Written by 4:31 pm On The Spot

Gempuran Anthrax dan Mastodon

Kamar musik_Id. Le Bikini, Ramonville-Saint-Agne—pinggiran Toulouse, bukanlah  venue berkapasitas raksasa jika bicara nilai kemegahan sebuah konser. Daya tampungnya maksimal 1.500 penonton. Namun justru di situ letak daya tariknya. Dengan kualitas tata suaranya yang sudah terkenal berkelas, ia menjanjikan tontonan intimate. Jaraknya sekitar 155 km dari tempat tinggal saya di kawasan Villefranche du Périgord yang dapat ditempuh dalam waktu 2 jam dengan menggunakan kereta.

Berada di tengah komplek industri aeronautik Airbus, di sekelilingnya sangat rindang karena posisinya dekat dengan sungai canal du midi yang menjadikan atmosfirnya seperti taman besar. Berjalan kaki pada malam hari tidak membuat terasa seram. Saya pernah beberapa kali mendatangi venue tersebut untuk menonton Suicidal Tendencies, Infectious Grooves, Edguy dan Stratovarius.

Dan Selasa malam pekan ini, 30 Juni 2026, Le Bikini seakan berubah menjadi tungku yang meluapkan bara oleh gempuran thrash metal dan progressive sludge metal dari  Anthrax dan Mastodon.

Antharx. Rocker gaek yang tetap garang. (Dikyana Hidayat)

Penampilan Mastodon, yang naik panggung tepat pukul 19.30 waktu setempat, memiliki pendekatan berbeda dengan umumnya band metal. Mereka tidak terburu-buru meledakkan energi. Menit pertama dimanfaatkan untuk membangun atmosfer secara perlahan.

Tidak lama “Tread Lightly” dan “The Motherload” segera menggiring penonton ke suasana yang penuh perubahan tempo dan tekstur. Intensitas tersebut terjaga dengnan baik saat “Crystal Skull”, “Black Tongue”, hingga “Megalodon” digelontorkan. Sementara “More Than I Could Chew” memperlihatkan sisi emosional yang semakin matang dari band yang terbentuk di Atlanta pada 2000 itu.

Lalu belasan penonton yang berhead bang mendadak surut ketika “Crack the Skye”, diambil dari album berjudul sama rilisan 2009, dimainkan. Aransemennya yang megah sekaligus melankolis seolah memberi napas bagi penonton untuk berhenti sejenak untuk kemudian menderu lagi dengan “Mother Puncher”.

Troy Sanders menjadi jangkar yang menentukan sepanjang pertunjukan. Permainan bassnya kokoh dan tegas, sementara karakter vokalnya yang kasar harus diakui menjadi identitas Mastodon. Sebagai band yang baru pertama kali tampil di Toulouse, Troy berjanji akan membawa kembali Mastodon usai merilis rilis album baru, September tahun ini.

Troy Sanders, Mastodon. (Scott Legato/Getty Images)

Single terbaru, “Your Ghost Again”, sangat terasa memperdengarkan pergantian musikalitas mereka. Lagu ini adalah sebuah tribute untuk Brent Hinds, gitaris Mastodon yang meninggal tragis Agustus 2025 – menyesal saya tidak sempat menonton aksi panggungnya.

Penggantinya, Nick Johnston, berusaha mengisi kekosongan melalui gaya berbeda. Namun karisma Hinds terlalu kuat untuk diisi darah baru ini. Teknik permainan Johnson terlalu ‘halus’ dibanding Hinds yang cenderung abrasif dan ugal-ugalan.Toh, upaya Johnston untuk menjaga identitas dirinya layak diapresiasi. Ia berhasil membangun squad enerjik dengan Bill Kelliher yang tampil nyaris tanpa cela. Riff-riff padat menjadi alasan mengapa ia masih menjadi salah satu gitaris terbaik di musik metal modern. Growl-nya sangat mantap!

Ada pun Brann Dailor tetap merupakan fenomena langka: drummer dengan teknik luar biasa yang mampu menyumbang vokal bersih secara konsisten tanpa kehilangan presisi permainan. Mastodon mengakhiri permainannya selama 1 jam 15 menit dengan “Blood and Thunder”.

Setelah jeda 30 menit, terdengar intro “The Number Of The Beast” dimedley dengan “Blues Brothers”. Lalu “Among The Living” dan “Got The Time” serta-mertamenciptakan pusaran moshpit di bagian depan panggung. Terlebih ketika “Madhouse” dan “Caught in a Mosh” saling susul. Sebuah ritual yang enak dinikmati oleh pandangan mata.

Selain diperkuat oleh gitaris Jonathan Donais yang bergabung sejak 2013, malam itu terlihat Darby Todd, drummernya Devin Townsend, yang sudah sering menggantikan Charlie Benante kalau jadwalnya bentrok dengan Pantera. Saat ini Benante tengah beristirahat untuk mengembalikan kondisinya setelah mengalami cedera tangan beberapa waktu lalu.   

Secara skill Todd sangat mumpuni. Ia dinilai berhasil mempertahankan hook khas Anthrax. Sound drum-nya pun mirip karena dia memang menggunakan drum set nya Benante. Kalau pun ada yang terasa berbeda, tak lain adalah tempo lagu yang terdengar rada lambat.  Konon hal ini disesuaikan ritme gebukan Benante dalam beberapa tahun belakangan. Mungkin bagi yang sempat menonton mereka di JogjaRockarta Festival bisa membuat perbandingan.

Yang menarik, Anthrax tidak hanya mengandalkan hit nostalgia. Mereka menyisipkan “Breathing Lightning” dan materi baru “It’s for the Kids”, sekaligus membuktikan bahwa band ini masih terus bergerak maju.

Joey Belladonna & Scott Ian – Anthrax. Staminanya gila untuk rocker berusia kepala enam. (Billboard/Roy Rochlin/GI)

Untuk ukuran musisi metal usia 65 tahun vokal Joey Belladonna terbilang masih mantap. Melengking abis ! Terbukti masih kuat membawakan “Metal Thrashing Mad” dan “Medusa” yang full power.

Scott Ian tampil seperti biasanya: riff tajam, gestur ikonik, serta energi yang seolah tidak pernah habis. Sosoknya tetap kokoh sebagai ikon Anthrax. Frank Bello membuat panggung terus bergerak. Permainan bassnya agresif dan nge-groove. Ia juga sangat aktif menciptakan interaksi dengan penonton.

Sementara itu Jon Donais menghadirkan beberapa atraksi solo yang bersih dan semakin mempertegas bahwa sosoknya menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas Anthrax modern.

Ketika “Antisocial” dibawakan, beberapa penonton terlihat ikut menyanyikannya namun menggunakan bahasa Prancis.  Maklum, karena lagu itu aslinya adalah lagu band hard rock asal  Prancis. Namun tak urung terkesan lucu.

Puncaknya tentu saja ketika “Antisocial”, “Indians”, dan “I Am the Law” dimainkan secara berurutan. Sulit membayangkan kombinasi lagu lain yang lebih efektif dibanding tiga lagu tersebut. (*)

Penulis: Dikyana Hidayat dari Prancis. Editor: Denny MR Foto Image: Instagram @Anthrax

Visited 9 times, 1 visit(s) today
Close Search Window
Close