KamaMusik.Id. Ada konser yang ditonton. Ada konser yang dialami. Penampilan Bryan Adams dalam Roll With The Punches Tour di Beach City International Stadium Ancol, 3 Februari 2026, jelas masuk kategori kedua.
Malam itu dimulai dengan transisi yang terasa alami. Rony Parulian membuka konser pukul 19.00 WIB, menyambut penonton yang masih menyesuaikan diri dengan venue. Lagu-lagu seperti Sepenuh Hati, Mengapa, dan Angin Rindu bekerja sebagai pemanasan—cukup untuk menarik perhatian tanpa memaksakan euforia.
Energi penonton mulai naik ketika Ari Lasso mengambil alih panggung lewat Mengejar Matahari. Sebelum menyanyikan Hampa, taanpa ia menyebut dirinya penggemar Bryan Adams sejak muda, sebuah pengakuan yang terasa jujur dan relevan dengan mayoritas penonton malam itu. Kehadiran Andra Ramadhan sebagai kejutan, lewat kolaborasi Rahasia Perempuan dan Separuh Nafas, semakin menguatkan nuansa nostalgia. Sebuah pembuka yang terasa matang, bukan sekadar formalitas.

Sekitar 30 menit kemudian, barulah Bryan Adams muncul—bukan dari panggung utama, melainkan dari sisi kiri penonton, berdiri di panggung kecil di tengah venue. Pilihan ini segera menghapus jarak antara musisi dan audiens. Sama sekali tidak ada sekat. Dengan hanya berbekal gitar akustik, ia membuka lewat Can’t Stop This Thing We Started, disusul Straight From The Heart. Sampai di sini emosi penonton sudah utuh sepenuhnya. Koor massal mengalir tanpa perlu komando berlebihan.
Momen visual paling mencuri perhatian hadir saat Roll With The Punches dimainkan. Sarung tinju raksasa yang dikendalikan drone melayang di atas venue—detail teatrikal yang tidak berlebihan, justru menambah keseruan. Setelah energi terkuras lewat 18 Til I Die, tempo diturunkan melalui Please Forgive Me. Ratusan tangan terangkat memegang ponsel, bukan semata untuk merekam, melainkan untuk mengabadikan perasaan.
Puncak emosional malam itu datang ketika Heaven dikumandangkan. Dari tempat saya berdiri, terdengar ribuan suara dari lintas generasi—Gen X, milenial, hingga Gen Z—menyanyikan lirik demi lirik. Di titik itu, lagu ini tak lagi sekadar hit era 80-an, melainkan ruang bersama untuk mengingat masa muda masing-masing. Merinding, itu kalimat paling tepat untuk menggambarkan suasana.
Sebagai penampil berpengalaman, Bryan Adams menunjukkan kecermatan dalam hal merancang setlist. Ia mengatur naik-turun emosi dengan presisi: dari Heat of The Night dan Make Up Your Mind yang menghentak, menuju Have You Ever Really Loved a Woman yang intim, lalu kembali meledak lewat So Happy It Hurts dengan kemunculan balon mobil raksasa yang kembali dikendalikan drone. Di penghujung pertunjukan, Everything I Do (I Do It For You) menggema dan dinyanyikan hampir tanpa jeda oleh penonton.

Di Indonesia, rilisan 18 Juni 1991 ini harus diingat sebagai sebagai single pertama yang dijual dalam bentuk kaset dan terjual laris. Seperti diketahui, peredaran kaset Barat di kita saat itu tidak mengenal tradisi penjualan single, melainkan album penuh.
“Everything I Do (I Do It For You) memecahkan rekor sebagai single pertama yang dijual di Indonesia dalam format kaset dan meledak,” kata Peter Phang dari PT Suara Sentral Sejati, distributor yang saat itu memegang lisensi produk A&M, label yang membawahi Bryan Adams.
Selain lirik sederhana namun dibungkus oleh melodi yang kuat, popularitas lagu ini terangkat setelah menjadi bagian dari soundtrack film Robin Hood dengan bintang Kevin Coastner. Single ini memenangi penghargaan Grammy untuk kategor Best Song Written dan Visual Media.
Setelah memperkenalkan personel pengiring setianya—Keith Scott (gitar) dan Mickey Curry (drum), yang telah bersamanya lebih dari empat dekade—rangkaian penutup dimulai dengan Back To You. Lalu ketika riff pembuka Summer of ’69 terdengar, seluruh venue berdiri, melompat, dan bernyanyi bersama.
I got my first real six-string/ Bought it at the five-and-dime/ Played it ‘till my fingers bled/ Was the summer of ’69!

Yang mengagumkan. sepanjang 2,5 jam dan membawakan 28 lagu, Bryan Adams tampil nyaris tanpa jeda, bahkan tanpa terlihat berhenti minum. Di usia 66 tahun, stamina dan konsistensinya terasa luar biasa.
Konser ditutup dengan All For Love, pilihan yang tepat untuk mengakhiri malam dengan nada syahdu. Lampu meredup, suara merangkum emosi, dan penonton perlahan kembali ke realitas.
Roll With The Punches Tour di Jakarta bukan sekadar konser ajang nostalgia. Ia adalah pengingat bahwa lagu-lagu tertentu tidak pernah benar-benar menua—ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk dinyanyikan kembali bersama oleh generasi yang berbeda. Salut untuk Rajawali Indonesia yang membuka tahun 2026 dengan pertunjukan yang tak hanya terdengar, tetapi juga terasa. (*)
Teks dan foto : Reza Kodok. Editor: Denny MR