kamarmusik.id. Promotor Live Nation sukses mempertemukan dua veteran rock: Def Leppard dan Extreme, bertempat di Accor Arena, Paris, 8 Juli 2026. Sebab, tidak semua tur mampu menghadirkan keseimbangan antara kekuatan musikal dan daya tarik komersial. Kedua band tersebut memperlihatkan dua wajah hard rock berbeda: satu mengandalkan keliaran teknik bermain, satunya lagi mengandalkan katalog lagu yang nyaris tak pernah gagal membakar arena.
Sebagai orang melayu, saya selalu menghindari nonton di kelas festival karena postur penonton bule biasanya akan menghalangi pandangan. Lebih baik duduk manis di tribun seharga 90€. Ada golden pit yang persis depan panggung itu sekitar 150€ dan tribun sisi panggung sekitar120€.
Saya sengaja berangkat naik kereta pagi ke Paris untuk menghindari jadwal siang yang banyak dibatalkan akibat hawa panas yang melanda Prancis belakangan ini. Pada suhu udara di atas 36C hingga 44C biasanya mengakibatkan rel kereta melengkung dan sangat membahayakan perjalanan.
Extreme

Tugas ebagai band pembuka sebenarnya tidak ringan. Namun Extreme melewatinya dengan ringan. Sejak dentuman “Decadence Dance”, langsung terlihat bahwa status mereka bukan sekadar band nostalgia era 1990-an. Pada backdrop terlihat sampul album Pornograffitti lengkap dengan kelap kelip persis neon nightclub, memberi imaji kawasan Broadway. Setelah #Rebel dari album terakhir, Six (2023), disusul “Rest In Peace”.
Sampai di sini, yang hadir di atas panggung seperti Nuno and the Band. Pemetik bass Pat Badger dan drummer Kevin Figueiredo berduet dengan ketat sebagai rhytm section. Groovy dan tanpa cacat tapi sama sekali tidak komunikatif. Vokalis Gary Cherone tetap sebagai frontman yang enerjik. Ia terus bergerak dari sisi ke sisi panggung tanpa harus kehilangan kontrol vokalnya yang tetap bertenaga. Namin komunikasinya dengan penonton juga minim.
Sebaliknya Nuno justru lebih terlihat sebagai frontman. Auranya sebagai dewa gitar sangat menghipnotis, gesturnya sangat harmonis dengan entakan nada gitar. Memberikan tontonan yang enak dilihat. Enteng saja ia nyerocos soal umur, berterima kasih kepada para kru sampai menyoal hawa panas di Eropa.

Nuno menyita perhatian penonton saat memainkan nomor instrumental “Midnight Express” dan “Flight of the Wounded Bumblebee”. Gerakan jemarinya luar biasa presisi, cepat, dan bersih. Ia memainkan bagian-bagian rumit tanpa terlihat memaksakan diri, seolah seluruh teknik tersebut mengalir begitu saja dari gitar yang melekat di tubuhnya.
“Play With Me” dibuka dengan intro “We Will Rock You” milik Queen. Seluruh arena spontan mengikuti tepukan tangan khas lagu tersebut sebelum Extreme melesat ke salah satu nomor paling eksplosif dalam repertoarnya. Momen itu menjadi bukti kepiawaian mereka mengendalikan atmosfer penonton.
Kontras terjadi ketika Gary mengajak penonton memasuki suasana yang lebih intim melalui “Hole Hearted”. Tetapi puncak emosional baru benar-benar hadir saat intro “Stairway to Heaven” mengantar “More Than Words”. Ribuan penonton ikut bernyanyi, menjadikan lagu akustik itu sebagai salah satu momen paling hangat sepanjang malam.
Extreme kemudian menutup penampilan dengan “Get the Funk Out”, “Rise”, dan medley penghormatan kepada Ozzy Osbourne melalui “I Don’t Know”, “Bark at the Moon”, serta “Crazy Train”. Tribute itu terasa tulus, bukan tempelan. Paris memberikan tepuk tangan panjang saat mereka meninggalkan panggung.

Malam itu Accor Arena ternyata tidak sepenuhnya diisi penonton. Balkon paling atas kiri kanan panggung ditutup oleh terpal dan balkon tengah kiri kanan pun hanya terisi sebelah kiri. Ada dua kemungkinan : waktu pertunjukan berlangsung pada hari kerja atau memang harga tiketnya dianggap kemahalan.
Ticketmaster nampaknya memang sudah mulai menguasai Eropa, meskipun Uni Eropa punya standar sendiri soal harga tiket namun cengkraman kapitalisme rupanya sulit dihindari. Terbukti harga tiket semakin melonjak belakangan ini. Lihat saja, Live Nation sebagai mitra Ticketmaster resmi telah membeli La Defense Arena di Paris pasca sukses membeli beberapa festival musik di Prancis.
Untungya seorang pemandu kursi tiba-tiba menawarkan saya seandainya berniat pindah ke balkon bawah. Ini kesempatan yang sulit ditolak. Soalnya di tribun atas itu sound-nya jelek, sementara dari tribun bawah sound-nya terdengar jauh lebih menggelegar !
Def Leppard

Def Leppard akhirnya muncul tepat pukul 9.45. Panggun megah dengan laser dan tata cahaya berbentuk segitiga mengingatkan akan desain album Hysteria. Sambutan pada single terbaru “Rejoice” masih adem. Indikasi bahwa lagu ini belum terlalu melekat di telinga penggemar rock. Penonton baru terlonjak saat “Animal” dan “Let’s Get Rocked” dimainkan. Seluruh arena pun ber sing a long. Def Leppard memahami betul bahwa katalog lagu mereka adalah senjata utama.
Namun ketika mereka mengcover “Personal Jesus”-nya Depeche Mode, Def Leppard tiba-tiba menjadi seperti band hard rock/alternative yang berusaha terlihat modern dengan cara memasukan unsur musik elektronika. Hasilnya, hambar. Sebuah langkah buruk dari band sekelas mereka.

Vokalis Joe Elliott tampil jauh dari kesan agresif. Ia tidak berlarian ke sana kemari seperti halnya Gary Cherone. Akan tetapi dengan gestur sederhana dan komunikasi yang santai, Elliott berhasil menjaga koneksi dengan belasan ribu pasang mata yang terus tertuju kepadanya.
Gitaris Vivian Campbell sepertia biasa menampilkan permainan rapih dan presisi. Bahkan terlalu rapih. Namun tetap sulit baginya untuk menggantikan sound-nya Steve Clark. Ini terasa pada nomor intrumental “Switch 635”.
Di sisi lain, Phil Collen menjadi personel paling ekspresif. Mengenakan ciri khas koas tanpa lengan, ia terus bergerak sepanjang konser sambil melempar senyum. Permainan gitarnya tetap tajam dan penuh energi – kadang terlalu berisik. Toh, harus diakui duet gitar Campbell – Collen merupakan identitas kuat untuk Def Leppard hingga hari ini. Akan halnya Rick Savage stabil menjaga fondasi musik tetap kokoh melalui permainan bass yang sederhana tetapi efektif.

Sementara Rick Allen, ya Rick Allen, dengan kit drum yang telah menjadi bagian dari sejarah rock dunia, kembali membuktikan mengapa ia tetap menjadi inspirasi. Permainannya tidak berlebihan, tetapi setiap pukulannya memiliki bobot luar biasa.
Def Leppard pantas menjadi contoh band yang berhasil menjaga soliditas. Mereka tidak henti diguncang masalah. Dimulai dari tewasnya Steve Clark, kecelakaan tragis Rick Allen yang merenggut sebelah tangannya hingga Vivian Campbell yang terserang kanker.
Mereka sudah naik kelas dari sebuah band rock menjadi keluarga rocker. (*)
Penulis: Dikyana Hidayat Editor: Denny MR. Foto image: Dikyana Hidayat