kamarmusik.id Dalam film komedi romantis peranan soundtrack bukan sekadar musik latar. Ia bisa menjadi penanda sebuah zaman, membangun senyawa dua karakter, bahkan membuat satu adegan sederhana berubah menjadi momen yang kemudian terus diingat penonton. Dari jazz klasik, pop, alternative rock, soul sampai indie, sepuluh soundtrack berikut menunjukkan bagaimana musik bisa menjadi bagian penting dari cerita cinta di layar. Berikut adalah 10 Album soundtrack komedi romantis versi editor kami.
1. PRETTY WOMAN (1990)

Director: Garry Marshall
Original Score: James Newton Howard
Executive Soundtrack Producer: Ron Fair
Sulit membicarakan film komedi romantis tanpa menyebut Pretty Woman. Pertemuan Edward Lewis dan Vivian Ward mungkin merupakan fantasi Hollywood klasik, tetapi musik membuat fantasi itu terasa semakin hidup.
“Oh, Pretty Woman” milik Roy Orbison tentu menjadi lagu yang paling identik dengan film ini. Ditambah “It Must Have Been Love” dari Roxette, “Wild Women Do” dari Natalie Cole dan “King of Wishful Thinking” dari Go West, soundtrack-nya menjadi semacam kapsul waktu musik pop akhir 1980-an.
Menariknya, album soundtrack komersialnya justru tidak memasukkan original score James Newton Howard. Howard menangani musik latar film, sementara album soundtrack berisi lagu-lagu populer yang kemudian justru menjadi identitas musikal film tersebut.
Hasilnya adalah perpaduan glamorous, playful dan romantic—persis seperti filmnya.
2. WHEN HARRY MET SALLY… (1989)

Director: Rob Reiner
Original Score / Arrangements: Marc Shaiman
Album Producers: Harry Connick Jr. & Marc Shaiman
Kalau ada soundtrack yang membuktikan bahwa romantic comedy tidak selalu membutuhkan lagu pop besar, jawabannya adalah When Harry Met Sally….
Harry Connick Jr. membawa jazz dan standar klasik ke dalam dunia Harry dan Sally. Bersama arrangement Marc Shaiman, lagu-lagu seperti “It Had to Be You”, “Where or When” dan “But Not for Me” menciptakan atmosfer New York yang hangat dan sophisticated.
Connick Jr. bukan sekadar performer. Ia juga terlibat sebagai producer dan arranger dalam album tersebut. Musiknya terasa seperti percakapan lain yang tidak pernah diucapkan oleh kedua karakter utama. Lucunya, film ini terus mempertanyakan apakah laki-laki dan perempuan bisa benar-benar menjadi sahabat. Soundtrack-nya seperti diam-diam sudah mengetahui jawabannya.
3. 10 THINGS I HATE ABOUT YOU (1999)

Director: Gil Junger
Original Score: Richard Gibbs
Executive Music Producer: Ralph Sall
Kalau When Harry Met Sally… terdengar seperti jazz club Manhattan, 10 Things I Hate About You terdengar seperti playlist anak muda tahun 1999.
Letters to Cleo, Semisonic, The Cardigans, Save Ferris hingga Joan Armatrading membuat soundtrack ini terasa sangat representatif terhadap kultur musik akhir 1990-an.
Dan salah satu kekuatannya adalah keberanian film ini menggunakan musik sebagai bagian dari karakter. Kat bukan karakter remaja perempuan yang manis dan konvensional. Karena itu musiknya juga tidak terdengar terlalu manis. Enerjik, rebellious dan sedikit messy. Exactly like teenage love.
4. NOTTING HILL (1999)

Director: Roger Michell
Original Score: Trevor Jones
Ada sesuatu yang sangat romantis dari London dalam Notting Hill. William Thacker dan Anna Scott mungkin berasal dari dua dunia berbeda, tetapi soundtrack film ini membuat keduanya terasa seperti berada di dunia yang sama.
Lagu “She” versi Elvis Costello menjadi salah satu lagu paling memorable dari film ini. Sementara “When You Say Nothing at All” dari Ronan Keating memberikan warna pop-romantis yang kemudian sangat identik dengan era tersebut.
Musik di Notting Hill tidak terlalu berisik. Ia membiarkan kisah William dan Anna bernapas. Dan mungkin justru karena itu, romantismenya terasa lebih kuat.
5. SLEEPLESS IN SEATTLE (1993)

Director: Nora Ephron
Music / Original Score: Marc Shaiman
Music Supervisor: Marc Shaiman
Kalau ada film romantic comedy yang membuktikan bahwa dua orang bahkan bisa jatuh cinta sebelum benar-benar bertemu, Sleepless in Seattle adalah salah satunya.
Sam Baldwin dan Annie Reed berada di kota berbeda. Mereka bahkan belum saling mengenal. Tetapi sebuah siaran radio mempertemukan suara, cerita dan perasaan mereka.
Dan musik menjadi bahasa bersama. Dari lagu “As Time Goes By” hingga “A Kiss to Build a Dream On” milik Louis Armstrong, “Stardust” dari Nat King Cole, “Makin’ Whoopee” hingga “Make Someone Happy”, soundtrack film ini penuh dengan lagu-lagu klasik yang terasa seperti jembatan menuju Hollywood era lama.
Marc Shaiman, yang menangani original music sekaligus music supervision, memahami betul bahwa film ini membutuhkan musik yang timeless. Ia bahkan mengaransemen “An Affair to Remember”, film klasik yang menjadi referensi penting dalam cerita.
Yang menarik, Nora Ephron awalnya mendapat tekanan untuk menggunakan “When I Fall in Love” versi Celine Dion dan Clive Griffin pada adegan final. Namun Ephron memilih “Make Someone Happy” milik Jimmy Durante. Keputusan tersebut justru menjadi salah satu momen paling emosional dalam film.
Musiknya terasa seperti surat cinta untuk film-film romantis masa lalu. Dan seperti kisah Sam dan Annie, ia percaya bahwa beberapa pertemuan memang sudah ditakdirkan—meski kita belum tahu kapan dan di mana.
6. BRIDGET JONES’S DIARY (2001)

Director: Sharon Maguire
Music Supervisor: Nick Angel
Original Score: Patrick Doyle
Bridget Jones mungkin adalah salah satu karakter romantic comedy paling relatable yang pernah dibuat. Ia single, insecure, sering salah tingkah dan terlalu banyak berpikir tentang laki-laki. Dan soundtrack-nya mengikuti kekacauan itu.
Lagu “All by Myself” , “It’s Raining Men”, “Out of Reach” dan berbagai lagu pop lainnya terasa seperti isi kepala Bridget yang diterjemahkan menjadi musik. Performernya pun artis yang sedang ngetop di saat itu hingga artis kawakan dari Jamie O’Neal, Gabrielle, Geri Haliwell, Robbie Williams, Sherryl Crow hingga Chaka Khan dan Aretha Franklin
Nick Angel sebagai Music Supervisor membantu membangun dunia musikal film ini, sementara Patrick Doyle menggarap original score. Hasilnya adalah soundtrack yang terasa seperti musical diary seorang perempuan yang sedang berusaha mencari cinta—sambil belajar menerima dirinya sendiri.
7. HIGH FIDELITY (2000)

Director: Stephen Frears
Music Supervisor: Susan Jacobs
Original Score: Howard Shore
Kalau film-film lain dalam daftar ini menggunakan musik untuk mengiringi kisah cinta, High Fidelity menjadikan musik sebagai bagian dari identitas karakter.
Rob Gordon adalah pemilik toko musik yang lebih mudah membuat daftar “Top 5” daripada menyelesaikan masalah hubungannya sendiri. Dan soundtrack film ini terasa seperti koleksi vinyl milik seseorang yang benar-benar hidup melalui musik.
Pengisi soundtrack di film ini seperti The Kinks, The Beta Band, Stevie Wonder, Bob Dylan, Velvet Underground dan berbagai nama lainnya menciptakan sebuah musical landscape yang sangat personal.
High Fidelity bukan cuma film tentang relationship. Ini film tentang bagaimana manusia menggunakan musik untuk mengingat siapa dirinya.
8. GARDEN STATE (2004)

Director: Zach Braff
Music Supervisor: Amanda Scheer Demme
Executive Soundtrack Producer: Zach Braff
Ada alasan kenapa soundtrack Garden State begitu berpengaruh. Zach Braff tidak sekadar mencari lagu untuk mengisi film. Ia membangun soundtrack seperti sebuah mixtape pribadi. Mulai dari The Shins, Iron & Wine, Coldplay, Nick Drake dan berbagai musisi indie lainnya menciptakan atmosfer melankolis yang menjadi identitas film.
Braff bahkan membayangkan musik sebagai sesuatu yang sangat personal ketika mengembangkan film ini. Dan pilihan lagu-lagunya memang terasa seperti isi kepala seseorang yang sedang mencari jalan keluar dari masa lalu.
Garden State menunjukkan bahwa sebuah soundtrack bisa terdengar seperti isi kepala seseorang. Bukan hanya menemani cerita. Tetapi menjadi bagian dari identitas cerita itu sendiri.
9. LOVE ACTUALLY (2003)

Director: Richard Curtis
Music Supervisor: Nick Angel
Original Score: Craig Armstrong
Kalau ada film yang membutuhkan soundtrack besar, Love Actually adalah jawabannya. Sepuluh cerita cinta membutuhkan sepuluh warna emosi. Dan musiknya bergerak dari pop, rock, soul hingga christmas songs tanpa kehilangan identitas.
Di balik album soundtrack tersebut ada Craig Armstrong, yang menulis original score dan membangun warna orkestral film. “Glasgow Love Theme” menjadi salah satu contoh bagaimana score instrumental bisa memiliki kekuatan emosional yang sama besarnya dengan lagu populer.
Sementara lagu “All You Need Is Love” dari The Beatles menjadi salah satu musical moments paling dikenali dari film ini.
Namun kekuatan soundtrack Love Actually justru terletak pada keberagamannya. Karena film ini tidak hanya berbicara tentang satu bentuk cinta. Ada cinta yang baru dimulai, cinta yang tidak terbalas, cinta keluarga, persahabatan, kehilangan dan cinta yang datang di waktu yang salah. Musiknya pun mengikuti semuanya.
10. (500) DAYS OF SUMMER (2009)

Director: Marc Webb
Music Supervisor: Andrea von Foerster
Original Score: Mychael Danna & Rob Simonsen
Inilah soundtrack yang mungkin paling tepat menggambarkan bagaimana musik bisa menjadi bagian dari narasi. Tom Hansen jatuh cinta kepada Summer Finn. Tetapi hubungan mereka tidak pernah berjalan seperti yang Tom bayangkan.
The Smiths, Regina Spektor, Feist, Doves dan Hall & Oates menjadi semacam musical diary perjalanan Tom. Andrea von Foerster sebagai Music Supervisor berperan penting dalam membangun identitas musikal film ini. Ia memilih dan mengkurasi musik yang akhirnya menjadi salah satu elemen paling diingat dari 500 Days of Summer.
Bahkan lagu “You Make My Dreams” milik Hall & Oates menjadi bagian dari salah satu adegan paling memorable: Tom menari di tengah kota setelah merasa hubungannya dengan Summer akhirnya berjalan sesuai harapannya.
Namun justru di situlah kecerdasan musik film ini. Soundtrack tidak selalu mengatakan apa yang benar. Ia memperlihatkan apa yang dirasakan Tom. Dan ketika realitas tidak sesuai dengan ekspektasinya, lagu-lagu yang sebelumnya terasa romantis bisa berubah menjadi kenangan. Itulah yang membuat 500 Days of Summer lebih dari sekadar romantic comedy. Ia adalah film tentang bagaimana kita sering kali membuat soundtrack sendiri untuk sebuah hubungan—lalu baru menyadari bahwa lagu yang sama bisa memiliki arti berbeda bagi orang lain. (*)
Penulis : Djoko Adnan
Foto-Foto : Dok. IMDB & Amazon