kamarmusik.id Rasanya masih segar di ingatan bagaimana kita yang saat itu sedang hobi-hobinya nongkrong, mendadak ikut bersenandung ketika mendengar Sheila on 7 membawakan ulang mahakarya A.T. Mahmud. Ambilkan Bulan. Atau yang lebih surealis lagi, mendengarkan Andi /Rif dengan gaya rock n’ roll-nya yang urakan, ternyata bisa melantunkan Anak Gembala tanpa kehilangan taringnya.
Di masa itu, saat mendengarkan kaset pita atau CD tersebut, kita mungkin hanya berpikir bahwa ini, selain sebagai pengiring adegan film, adalah proyek penghormatan dari musisi arus utama untuk melestarikan memori masa kecil. Namun, kalau kita mau sedikit pragmatis dan menggeser lensa ke arah kacamata industri, keterlibatan band-band dewasa dalam membawakan atau memproduksi lagu anak-anak sebenarnya bukan sekadar proyek nostalgia. Ini adalah salah satu manuver bisnis paling brilian dan kebal krisis di republik ini.
Fenomena musisi arus utama bermain di arena lagu anak sebenarnya punya akar sejarah yang sangat panjang. Bahkan sudah tercatat di dekade 1970-an, era di mana piringan hitam dan kaset pita dikuasai oleh raksasa label rekaman seperti Remaco,

Di tahun 1974, Koes Plus membuat gebrakan nekat dengan merilis album Pop Anak-Anak Volume 1. Mereka membuktikan bahwa band paling top se-Indonesia pun sah-sah saja menyapa bocah.
Ternyata, album ini diterima pasar. Label rekaman yang insting bisnisnya tajam langsung mencium aroma cuan dari ladang yang belum digarap serius.
Efek dominonya menghasilkan sebuah fenomena kultural yang kalau dipikir-pikir sekarang, terasa sangat kontras. Bayangkan saja, The Mercy’s—dengan Charles Hutagalung dan Rinto Harahap yang notabene adalah arsitek utama lagu-lagu pop melankolis Indonesia—tiba-tiba merilis album pop anak-anak. Orang-orang yang sama, yang biasanya bikin jutaan orang dewasa menangis tersedu-sedu meratapi nasib asmara di malam hari, tiba-tiba memimpin koor ceria bernada mayor di pagi hari.
Ternyata, langkah serupa juga diambil oleh Panbers yang biasanya garang dengan balada dan psychedelic rock, hingga Bimbo yang melebarkan harmoni vokal syahdu mereka untuk konsumsi keluarga.

***
Apakah rentetan karya di era 70-an ini murni idealisme? Sepertinya bukan. Ini adalah strategi monopoli frekuensi yang sangat cantik.
Dengan punya stok lagu anak, band-band ini secara efektif menjajah seluruh jam siaran radio. Lagu anak mereka merajai jam tayang pagi saat anak-anak bersiap ke sekolah, sementara hits patah hati mereka memonopoli siaran malam. Mereka memastikan tidak ada satupun demografi pendengar yang lolos dari genggaman.
Lompat ke era 80-an dan 90-an, peta permainan berubah. Industri musik anak berubah wujud menjadi entitas yang berdiri sendiri dan dikuasai mutlak oleh penyanyi cilik tulen, disokong oleh maestro pencipta lagu seperti mendiang Papa T Bob. Ini adalah masa keemasan yang sayangnya harus tunduk pada hukum alam: anak-anak itu tumbuh besar.
Ketika barisan penyanyi cilik itu masuk masa pubertas pada awal 2000-an, industri ini kehilangan mesin penggeraknya. Hasilnya adalah defisit lagu anak lokal yang lumayan parah. Buntutnya, kita melihat generasi milenial akhir yang masih SD sudah fasih menyanyikan lagu perselingkuhan milik Kangen Band atau Radja karena absennya pilihan yang pas untuk umur mereka.
Nah, album soundtrack film Ambilkan Bulan (2012) yang menampilkan Sheila on 7 dkk tadi, pada dasarnya adalah respons sporadis atas krisis ini. Ibarat sebuah oase singkat di tengah kekeringan lagu anak.

Sebenarnya, empat tahun sebelum itu, di tahun 2008, Naif mengambil manuver yang pantas masuk buku teks bisnis musik lokal. Mereka merilis album Bon Bin Ben.
Band ini nggak cuma masuk studio untuk merekam lagu anak, tapi mereka membangun sebuah semesta fiksi. David, Emil, Pepeng, dan Jarwo disulap menjadi karakter binatang.
Kalau di era 70-an tujuannya adalah jualan kaset, Naif membawa konsep Kekayaan Intelektual (IP) yang jauh lebih visioner. Bon Bin Ben dirilis satu paket dengan buku cerita anak. Lewat proyek ini, Naif nggak lagi sekadar berstatus sebagai anak band, melainkan bertransformasi menjadi pabrik merchandise.
Dan coba tebak siapa yang memborong buku cerita, kaos, dan pernak-pernik itu? Jelas bukan anak-anaknya, melainkan bapak ibunya yang punya dompet tebal dan kebetulan memang penggemar setia Naif.
Strategi cerdik ini pun terus berevolusi dan menemukan bentuk paling mutakhirnya di era digital. Ketika di dekade modern Mocca merilis album Happy dan Funfair, Ardhito Pramono meluncurkan Semar & Pasukan Monyet, hingga langkah teranyar RAN dengan RAN For Your Kids, mereka sebenarnya sedang menari di atas panggung algoritma streaming.
Di balik aransemen yang elegan dan lirik yang ramah telinga, ada realitas algoritma yang luar biasa menguntungkan dari demografi anak-anak. Kalau kamu punya balita, kamu pasti tahu bahwa perilaku konsumsi media mereka itu sangat repetitif. Seorang anak bisa meminta satu lagu ceria diputar dua puluh kali dalam sehari, setiap hari, selama berbulan-bulan tanpa rasa bosan.
Angka streaming pasif ini menggelembung tak terkendali, menciptakan aliran royalti berkelanjutan (long-tail) yang jauh lebih stabil ketimbang lagu pop dewasa yang trennya gampang menguap dalam hitungan minggu.

***
Selain mengejar metrik di platform digital, merilis karya anak adalah cara rebranding yang paling mulus bagi sebuah band untuk memanjangkan umur karier. Mungkin kamu dulu salah satu yang membeli CD Ambilkan Bulan -nya Sheila on 7 atau /Rif itu, kini sudah berkeluarga. Para orang tua urban ini mendambakan hiburan yang bisa dinikmati bareng anak tanpa harus mengorbankan selera musik masa muda. Dengan menyajikan karya yang family-friendly, musisi berhasil mengawinkan penggemar generasi lama dengan generasi penerusnya.
Yang jelas, di balik nada-nada mayor yang ceria, lirik lugu, dan sampul album yang menggemaskan, musik anak yang lahir dari tangan musisi arus utama adalah bentuk pertahanan bisnis yang sangat elok. Ini membuktikan bahwa kompromi pasar nggak selamanya membunuh idealisme. Kadang, dia bisa juga jadi sekoci penyelamat, yang memperpanjang legacy di pasar musik Indonesia. (*)
Penulis: Junior Eka Putro Foto: Istimewa