Written by • 2:32 pm• Review

Album yang Mendahului Zaman

Kamarmusik.id Album tunggal Transs berjudul Hotel San Vicente kembali dirilis dalam fomat CD oleh demajors. Album ini pertama kali diluncurkan lewat label Akurama Records pada 1981, tahun yang sama dengan band tersebut bubar atau membubarkan diri. Sependek itu usianya. Namun jejak kreatifnya terasa panjang.  Transs bergerak dengan cita rasa tersendiri memadukan funk, jazz fusion, disko dan pop progresif yang dijalin melalui eksplorasi synthesizer. Terobosannya kelak menjadi pintu masuk bagi band fushion seperti Krakatau, Karimata, Emerald dan banyak lagi.

Transs lahir diinisiasi oleh kejelian Fariz RM yang baru membuat kejutan melalui Sakura. Pada 1980 di Jakarta berlangsung festival band antar SMA. Dia menjadi jurinya bersama Candra Darusman dan (alm) Bens Leo. Empat peserta yang menyabet gelar instrumentalis terbaik kemudian diajaknya membentuk Transs. Mereka itu Erwin Gutawa (bass), Eddy Harris (keyboard), Jundi Karyadi (keyboard) dan Uce Haryono (drum). Ada pun personel lainnya adalah  Dandung Sadewa (vokal,gitar), Wibi AK (perkusi – alm) dan Hafil Perdana Kusuma (flute, vokal). Transs seperti laboraturium musik dengan Fariz RM sebagai guru pembimbing.

Transs 2011. Eddy Harris, Erwin Gutawa, Dandung Sadewa, Fariz RM, Hafil Perdana Kusum, Uce Hariono, Jundi Karyadi. (Foto: Istimewa)

Perilisan ulang San Vicente dalam format CD bukan semata pada format fisiknya yang kembali tersedia. Namun sebuah kesempatan untuk mendengarkan salah satu tonggak penting dalam sejarah pop Indonesia. Pendengar masa kini akan mendapatkan sensasi bagaimana sebuah logika musikal, ambisi, dan identitas dibangun. Bagi para penikmat musik pop yang terbiasa dengan pola sederhana, perubahan dinamika, permainan instrumen yang aktif, dan kepadatan aransemen Transs bisa menjadi persoalan. Kualitas yang mengagumkan tersebut tidak dikehendaki oleh pasar komersial. Ini sekaligus menjawab  pertanyaan mengapa saat kelahirannya San Vicente kurang disambut namun kini menjadi objek perburuan.

Mungkin akan ditemukan keterbatasan tertentu dalam spektrum frekuensi, kedalaman ruang, atau keseimbangan instrumen dibandingkan produksi digital kontemporer. Tetapi menuntut album ini terdengar seperti rekaman tahun 2026 adalah sebuah kesalahan. Nilai album ini harus diletakkan pada pencapaian teknologi rekaman 1981. Dalam pengerjaan transkipsi ke digital inilah nama Winston Luhur berperan penting. Saat dihubungi oleh David Tarigan dari demajors untuk menggarap San Vicente, ternyata dia sudah mengerjakannya pada 2020. Proses digitalisasi dilakukannya dari kaset rilisan kedua yang dibelinya di Jepang.  Untuk diketahui, Winston juga mengerjakan proses digitalisasi piringan hitam album Bad Shock dari SAS Group.

Sebelum San Vicente muncul sudah ada sejumlah album yang mengandalkan kekuatan aransemen. Salah duanya yaitu Badai Pasti Berlalu dan Guruh Gipsy yang menyilangkan pop progresif dengan unsur lokal.  Transs kemudian mengembangkannya dengan meramu unsur groove funk yang kuat, bass yang aktif, keyboard modern, serta komposisi yang berorientasi pada permainan kolektif.

Sebagai lagu pembuka, “Senja dan Kahlua” menawarkan kekuatan perpaduan groove yang mampu memaksa tubuh untuk bergoyang dalam aransemen yang menuntut kecermatan permainan. Dinamis sekaligus hidup.

Nomor paling telak yang memperlihatkan keakuan mereka adalah karya instrumental “Transsession” yang berdurasi lebih dari 5 menit. Di sana terjadi dialog bernuansa samba dan jazz fusion. Permainan keyboard mendapat keluasan ruang untuk mengembangkan imajinasi Jundi dan Eddy Harris. Dentum bass Erwin Gutawa terdengar tegas dan tebal.

Sementara itu vokal Faiz RM terdengar menonjol dalam  “Jawab Nurani” ditopang oleh groove keyboard dan ritme funk yang membangun daya dorong kuat. Harmonisasi karya yang pernah diinterpretasi ulang oleh SORE ini cukup rumit dari segi aransemen namun tidak sampai menghilangkan emosi lirik.

Dari segi musikal, konsep San Vicente memperlihatkan keberanian para musisi muda kala itu dalam mempertahankan gagasan. Mereka bukan sekadar ingin tampil beda. Mereka menyodorkan kekuatan harmonisasi sebagai daya tawar, bukan keindahan lirik cinta. Dengan kata lain, Transs seperti tengah menggugat hukum industri ketika itu.

Seluruh materi album direkam di studio Gelora Seni milik oranng tua Jundi Karyadi. Fasilitas 16 track (terhitung paling modern saat itu ) mampu mengakomodir kompleksitas permainan instrumen. Hasilnya, kombinasi suara bas, drum, keyboard, gitar, dan vokal menjadikan kekuatan Hotel San Vicente.

Sampul album ini digarap serius sebagai bagian dari ekspresi seni, bukan sekadar bagian dari promosi seperti umumnya rilisan kekinian. Terlihat seluruh personel tengah berada di sebuah tempat yang mudah diasosiasikan sebagai Hotel San Vicente. Di hadapan mereka berdiri sosok perempuan berhanduk merah menyala dengan rambut basah. Jika di balik, sampul berikutnya  memperlihatkan si Perempuan berlari malu. Sebuah imajinasi nakal khas anak muda.

Menurut Erwin Gutawa, ide tersebut datang dari Tara Sastrowardoyo dan Firman Ichsan, fotografer kondang pada zamannya. Desain dasar logo dikerjakan oleh Boedi Soesatio yang juga pencipta logo pertama Slank.

Suatu ketika saya pernah menanyakan langsung kepada Fariz RM tentang sosok model berhanduk itu. Dia cuma tertawa ringan dan terkesan menghindar. Begitu juga ketika mewawancarai Erwin Gutawa untuk podcast di kanal YouTube Kamar Musik_Id, dia pun ngakak sambil mengatakan ketidaktahuannya.

Tentu saja saya berhak menyangsikan ‘kejujuran’ mereka. Namun fakta tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah konsep kreatif dijaga dan dirawat selama 45 tahun. Itu sebabnya San Vicente dari Transs ini selalu menarik untuk dibicarakan sebagai album yang mendahului zaman. (*)

Penulis: Denny MR

Visited 6 times, 6 visit(s) today
Close Search Window
↑
Close