria soundtrack menjadi bagian dari gaya hidup karakter. Elfa Secioria menunjukkan bahwa soundtrack film anak dapat menjadi fenomena lintas generasi, sementara Melly Goeslaw dan Anto Hoed membawa soundtrack kembali menjadi salah satu pusat perhatian dalam film populer.

Sejarah soundtrack Indonesia tentu tidak selesai hanya dengan lima nama tersebut. Namun Eros Djarot, Billy J. Budiarjo, Dodo Zakaria, Elfa Secioria, Melly Goeslaw dan Anto Hoed bisa dibaca sebagai bagian dari sebuah garis evolusi yang menarik. Mereka bekerja dalam zaman yang berbeda dan menghadapi teknologi yang berbeda, tetapi persoalan dasarnya tetap sama: bagaimana menerjemahkan cerita visual menjadi pengalaman musikal yang bisa dirasakan penonton.

Mungkin itu sebabnya beberapa soundtrack Indonesia tetap terdengar relevan puluhan tahun kemudian. Pada akhirnya, sebuah soundtrack yang berhasil bukan hanya membuat kita mengingat sebuah film. Tapi sekaligus membuat film tersebut menjadi bagian dari ingatan kita sendiri.

Penulis : Djoko Adnan. Foto: Dok. Pribadi

Visited 9 times, 1 visit(s) today
Close Search Window
↑
Close