Kamar Musik_Id. Lirik single terbaru dari Slank,“Republik Fufufafa”, terus menuai pro-kontra. Jagat maya ramai bukan main. Sebagian mengaitkannya dengan dukungan politik yang pernah mereka berikan kepada salah satu mantan Presiden RI. Sehingga lagu berirama rock n roll itu dimaknai sebagai ungkapan rasa sakit hati.
Slank terlihat cukup hati-hati dengan tidak menyebut nama tertentu, meski tema besarnya mengungkap fakta yang sesungguhnya sedang terjadi. Kondisi carut marut disemburkan melelalui kalimat luas tanpa rekayasa. Jujur, sebagai sebuah kritik penyampaiannya tidak seprovokatif Stand Down Margareth-nya The Beat. Sebuah ekspresi kemarahan terhadap kebijakan Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher yang dianggap destruktif atas kesejahteraan sosial rakyat.
Stand down Margaret/You tell me how can it work in this all white law (Mundurlah Margaret, katakan padaku bagaimana ini bisa berhasil dalam hukum yang serba kulit putih ini).
Kepekaan dalam mengangkat berbagai isu sosial dan politik ini sudah diperlihatkan sejak debut album Suit-Suit he-he Gadis Sexy (ProGram, 1990). Tradisi ini memberinya stempel ‘suara dari jalanan’. Pahlawan kaum marjinal. Baik melalui musik mau pun langkah konkret, secara terang benderang mereka telah menyatakan sikap politiknya. Hal yang mungkin dihindari oleh sebagian musisi.

Apa pun alasannya, sah saja sebenarnya. Bukankah UU 9/1998 menjamin kebebasan mengeluarkan pendapat?
Dari sudut perspektif yang lebih luas, langkah tersebut seperti yang digambarkan dalam Talkin’ ‘bout a Revolution-nya Tracy Chapman, yaitu tentang bangkitnya kesadaran kaum akar rumput terhadap ketimpangan system sosial dan ekonomi.
“Take what’s their” (mengambil apa yang menjadi hak mereka).
Masalahnya, negara kita sedang tidak baik-baik saja. Rakyat membutuhkan sarana pelampiasan – untuk tidak mengatakan kambing hitam – rasa frustrasi. Dan, pemantiknya datang berupa lagu berjudul Polisi Baik Hati (2023). Single yang dibuat dalam rangka menyambut Hari Bhayangkara ke-77 itu, ditambah perilisan Republik Fufufafa, seperti bensin yang menyiram bara. Komika Gianluigi Christoikov, misalnya, menilainya tidak tulus.
Akan lebih baik jika publik menyikapinya secara bijak dengan menjadikan kehadiran single tersebut sebagai ruang diskusi untuk membangun kecerdasan.
Personel Slank sendiri menyadari betul akan risiko tersebut. Maka, ketika saya menanyakan pendapat tentang pro-kontra tang sedang berlangsung, Bimbim hanya tertawa.
“This is exactly what I want … hehe!”

Sebelumnya soal pengkambinghitaman ini pernah terjadi pada lagu Genjer-Genjer yang dipopulerkan oleh Bing Slamet dan Lilis Suryani. Temanya menceritakan penderitaan rakyat pada masa pendudukan Jepang. Namun kemudian dilarang pemerintah karena diasosiasikan dengan PKI pasca peristiwa G30S 1965. Menjelang tumbangnya Orde Baru, lagu tersebut direhabilitas. Kini piringan hitamnya termasuk barang langka.
Lagu Genjer-Genjer oleh diciptakan oleh seniman Banyuwangi, Muhammad Arif, sekitar 1942-1943.
Lagu berisikan kritik terhadap penguasa mulai merebak pasca lahirnya rezim Orde Baru. Saat rezim Orde lama berkuasa, bahkan cuma membawakan lagu Barat saja berisiko dijebloskan ke penjara. Cerita dibuinya Koes Bersaudara oleh Presiden Soekarno menjadi sejarah kelam betapa sempitnya ruang berekspresi anak band.
Namun terbukanya arus informasi budaya Barat tak serta merta membuat musisi bebas menumpahkan uneg-uneg, terutama bagi mereka yang bersuara kritis. Mendiang Harry Roesli dan Iwan Fals bukan sekali dua terpaksa berurusan dengan apara.
Aktivitas ‘Si Bengal dari Bandung’, meminjam judul buku biografi Harry Roesli karangan Idhar Resmadi, terus menerus diawasi. Mulai konser, pertunjukan teater dan berbagai kegiatan lainnya. Namun hingga wafat pada 11 Desember 2004, pihak bewajib tak kunjung berhasil menjebloskannya ke penjara.

Mengapa Harry Roesli ditakuti?
Secara musikal karyanya bersifat atonal dengan persilangan rock progresif, kontemporer dan teatrikal. Struktur aransemennya tidak terduga. Ia menyuarakan kebebasan dan menciptakan ruang kritik yang liar. Melalui musik eksperimental, ia membentuk kesadaran bahwa musik bukan sekadar hiburan. Ini berpeluang pada munculnya perlawanan sosial.
Beberapa ciptaannya yang sarat kiritik antara lain Don’t Talk About Revolution, Peacock Dog atau Malaria. Semua terdapat album “The Gang of Harry Roesly” (1973, Lion Records).
Dari sudut pandang politis, tema lagu-lagu di atas jauh berbahaya daripada sarkasme mau pun senjata. Namun pemerintah tidak pernah bisa menjeratnya karena kritik Harry disampaikan melalui bahasa simbol, bukan narasi langsung. Hukum tidak mampu menyetuhnya.
Berbeda dengan, misalnya, dengan karya Iwan Fals. Bahasa kritik dalam lagu-lagunya sederhana, jelas dan mudah ditangkap awam. Beberapa lagunya sempat dicekal Bento, Mbak Tini dan Surat untuk Wakil Rakyat yang selalu berkumandang saat terjadi aksi demo mahasiswa di depan Gedung MPR. Ia sendiri pernah diinterogasi dan mengalami penahanan pada era Orde Baru. Di era rezim yang sama, Mimpi di Siang Bolong milik Doel Sumbang juga pernah dilarang diputar.

Dalam perkembangannya lagu-lagu bertema kritik mengalami pergeseran. Bahasa simbol atau metafora dianggap tidak lagi efektif. Sebagai contoh, kini publik dengan mudah dapat mencerna bahwa lagu Di Udara (2007) dari Efek Rumah Kaca mengisahkan Munir, aktivis HAM yang tewas secara tragis.
Beberapa musisi lain memilih cara frontal dalam menyampaikan kritik dan berujung runyam. Cerita band Sukatani dengan lagu Bayar Bayar Bayar (2023) masih menyisakan kenangan buram bagaimana kebebasan berekspresi terus diberangus. Sempat ditarik dari platform streaming, dan sempat menyulut kemarahan publik, Bayar Bayar Bayar akirnya kembali tayang.
Catatan memprihatinkan dari heboh Sukatani adalah ketika duo Alectroguy (gitaris/produser, nama asli Muhammad Syifa Al Lutfi) dan Twister Angel (vokalis, nama asli Novi Citra Indriyati) terpaksa (atau dipaksa?) menanggalkan balaclava – penutup wajah yang menjadi idenditas mereka selama ini. Bagi anak band, identitas adalah kehormatan yang harus dipertahankan dengan segala cara. Hirarkinya di atas ubun-ubun.

Semangat perlawanan terhadap rezim yang dianggap otoriter juga digaungkan lewat lagu Pembebasan karya Safi’i Kemamang pada 1996. Beberapa tahun kemudian band punk Marjinal membawakan ulang tersebut dengan judul Buruh Tani. Kini gerakan aksi unjuk rasa mahasiswa dan buruh sepertinya menjadikan lagu tersebut sebagai anthem perjuangan mereka.
Kisruh Sukatani menambah panjang konflik antara musisi dengan pihak kepolisian. Di Amerika, pada 1992, kritik ektrem terhadap butalitas polisi dan system penegakan hukum yang dianggap menindas kalangan kulit hitam di AS, mendorong kelompok rap metal/crossover thrash Body Count untuk menciptakan lagu berjudul Cop Killer.
Penyampaian yang tidak kalah frontal datang dari Greenday melalui American Idiot (2004, Reprise). Billie Armstrong dan kawan-kawan menyerang pemerintah AS dan media massa karena mereka anggap telah menciptakan kepanikan dan kebingungan seningga generasi muda menjadi idiot. Tema lirik yang menyemburkan kemarahan juga terasa pada Killing in the Name dari Rage Against the Machine (1992, Epic Records), yang sampai sekarang menjadi salah satu lagu perlawanan paling ikonik terhadap kekerasan institusional, rasisme sistemik dan penyalahgunaan kekuasaan.
Seberapa jauh kritik sebuah lagu mampu mengubah kondisi sosial, ekonomi dan lingkungan? Saya teringat pada perbincangan beberapa tahun silam dengan Iwan Fals di kediamannya, Leuwinanggung.
“Kapasitas musisi itu hanya sebatas menyampaikan kabar tentang apa yang terjadi di lingkungan kita. Mengenai tindak lanjutnya ya, itu menjadi kewajiban bapak-bapak di pemerintahan. Itu sudah bukan tugas kami.” (*)
Penulis: Denny MR. Grafis: Junior Eka Putro.