Kamarmusik.id. Film konser Ozzy & Black Sabbath: Back to the Beginning memperoleh pemutaran perdana dunianya pada 14 Oktober 2026 di The Orpheum Theatre, Los Angeles. Film berdurasi sekitar dua setengah jam ini mendokumentasikan pertunjukan perpisahan Ozzy dan reuni formasi asli Black Sabbath di Villa Park, Birmingham, pada 5 Juli 2025—hanya 17 hari sebelum Ozzy meninggal dunia. Film ini dijadwalkan tayang secara terbatas di bioskop seluruh dunia mulai 28 Oktober 2026.
Terdapat paradoks yang luar biasa tajam: seorang penyanyi yang sepanjang hidupnya membangun reputasi sebagai Pangeran Kegelapan justru meninggalkan panggung terakhirnya dalam sebuah perayaan penuh cinta, persahabatan, dan rasa syukur. Ozzy Osbourne, lelaki yang pernah menjadikan kelelawar, salib terbalik, dan citra kegilaan lainnya sebagai bagian dari mitologi heavy metal, akhirnya berpamitan bukan melalui ledakan kontroversi, melainkan dengan kembali ke tempat segala sesuatunya bermula.

Kisah Black Sabbath selalu lebih besar daripada cerita empat musisi yang berhasil membentuk sebuah band. Mereka adalah produk dari Aston, kawasan industri Birmingham yang keras, tempat kehidupan kelas pekerja, polusi, dan kemuraman kota menjadi bagian dari pengalaman sehari-hari. Dari lingkungan semacam itulah lahir musik yang terdengar seolah-olah dunia sedang runtuh.
Tony Iommi menciptakan riff-riff gitar yang berat dan mengancam. Geezer Butler membangun fondasi bass yang gelap, sementara Bill Ward memberikan permainan drum yang tidak sekadar menghantam, tetapi juga bergerak dengan keluwesan jazz. Di atas semuanya, Ozzy Osbourne menghadirkan suara yang aneh, rapuh, kadang seperti ratapan dan sulit ditiru.
Mereka tidak lahir dengan reputasi sebagai penyelamat musik rock. Pada awal 1970-an, mereka justru menjadi sasaran kritik karena dianggap terlalu gelap, terlalu bising, dan terlalu dekat dengan citra setan. Namun, apa yang dahulu dipandang sebagai penyimpangan itu akhirnya menjadi fondasi heavy metal modern. Itulah konteks yang membuat Back to the Beginning memiliki bobot historis.

Pertunjukan di Villa Park bukan sekadar kesempatan bagi band legendaris untuk memainkan kembali lagu-lagu lama. Ini adalah kepulangan ke tempat asal, sekaligus pertemuan terakhir empat musisi yang perjalanan hidup dan kariernya berkali-kali bergerak penuh konflik.
Formasi asli Ozzy Osbourne, Tony Iommi, Geezer Butler, dan Bill Ward terakhir kali tampil bersama pada 2005 sebelum kembali naik panggung untuk acara tersebut. Black Sabbath sendiri sebelumnya telah menggelar konser perpisahan pada 2017 tanpa Bill Ward. Dengan demikian, reuni 2025 itu menyelesaikan sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak tuntas.
Yang membuatnya semakin menyayat adalah kenyataan bahwa Ozzy mengetahui kesehatannya terus memburuk. Menurut Sharon Osbourne dalam wawancara dengan Rolling Stone pada 14 Oktober 2026, sejumlah dokter telah menyarankan agar Ozzy tidak melanjutkan rencana pertunjukan. Namun, ia bersikeras ingin melakukannya.
Ozzy meninggal pada 22 Juli 2025, 17 hari setelah konser tersebut.

Dengan pengetahuan itu, setiap gambar Ozzy di panggung akan membawa makna yang berbeda. Penonton tidak lagi menyaksikan seorang bintang rock yang sedang menjalani jadwal pertunjukan. Mereka menyaksikan seorang manusia yang ingin menutup hidupnya dengan melakukan sesuatu yang paling dicintainya.
Di sinilah film ini memperoleh kekuatan emosional yang tidak mungkin direkayasa oleh skenario mana pun. Kematian Ozzy bukan bagian dari rancangan pertunjukan, tetapi kenyataan yang datang sesudahnya mengubah seluruh dokumentasi tersebut menjadi semacam surat perpisahan.
Back to the Beginning merekam sebuah acara berskala stadion yang menghadirkan puluhan tahun sejarah rock dan metal dalam satu hari. Sebanyak 44.000 penonton memenuhi Villa Park, sedangkan siaran langsungnya ditonton lebih dari lima juta orang. Pertunjukan itu juga menghimpun sekitar US11 juta untuk kegiatan amal.
Daftar pengisi acaranya pun menyerupai peta silsilah heavy metal modern. Metallica, Guns N’ Roses, Slayer, Tool, Pantera, Gojira, Anthrax, Mastodon, Alice in Chains, Lamb of God, dan Halestorm tampil sebagai bagian dari perayaan tersebut.

Fakta tersebut mengundang tantangan sinematik: bagaimana sebuah film berdurasi sekitar 2 jam 30 menit dapat merangkum acara yang berlangsung sekitar sepuluh jam tanpa kehilangan fokus utamanya?
Pertanyaan ini menarik. Konser dengan banyak bintang tamu berisiko berubah menjadi parade nama besar, sementara tokoh utama hanya menjadi alasan untuk mengumpulkan mereka. Semakin banyak musisi terkenal muncul, semakin besar godaan untuk mengukur keberhasilan film dari jumlah kejutan dan daftar panjang kreditnya. Kesulitan lainnya adalah membuat penonton memahami mengapa semua musisi tersebut berada di sana.
Mestinya fokus utamanya terletak pada posisi Ozzy dalam sejarah musik. Sebab, mereka bukan datang hanya untuk menghibur seorang legenda. Banyak di antara mereka berdiri di panggung itu karena Black Sabbath telah membuka jalan yang kemudian mereka tempuh. Dengan demikian, konser tersebut dapat dibaca sebagai sebuah lingkaran sejarah.
Terlepas dari pencapaian sinematografis, Ozzy & Black Sabbath: Back to the Beginning memiliki modal historis dan emosional untuk menjadi salah satu dokumentasi musik paling penting dalam sejarah heavy metal. (*)
Penulis; Denny MR Foto : Dok. Black Sabbath, Amy Harris/Invision/AP, Gibson Guitars Image: Lester Cohen/WireImage