Kamarmusik.id. Sebuah lapangan di kawasan Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta, pada Agustus 1973 dipadati ribuan anak muda yang datang dari berbagai pelosok untuk menyaksikan aksi puluhan grup musik dalam satu panggung. Ada rock, pop, musik dengan sentuhan orkestra, hingga pertunjukan teatrikal. Mereka datang untuk merayakan kemerdekaan sekaligus menikmati sesuatu yang belum lazim: sebuah festival musik di alam terbuka dalam skala besar.
Awal dekade 1970-an merupakan periode penuh riak dalam sejarah musik populer di Indonesia. Grup musik menjamur. Industri rekaman mulai bermunculan seperti Dimita yang didirikan Dick Tamimi di kawasan Bandengan Selatan, Jakarta. Di sini berkumpul sejumlah nama penting, antara lain Panbers, Koes Bersaudara, Dara Puspita, dan Rasela. Kemudian Metropolitan Studio yang belakangan berubah nama menjadi Musica Studio’s.
Di Makassar ada Irama Baru Records. Kabarnya label ini berawal dari sebuah toko kaset yang berdiri pada 1970 dan mulai aktif melakukan rekaman pada 1976. Di Bandung muncul Yess yang mengkhususkan produknya pada musik progresif rock. Contoh ini menunjukkan bahwa sejarah perusahaan rekaman daerah juga perlu diperhitungkan, bukan hanya di Jakarta.
Di tengah situasi itulah gagasan pesta musik Summer ’28 muncul. Nama tersebut merupakan akronim akronim Suasana Menjelang Kemerdekaan ke-28, merujuk pada peringatan 28 tahun kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1973.
Anak Muda Menginginkan Woodstock
Inspirasi festival ini diyakini ingin mengadopsi semangat Woodstock yang berlangsung di Amerika Serikat pada 1969. Woodstock memperlihatkan bahwa musik dapat menjadi ruang pertemuan generasi, tempat berbagai aliran dan pandangan hidup bertemu dalam satu peristiwa budaya. Gagasan ini terasa menarik bagi anak muda Indonesia yang tengah menyerap pengaruh gerakan hippie, kebebasan berekspresi, dan musik rock yang kian masif.
Namun, Summer ’28 bukan sekadar menjiplak Woodstock. Ia lahir terutama dari tuntutan lokal: hiburan musik berskala besar masih terbatas, sementara antusiasme anak muda terhadap grup-grup populer sedang tinggi-tingginya. Mengumpulkan puluhan grup musik dalam satu acara tentu jawaban yang tepat. Sebuah gagasan yang berani untuk ukuran industri pertunjukan Indonesia saat itu.
Dalam konteks perkembangan konser musik di Indonesia, Summer ’28 dianggap sebagai salah satu tonggak awal festival musik terbuka berskala besar. Kemunculannya menjadi penting bukan karena penyelenggaraannya sempurna, melainkan karena acara tersebut memperlihatkan besarnya potensi penonton sekaligus kelemahan mendasar dalam pengelolaan pertunjukan massal.
Pertaruhan Besar Wim Umboh
Gagasan Summer ’28 datang dari tiga orang, yaitu Wim Umboh dari PT Aries Raya Internatonl, Njoo Han Siang dari Bank Umum Nasional dan A. Soegianto dari PT Intercine Studio, perusahaan yang memiliki lahan di kawasan Ragunan, Pasar Minggu, tempat festival diselenggarakan – kini lokasi tersebut berada di sekitar pertigaan lampu merah Pasar Minggu, sebelum pusat perbelanjaan Pejaten Village. Mereka merancang festival tersebut setelah melakukan perjalanan ke luar negeri, termasuk Amerika Serikat.
Sutradara Wim Umboh berencana membuat pendokumentasian musik seperti halnya Michael Lang, salah satu dari empat penggagas Woodstock. Dalam tulisannya di Superlive, Alvin Yunata, gitaris Teenage Death Star, mengatakan bahwa PT Intercine Studio telah menyiapkan kurang lebih 200 rol film untuk menangkap momen live festival musik tersebut, serta dijatahkan 2 rol film bagi setiap band dan disediakannya 30 buah kaset pita untuk merekam audionya.
Ini memperlihatkan bahwa Summer ’28 direncanakan dengan serius. bukan hanya mengakomodir kepentingan kalangan musisi atau sineas, tetapi juga melibatkan unsur bisnis.
Ada pun Dimas Wahab, pemimpin grup The Pro’s, bertindak sebagai pelaksana. Ia kemudian mengutus Abadi Soesman, keyboardis bandnya, menghubungi para calon pengisi acara.
“Saya diminta oleh Dimas Wahab untuk berangkat ke Surabaya menemui AKA,” kenang Abadi Soesman. Keterangan ini dibenarkan oleh Arthur Kaunang, mantan bassis AKA. Mereka pun bertemu di rumah Arthur, Jl. Embong Ploso no.16 Surabaya.

“Aku sendiri yang membicarakan kontrak dengan Abadi Soesman karena waktu itu Ucok (Harahap – vokalis AKA) tinggal di Lawang,” kata Arthur yang tidak ingat berapa nilai kontraknya.
Beres urusan AKA, Abadi Soesman segera menuju rumah Victor Nasution untuk mengundang The Gembell’s.
Selain kedua nama tersebut, Bentoel (Malang) dan Ternchem (Solo) band lain yang juga dijadwalkan diantaranya Broery Marantika bersama The Pro’s, God Bless, The Singers, The Disc, Los Morenos, Freedom, Noor Bersaudara, El Sipigo, Young Gipsy, serta Grup 23761 yang diasosiasikan dengan Remy Sylado.
Dari luar Indonesia, Fly Baits dari Singapura dan Romy and the Hi-Chords dari Filipina turut memperkuat citra Summer ’28 sebagai perhelatan yang memiliki cakupan lebih luas daripada pertunjukan lokal biasa.
Menggarap konser akbar jelas bukan pekerjaan ringan. Puluhan grup harus dikumpulkan, jadwal pertunjukan disusun, panggung dibangun, tata suara disiapkan, tiket dijual, dan pengamanan dikoordinasikan. Semua itu dikerjakan ketika standar produksi konser musik massal di Indonesia belum menemukan bentuk. Secara teknis, panggung itu harus menampung pergantian penampil dari beragam genre musik, dengan kebutuhan teknis yang berbeda-beda. Band rock membutuhkan suara gitar dan drum yang bertenaga, sementara penampil pop, kelompok vokal, dan musisi yang mengandalkan orkestra memerlukan pengaturan suara tersendiri.
Tantangannya bukan hanya soal teknis. Sebuah festival dengan banyak penampil membutuhkan disiplin waktu, koordinasi antarmanajemen, komunikasi yang jelas kepada penonton, serta kemampuan mengendalikan massa yang datang dengan harapan berbeda-beda.
Lalu munculah titik kelemahan itu. Rencana ambisius tidak sepenuhnya diimbangi oleh kesiapan operasional. Acara yang direncanakan berlangsung semalam suntuk harus menghadapi persoalan jadwal, tata suara, jumlah penonton, serta absennya beberapa grup yang sudah ditunggu-tunggu.
Lokasi Summer ’28 bukan lapangan stadion dengan tribun permanen, bukan pula arena konser yang dirancang khusus untuk menampung massa puluhan ribu orang. Yang tersedia adalah hamparan tanah terbuka.
Keterbatasan fasilitas tersebut tidak mengurangi keberanian mewujudkan gagasan. Hal itu membuktikan bahwa penyelenggara musik Indonesia pada awal 1970-an sudah mulai memikirkan adanya festival sebagai peristiwa budaya yang jauh lebih besar daripada konser biasa.
KonserSummer ’28 dirancang berlangsung sekitar 12 jam, mulai pukul 17.00 hingga pukul 05.00. Dengan harga tiket Rp.1.000, penonton bisa menikmati puluhan grup musik dalam satu rangkaian pertunjukan. Sebagai perbandingan, ketika itu harga majalah Aktuil sekitar Rp120, sedangkan kaset berada di kisaran Rp400–Rp500.
Jadi harga tanda masuk itu tidak termasuk murah, namun deretan nama band sulit ditolak. Alih-alih harus menunggu grup favorit datang ke kota masing-masing atau mencari pertunjukan yang terpisah, mereka bisa menyaksikan berbagai nama besar dalam satu malam. Ekspektasi terlanjur melambunng tinggi.
Pada poster publikasi tercantum Summer ’28 berlangsung pada 16-17 Agustus 1973. Kenyataannya, acara tersebut berlangsung pada 18-19 Agustus 1973 seperti ditulis oleh Kompas dan Tempo. Sebuah sumber mengatakan bahwa perubahan tersebut berhubungan dengan masalah perizinan.
Akibatnya cukup fatal. Sejumlah band mengundurkan diri karena mengaku sudah memiliki jadwal tampil di kota lain.
“AKA terpaksa mengundurkan diri karena sudah terlanjur kontrak dengan penyelenggara lain,” kata Arthur Kaunang yang menyatakan bahwa sesungguhnya mereka sudah sangat siap untuk tampil.

“Honor yang sudah dibayarkan otomatis hangus,” Abadi Soesman terkekeh.
Band lain yang juga batal tampil adalah Pretty Sisters, The Gembell’s, Ternchem dan Bentoel.
Cikal Bakal Kerusuhan
God Bless baru saja turun dari panggung ketika Master of Ceremoni mengumumkan bahwa sejumlah pengisi acara berhalangan hadir.
Bagi penyelenggara, absennya satu atau dua band mungkin merupakan persoalan kontrak, perjalanan, atau koordinasi. Akan tetapi bagi penonton, absennya band yang mereka tunggu merupakan kegagalan menyaksikan aksi panggung idola mereka.
Mundurnya sejumlah pengisi acara menyebabkan terjadinya pemangkasan durasi pertunjukan. Acara yang semula dijadwalkan berlangsung hingga pukul 05.00 pagi ternyata sudah berakhir sekitar pukul 03.00 WIB. Perlu diingat bahwa kawasan Pasar Pasar Minggu saat belum seramai sekarang. Menemukan tranportasi umum untuk pulang ke rumah di pagi buta sangatlah sulit.
Ditingkah oleh kekecewaan atas batalnya AKA maka ribuan penonton itu segera meluapkan kemarahannya dengan melemparkan botol dan batu ke arah panggung.
“Saya waktu itu baru saja duduk dengan Sandra Reemer ketika tiba-tiba batu melayang di atas kepala,” kenang Ludwig Lemans. Ia masih mendengar teriakan penonton yang memanggil-manggil God Bless.

“Kami tampil terakhir dan sampai saat itu sebenarnya situasi aman-aman saja. Mungkin mereka masih mengharapkan AKA tampil,” kata Achmad Albar.
Sandra Reemer adalah penyanyi terkenal Belanda kelahiran Indonesia yang populer dengan hit Story Book Children. Ia kebetulan tengah berlibur di Indonesia dan ikut rombongan God Bless ke lokasi. Sandra juga yang menghias wajah Achmad Albar coreng moreng seperti Alice Cooper.
Karena panik dan terus menjerit-jerit, Ludwig Lemans terpaksa meloloskan temannya itu melalui pagar tembok yang terdapat di belakang area panggung (untuk selengkapnya tonton wawancara saya dengan Ludwig Lemans dan Achmad Albar di kanal YouTube Kamar Musik_Id).
Dua Ratus Roll Film dan Hilangnya Sejarah Panggung Musik Indonesia
Ada kehilangan dari pesta musik Summer ’28 yang tak bisa diukur dengan uang dan tidak pula tergantikan oleh kecanggihan teknologi. Belum ditemukannya 200 roll film yang merekam seluruh peristiwa di Pasar Minggu merupakan salah satu kehilangan besar.
Bukan semata-mata karena lenyapnya dokumentasi sebuah pertunjukan musik, melainkan lenyapnya jejak visual dari sebuah momentum penting dalam perjalanan panggung musik Indonesia.
Dua ratus roll film bukanlah jumlah sedikit. Jika benar seluruhnya memuat dokumentasi Summer 28, material tersebut menyimpan begitu banyak fragmen sejarah: wajah-wajah musisi di atas panggung, ekspresi penonton, suasana arena, tata panggung, perangkat tata suara, hingga hiruk-pikuk sebuah festival yang berlangsung dalam situasi penuh dinamika. Setiap bingkai dapat menghadirkan detail yang tak tercatat dalam berita surat kabar dan majalah, tak tertulis dalam laporan penyelenggara, dan tak selalu tersimpan dalam ingatan orang-orang yang menyaksikannya secara langsung.

Di sinilah nilai film-film tersebut menjadi sangat besar. Foto bukan sekadar pelengkap narasi sejarah. Ia merupakan bukti visual yang memungkinkan generasi berikutnya melihat, memeriksa, dan memahami bagaimana sebuah peristiwa benar-benar berlangsung. Kesaksian lisan bisa memudar, ingatan dapat berubah, sementara catatan tertulis sering kali hanya merekam bagian-bagian tertentu dari sebuah kejadian. Dokumentasi visual yang autentik dapat mengisi celah-celah tersebut, sekaligus membuka kemungkinan untuk mengoreksi atau melengkapi pengetahuan yang selama ini kita yakini.
Apabila 200 roll film itu masih tersimpan utuh, atau setidaknya sebagian besar darinya masih dapat diselamatkan, kita mungkin memiliki bahan yang sangat kaya untuk merekonstruksi peristiwa tersebut. Kita dapat menguji kembali cerita-cerita yang selama ini beredar, mengenali sosok-sosok yang belum teridentifikasi, menelusuri urutan kejadian, serta memahami skala dan karakter festival melalui bukti yang lebih konkret. Bahkan detail yang tampak sepele—jenis instrumen yang digunakan, susunan perangkat pengeras suara, desain panggung, atau cara penonton memenuhi arena—dapat menjadi informasi berharga bagi penulisan sejarah musik dan teknologi pertunjukan di Indonesia.
Karena itu, belum ditemukannya film-film tersebut patut dipandang sebagai persoalan yang lebih besar daripada sekadar hilangnya koleksi pribadi. Ini menyangkut kemungkinan terputusnya hubungan antara sebuah peristiwa bersejarah dan generasi yang ingin mempelajarinya.
Pencarian semestinya melibatkan berbagai kalangnan yang mungkin memiliki petunjuk: keluarga fotografer, kolektor foto lama, mantan penyelenggara, musisi, awak produksi, wartawan, maupun orang-orang yang pernah terlibat dalam dokumentasi Summer 28.
Yang dipertaruhkan adalah kemampuan kita merawat bukti sejarah musik sendiri. Terlalu banyak peristiwa penting dalam perjalanan musik Indonesia yang akhirnya hanya bertahan sebagai cerita dari mulut ke mulut, sementara dokumentasi yang seharusnya memperkuatnya justru tercecer, rusak, atau tidak diketahui keberadaannya. Akibatnya, sejarah kita kerap ditulis dengan bahan yang terbatas.
Summer ’28 mungkin berakhir dengan kerusuhan, tetapi sejarah tidak boleh menghakiminya hanya dari kekacauan yang menutup perhelatan itu. Di balik ketidaksiapan penyelenggaraan dan ambisi yang tak sepenuhnya terkelola, festival ini telah membuka babak penting dalam sejarah panggung musik terbuka di Indonesia.
Summer ’28 membuktikan bahwa gairah musik anak muda sanggup menggerakkan massa dalam skala besar, jauh sebelum industri pertunjukan memiliki perangkat produksi dan sistem pengamanan seperti sekarang. Ia adalah sebuah kegagalan dalam penyelenggaraan, tetapi bukan kegagalan dalam sejarah. Sebab, jauh sebelum festival musik menjadi industri yang diperhitungkan, Summer ’28 telah mempertaruhkan sebuah gagasan besar: menjadikan musik sebagai peristiwa publik, tempat generasi muda berkumpul, merayakan kebebasan berekspresi, dan menegaskan identitasnya.
Panggungnya boleh porak-poranda, tetapi jejak sejarahnya tak ikut tumbang.(*)
Penulis: Denny MR. Foto Image: Kartono Ryadi/Kompas