Written by • 7:22 pm• Feature

Duet Maut yang Mengubah Industri Kaset

Perusahaan rekaman Yess dan Hidayat selalu menarik untuk dibicarakan. Keduanya sama-sama memanfaatkan peluang yang ditawarkan teknologi kaset dan menciptakan lompatan besar dalam sejarah industri rekaman nasional.

Kamarmusik.id Memasuki dekade 1970-an, industri rekaman Indonesia mengalami perubahan besar. Piringan hitam yang sebelumnya menjadi medium utama distribusi musik mulai mendapatkan ancaman dari pesaing baru: kaset pita. Bentuknya ringkas, mudah dibawa, relatif murah, dan tidak memerlukan perangkat pemutar yang rumit. Bagi konsumen, kaset pita menawarkan kemudahan. Bagi pengusaha, ia membuka peluang bisnis yang jauh lebih luas.

Namun ada yang lebih serius : teknologi kaset mengubah cara musik asing masuk ke Indonesia. Sebelumnya, penggemar musik Barat harus berburu piringan hitam impor yang harganya relatif mahal dan ketersediaannya terbatas. Dengan kaset, album-album tersebut bisa direkam ulang, digandakan, lalu dipasarkan dengan harga yang lebih terjangkau. Kemudahan ini tidak bisa disaingi oleh teknologi piringan hitam.

Dari sinilah tumbuh sejumlah perusahaan rekaman yang mengkhususkan diri pada produksi kaset musik Barat. Mereka memanfaatkan piringan hitam sebagai sumber rekaman, kemudian memindahkan isinya ke pita kaset, mengganti sampul album sesuai selera. Lebih jauhnya, teknologi kaset memungkinkan perusahaan rekaman membuat kompilasi versi sendiri yang sesuai dengan selera kuping Indonesia. 

Fenomena ini mendorong terbentuknya Asosiasi Perekam Nasional Indonesia (APNI) yang diketuai oleh Pungky Purwadi, B.A pada 1975 untuk menghimpun mereka. APNI menjadikan bisnis ini berkembang menjadi sebuah ekosistem industri yang cukup terorganisasi. Anggotanya terdiri dari Aquarius, Hins Collection, Nirwana, TOP, Eterna, Contessa, Perina, Saturn, King’s Record, Atlantic Records, Yess dan Golden Lion.

Bandung menjadi salah satu pusat kegiatan yang menarik. Kota ini memiliki komunitas pendengar musik yang aktif, toko-toko kaset yang berkembang, serta konsumen yang memiliki rasa ingin tahu tinggi terhadap musik-musik dari luar negeri. Pada titik inilah peranan penting Yess dan Hidayat muncul sebagai dua raksasa pra-lisensi.

Istilah pra-lisensi di sini untuk menggambarkan masa ketika mekanisme lisensi internasional atas rekaman asing belum berjalan sebagaimana kemudian diterapkan pada industri rekaman Indonesia.

Rumah Musik Progresif Bernama Yess

Pada akhir 1970-an, ada sebuah toko kaset di Jalan Veteran 107, Bandung, yang menjadi titik pertemuan para pencinta musik. Itulah toko Yess. Pengunjung denngan mudah dapat mengenali toko tersebut melalui kaca gelap dengan gambar drum dan siluet Bill Bruford, drummer Yes dan King Crimson.

Tersebutlah A Fung, pemilik usaha rekaman Diamond Records yang beroperasi sekitar 1972–1973. Dua tahun kemudian ia bergabung dengan Ian Arliandy dan Lhok yang lantas mendirikan Yess.

A Fung menangani proses perekaman ulang. Lhok mengurus kegiatan toko dan operasional sehari-hari. Sementara Ian Arliandy membangun karakter bisnis Yess. Di tangannya, Yess mulai memproduksi musik progresif, eksperimental, art rock, jazz-rock, dan berbagai bentuk musik lain yang saat itu tidak mudah diterima pendengar awam.

Nama-nama seperti Yes, Genesis, King Crimson, Emerson, Lake & Palmer, Van der Graaf Generator, Gentle Giant, Jethro Tull, Mike Oldfield hingga Tangerine Dream menjadi bagian dari semesta musikal Yess.

Ini bukan katalog yang dibangun semata-mata berdasarkan selera pasar. Terdapat  keberanian mereka untuk menawarkan musik yang dengan durasi panjang, kompleks, penuh perubahan tempo, permainan instrumental rumit, bahkan komposisi yang bagi pendengar pop biasa mungkin terasa tidak ramah. Pilihan menantang tersebut membuat Yess memiliki identitas yang berbeda dari banyak produsen kaset musik Barat lainnya.

Yess seolah memahami adanya ceruk berisi kelompok pendengar yang tidak puas hanya dengan mendengarkan lagu-lagu yang beredar di radio. Mereka ingin mengenal album secara utuh, memahami konsep musikal sebuah grup, dan mengikuti perkembangan musik yang lebih eksperimental.

Di sinilah Ian Arliandy memainkan peran penting. Ia bukan sekadar memilih judul album untuk dijual, melainkan membangun karakter katalog. Dalam wawancara yang dikutip Red Bull Music Academy, ia menjelaskan bahwa semakin tidak mudah dipahami musik progresif, semakin menarik baginya untuk memperkenalkan musik tersebut. Pemikiran ini tidak bisa disebut lazim, namun belakangan terbukti mendatangkan pendengar loyal.

Karakter fisik produk Yess juga mudah dikenali. Sampul kasetnya memiliki identitas visual tersendiri, dengan dominasi warna biru kehijauan yang kemudian menjadi salah satu ciri khasnya. Bagi kolektor, tampilan kaset Yess bukan sekadar kemasan, melainkan penanda sebuah periode ketika musik progresif mulai menemukan pendengarnya di Indonesia. Produk pertamanya adalah album Fragile dari Yes dengan nomor 001.

Dari segi kualitas audio, Yess memiliki perhatian yang cukup serius terhadap proses perekaman ulang. Kualitas suara merupakan prioritas bagi mereka. Hal ini penting. Sebab, menggandakan musik dari piringan hitam ke kaset bukan pekerjaan mudah. Kondisi piringan hitam, kualitas turntable, cartridge, proses transfer, tape deck, jenis pita, hingga pengaturan level rekaman ikut menentukan hasil akhir.

Yess berusaha mempertahankan kualitas reproduksi yang baik agar musik yang kompleks tetap dapat dinikmati melalui kaset. Tentu saja, kualitas setiap rilisan tidak bisa dianggap seragam. Ada faktor usia sumber master, kondisi piringan hitam, serta mutu pita kaset yang digunakan.

Namun, jika dibandingkan dengan kaset kompilasi yang dibuat secara serampangan, pendekatan Yess memperlihatkan kesadaran bahwa kualitas suara merupakan bagian penting dari produknya. Maka,  keberadaan toko Yess memperlihatkan bahwa Yess bukan hanya perusahaan pengganda kaset. Ia juga menjadi semacam pusat informasi dan distribusi musik bagi komunitas pendengarnya.

Kampus Pendidikan Musik Rock

Pengaruh terbesar Yess barangkali bukan terletak pada angka penjualan, melainkan pada perubahan wawasan musikal pendengarnya. Pada masa ketika akses terhadap album impor masih terbatas, Yess memperkenalkan banyak nama yang sebelumnya sulit dijangkau. Anak-anak muda dapat menimba ilmu tentang komposisi, harmoni, teknik permainan instrumen, aransemen, dan kemungkinan-kemungkinan baru dalam musik rock.

Di sinilah peran Yess menjadi menarik sekaligus kontradiktif.

Secara bisnis, Yess mendapatkan keuntungan dari reproduksi rekaman yang hak penggunaannya tidak mereka peroleh. Dari sisi penyebaran kebudayaan musik, perusahaan ini membantu membangun generasi pendengar yang memiliki wawasan jauh lebih luas daripada apa yang ditawarkan pasar musik arus utama.

Bukan tidak mungkin, sebagian musisi Indonesia yang kemudian bereksperimen dengan progressive rock, jazz-rock dan art rock mendapatkan referensi awal melalui kaset-kaset Yess.

Yess berhenti beroperasi pada 1988 dengan kuantitas produksi mencapai 731 rilisan. Namun pengaruhnya tidak serta merta berakhir. Kaset-kasetnya terus berpindah tangan, menjadi koleksi, dan bahkan diburu oleh penggemar musik progresif. Warisannya telah melampaui bisnis kaset. Ia membantu menciptakan pasar bagi musik yang sebelumnya dianggap terlalu rumit atau terlalu khusus untuk dijual secara luas.

Hidayat: Ruang Intim Musisi Jazz

Dalam periode yang sama dengan kemunculan Yess, sejumlah musisi jazz Indonesia tenngah berupaya untuk  membawa jazz keluar dari lingkungan klub dan panggung pertunjukan menuju industri rekaman. Jack Lesmana berada di garda depan dalam proses tersebut. Lalu Hidayat hadir memberikan ruang. Nama penting di balik perusahaan rekaman legendaris ini adalah B ill Firmansyah.  Ia tercatat sebagai produser sejumlah album, termasuk Semua Bisa Bilang milik Margie Segers dan Api Asmara milik Rien Djamain yang diproduksi pada 1975.

Berbeda dengan Yess yang lebih dikenal melalui katalog musik Barat, Hidayat mempunyai karakter usaha lebih kompleks.  Nama Hidayat muncul dalam dua kanal: sebagai produsen rekaman musisi Indonesia dan sebagai bagian dari jaringan usaha kaset musik Barat yang dikenal melalui Hidayat Audio dan Connoisseur.

Album Semua Bisa Bilang (1975) merupakan salah satu produk paling penting untuk dicatat. Menampilkan Margie Segers dengan Jack Lesmana sebagai pengarah musik dan Bill Firmansyah sebagai produser.

Menariknya, materi lagu yang dipilih tidak seluruhnya berangkat dari repertoar jazz yang asing bagi pendengar Indonesia. Sejumlah lagu yang sudah dikenal masyarakat diolah kembali dengan pendekatan jazz. Strategi tersebut membuat album ini memiliki dua kepentingan sekaligus: memperkenalkan jazz kepada pendengar pop dan memperlihatkan bahwa lagu populer Indonesia dapat memperoleh kehidupan musikal baru melalui aransemen jazz. Produksi album ini kerap disebut sebagai salah satu tonggak rekaman jazz Indonesia.

Dari sini bisa ditarik dua kesimpulan yang berbeda:  Yess memperkenalkan musik yang belum dikenal, Hidayat berusaha membawa musik jazz ke ruang konsumsi yang lebih luas melalui musisi dan repertoar Indonesia.

Sejumlah judul yang tercatat dalam katalog Hidayat atau Hidajat & Co., antara lain: Api Asmara – Rien Djamain (1975), Jazz Masa Lalu & Masa Kini (1976), Bintang dan Bunga – Ati Pramono (1976), Manisku – Broery Pesolima (1976), Air Mata – Rien Djamain (1976), Kau dan Aku – Bubi Chen (1976), Tuan dan Kami – Rien Djamain (1977) dan Selembut Kain Sutera – Bubi Chen (1977).

Keterlibatan Jack Lesmana menjadi salah satu kekuatan Hidayat. Ia bukan sekadar pemain atau pengarah musik, tetapi figur yang memahami bagaimana sebuah rekaman harus dibangun agar memiliki karakter musikal yang kuat. Hidayat mempunyai hubungan dengan komunitas jazz yang serius, bukan sekadar memanfaatkan nama-nama populer untuk menjual kaset.

The Rollies dan Energi Panggung

Salah satu pencapaian menarik dari eksistensi Hidayat adalah dokumentasi Rollies.

Rollies Live Show yang merekam penampilan grup tersebut di Taman Ismail Marzuki pada 2 dan 3 Oktober 1976 memiliki nilai penting sebagai dokumentasi pertunjukan musik Indonesia. Rekaman live seperti ini bukan pekerjaan sederhana. Produser harus berhadapan dengan persoalan akustik ruangan, keseimbangan instrumen, mikrofon, dinamika permainan, serta keterbatasan teknis perekaman langsung.

The Rollies sendiri merupakan kelompok yang memiliki karakter musikal kuat. Perpaduan brass section, funk, soul, rock dan jazz membuat mereka berbeda dari kebanyakan grup pop pada masa itu.

Kehadiran rekaman live tersebut memperlihatkan bahwa Hidayat tidak hanya tertarik memproduksi album studio, tetapi juga memiliki perhatian terhadap dokumentasi performa musisi.

Selain Rollies Live Show, album Tiada Kusangka (1976) juga tercatat di bawah label Hidayat, dengan Bill Firmansjah sebagai produser dan Benny Likumahuwa terlibat dalam penataan rekaman serta aransemen.

Hidayat tidak hanya berhubungan dengan produksi album musisi Indonesia. Dalam perkembangan bisnis kaset musik Barat, muncul pula nama Hidayat Audio dan Connoisseur. Yang terakhir ini dikenal mengeluarkan sejumlah rekaman jazz mancanegara yang sumbernya berasal dari rekaman asing tanpa mekanisme lisensi sebagaimana berlaku dalam industri rekaman resmi.

Pilihan tersebut masuk akal secara bisnis. Jazz memiliki pasar yang relatif khusus, tetapi penggemarnya cenderung memiliki ketertarikan tinggi terhadap album-album yang tidak mudah ditemukan. Connoisseur menawarkan jawabannya.

Katalog semacam ini juga memperluas akses terhadap jazz internasional. Pendengar Indonesia dapat mengenal lebih banyak musisi dan repertoar yang sebelumnya sulit dijangkau. Dari segi pencapaian aspek kualitas rekaman, Hidayat memperlihatkan perhatian terhadap kualitas musikal dan penggarapan rekaman.

Padahal dengan teknologi yang masih sederhana, rekaman jazz memiliki tantangan tersendiri. Permainan piano, bass, drum, tiupan saksofon, brass section dan vokal membutuhkan keseimbangan frekuensi serta ruang suara yang memadai. Rekaman yang terlalu padat atau kehilangan dinamika akan mengurangi karakter permainan musisi.

Di sinilah peran Jack Lesmana menjadi modal penting bagi Hidayat dalam menghasilkan rekaman yang memiliki identitas musikal.

Hidayat berhenti berproduksi pada 1988 lewat album terakhir Kedamaian yang menampilkan Bubi Chen, maestro kecapi suling Uking Sukri, Dede Suparman dan Endang Sukandar. Khsus untuk album ini dilengkapi dengan pengantar kata dari Harry Roesli. 

Dua Karakter, Satu Pengaruh Besar

Yess mempunyai kekuatan pada kurasi dan distribusi musik yang tidak biasa, sedangkan Hidayat memiliki kekuatan pada keterlibatan dalam produksi rekaman musisi Indonesia, khususnya jazz. Keduanya memperlihatkan bahwa industri kaset pada 1970-an tidak hanya dibentuk oleh perusahaan besar yang memiliki fasilitas rekaman dan jaringan distribusi nasional. Ada pula perusahaan-perusahaan independen yang berani mengambil ceruk pasar tertentu.

Bahkan, dalam beberapa hal, perusahaan kecil justru lebih leluasa menentukan arah musikal produknya.

Sekarang, ketika industri musik sudah bergerak menuju distribusi digital, keberadaan dua perusahaan rekaman itu justru memiliki nilai historis yang semakin menarik. Kaset Yess menjadi barang koleksi karena katalog musiknya yang luas, identitas visual yang khas, dan banyaknya judul yang sulit ditemukan dalam edisi fisik lain. Sementara itu, warisan Hidayat merupakan bagian dari dokumentasi penting perkembangan musik populer dan jazz Indonesia.

Yess membantu memperkenalkan musik progresif kepada pendengar Indonesia. Hidayat memberi ruang bagi sejumlah musisi jazz lokal untuk menghasilkan album yang terdokumentasi dengan baik. Keduanya ikut memperluas pilihan musik yang tersedia bagi masyarakat ketika akses terhadap rekaman masih sangat terbatas.

Yess tidak mengikuti selera pasar pop. Hidayat tidak membatasi diri pada formula lagu populer yang sedang laku. Masing-masing memiliki identitas sendiri. Namun, keduanya pernah memainkan peran penting bagi perkembangan musik Indonesia. (*)

Penulis: Denny MR. Foto: Koleksi Denny MR

Visited 3 times, 1 visit(s) today
Close Search Window
↑
Close