Kamarmusik.id — Salah satu ruangan di Memorial Sloane Kettering Cancer Center, New York, itu terasa hangat. James F. Sundah terbaring dikelilingi oleh sang istri Pricilla (Lia) Sundah Suntoso – seorang pengacara imigrasi, Cholil Mahmud (Efek Rumah Kaca) dan istrinya, Irma Hidayani serta beberapa kerabat dekat. Mereka berusaha menghibur James dengan menyanyikan beberapa lagu ciptaannya seperti “Jeritan Seberang”, Citra Biru” dan “Lilin-Lilin Kecil”.
“Bahkan ketika daya ingatnya semakin melemah Mas James tetap bersemangat ikut menyanyi walau pun melalui gerakan tangan,” cerita Cholil yang setiap hari bersama Irma datang menjenguk.
Pada 2024 James F. Sundah diketahui menderita kanker paru-paru. Tim dokter memvonis usianya hanya akan bertahan tiga bulan, namun kenyataanya meleset. Atas desakan sahabatnya, Naratama – pengamat musik dan produser indie di New York, James bersedia mengumumkan kondisi dirinya ke publik. Naratama sendiri yang menyiapkan narasinya. Tempat tinggal mereka kebetulan berdekatan.

Sejak itulah ia berjuang keras tanpa kenal lelah menjalani proses penyembuhan. Hari-hari selanjutnya ia lewati dengan intens mengamati perkembangan musik dalam negeri. Pada 15 Oktober 2025 silam ia merilis karya terakhirnya, “Seribu Tahun Cahaya” yang dinyanyikan oleh penyanyi muda berbakat Claudia Emmanuela Santoso dan ia persembahkan khusus bagi isteri tercinta.
Rabu, 5 Mei 2026 (waktu New York), James terlihat mengenakan kursi roda berkeliling area sekitar rumahnya, ditemani oleh Lia dan Irma. Mereka singgah di taman untuk menikmati es krim.
Keesokan harinya, Naratama tengah ngobrol dengan Adi Adrian (KLa Project) melalui panggilan WhatApps ketika menerima kabar dari asisten Lia bahwa James F. Sundah telah mengembuskan napas. Ia pun segera bergegas.
“Jadi, musisi pertama yang mengetahui kepergian Mas James, ya Adi itu,” katanya.
James Freddy Sundah berpulang pada Kamis, 7 Mei 2026 pukul 11.28 pagi waktu New York (EST), dalam usia 70 tahun dengan dikelilingi oleh istri, anak, dan keluarganya tercinta.
Lahir di Semarang tanggal 1 Desember 1955, James memiliki kemampuan berkelebat di antara beragam tema lagu. Ketertarikannya pada peristiwa politik ia tuangkan dalam lagu “Jeritan Seberang” (Chrisye – Jurang Pemisah, 1977 ). Ia mengkritik perbedaan sosial di tengah masyarakat urban lewat “Sakukurata” yang berirama disko (James F. Sundah & trio Jala-Jala, Ozon, 1989).
Meski demikian, publik lebih mengenalnya sebagai pecipta lagu-lagu bernuansa romantis. Melodi ciptaannya amat terstruktur dengan kedalaman lirik yang kerap disisipi bahasa metafora. Penguasannya pada instrument piano dan keyboard memungkinkan setiap karyanya mencapai bentuk sesuai imajinya.
Ia berhasil mengeksploitasi nada rendah pada vokal Vina Panduwinata lewat “Citra Biru”. Sebuah nomor balada yang secara teknis memiliki tingkat kesulitan tinggi bagi seorang pendatang baru. Inilah salah satu masterpiece-nya yang kelak menjadikan Vina sebagai penyanyi wanita dengan karakter vokal paling seksi negeri ini. Sementara untuk Ruth Sahanaya ia justru menampilkan sisi liar keremajaannya lewat lagu “Amburadul”. James menghindari kelembutan vokal Ruth seperti kebanyakan dilakukan oleh pencipta lagu lain.
Melalui kejelian tersebut, karya James F. Sundah merupakan karpet merah bagi kelahiran nama besar Chrisye, Vina Panduwinata mau pun Ruth Sahanaya.
Sebagai pencipta lagu, karyanya mampu melintasi zaman. Musikalitasnya bertebaran pada album sejumlah penyanyi solo seperti Krisdayanti, Titi DJ, Nicky Astria, Sheila Majid dan banyak lagi.
James juga gigih memperjuangkan penegakan hak cipta dalam rangka pengembangan ekosistem musik Indonesia. Wawasannya yang luas pada bidang seni, budaya, politik dan teknologi menjadikan dirinya muara pengetahuan. Tulisannya muncul dalam Jurnal Hukum Internasional Universitas Indonesia dan berbagai media. Berulangkali dirinya mewakili Indonesia pada pertemuan tingkat internasional.

Ia pernah menjabat sebagai Ketua Departemen Informasi Teknologi di Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Penata Musik Rekaman Indonesia (PAPPRI), serta menjadi anggota Board Yayasan Karya Cipta Indonesia (KCI). Kemudian menjabat komisoner Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LKMN) periode 2018 sebelum kemudian membawahi Bidang Hubungan Antar Lembaga dan Hubungan Antar Masyarakat periode (2019). Semua ditekuninya hingga kesehatannya meringkih.
Naratama punya cerita menarik. Saat ia membisikan salam dari teman-temannya WhatsApp Group Swara, mata James F. Sundah nampak berkaca-kaca ketika didengarnya nama Sylvia Saartje.
“Wah, Jippie …”
“Kok Jippie, Mas?” Tanya Nara.
“Iya, itu nama panggilannya…”
Sylvia Saartje, penyanyi rock wanita asal Malang, mengaku terharu mendengarnya. Ia teringat pernah menyanyikan karya James F. Sundah berjudul “Tembang Puspita” untuk album solo ketiganya, Mentari Kelabu (Irama Tara, 1980).
Menjelang pengisian vokal, ia diminta untuk tidak mengeluarkan lengkingan yang telah menjadi ciri khasnya di atas panggung. Sebaliknya diminta lebih fokus kepada penghayatan lirik. Menurut Jippie proses rekaman lagu tersebut berlangsung one take. Setelah itu ia kembali ke Malang ditemani ibunya, Christina Tuyem.
“Di piringan hitam tertulis “Tembang Puspita”, padahal judul sebenarnya “Tembang Respati” hehe,” kata wanita kelahiran Arnhem, Belanda, yang dijuluki Lady Rocker Indonesia pertama tersebut.

James Freddy Sundah dimakamkan di St. John Cemetery, New York pada 11 Mei 2026. Ia kini berada di ruang hening, meninggalkan duka mendalam. Namun seperti sihir “Lilin’Lilin Kecil”, dedikasinya kepada dunia musik yang dicintainya akan terus berpijar. Karya dan pemikirannya akan memeluk generasi demi generasi.
Cholil Mahmud tidak akan lagi memainkan gitar akustik. Jejak langkahnya yang panjang dan penuh riak itu siap diabadikan dalam sebuah biografi oleh Wendi Putranto, juru bicara pihak keluarga.
Penulis: Denny MR. Foto image: Priscilia Sundah-Suntoso.