Kamarmusik.id Setelah terbentuk lebih dari lima dekade, Rob Halford (vocal), Ian Hill (bass), Scott Travis (drum), Richie Faulkner (gitar) dan Andy Sneap (gitar) masih berdiri kokoh di atas panggung sebagai mesin heavy metal yang bekerja dengan disiplin spartan. Aura seperti itulah yang terasa saat mereka tampil di Le Zenith, Paris, 17 September 2026.
Judas Priest tidak datang untuk bernostalgia. Namun untuk mengingatkan bahwa mereka adalah ‘pemain lama’ yang tetap berbahaya. Usia menua tidak membuat kehilangan arah.
Dari formasi di atas tinggal Halford dan Hill yang merupakan anggota awal. Scott Travis bergabung kemudian dan ikut menjadi bagian penting perjalanan Priest selama puluhan tahun. Maka, kini beban terberat berada di pundak duet Richie Faulkner dan Andy Sneap yang melanjutkan pekerjaan yang dahulu menjadi wilayah K.K. Downing dan Glenn Tipton.
Ada satu kata kalau bicara soal konser Judas Priest : menyesal.
Ya, saya menyesal dahulu tidak sempat nonton mereka dahulu. Ketika mereka konser di Paris pada 2019 saya gagal nonton, padahal itu kesempatan terakhir formasinya masih di perkuat oleh Glenn Tipton. Begitu pun ketika mereka konser di Carcassonne pada 202,5 kembali tersebut kembali luput karena saya ada jadwal manggung.
Konser dibuka oleh Nevermore yang bermain selama 45 menit. Meski tidak terlalu menarik, saya beruntung bisa menonton gitaris hebat Jeff Loomis.

Dan tepat pukul 8.45 terdengar intro “War Pigs” milik Black Sabbath, histeria pun menggema. Panggung tertutup tirai bergambar logo Judas Priest, Devil Pitchfork, yang dalam mitologi penggambaran garpu Iblis ini merupakan gabungan unsur dari dewa-dewa kuno pagan. Setelah itu berturut-tururt “Metal Gods”, ”Breaking The Law”, ”The Ripper”, dan ”The Sentinel”.
Tiga lagu awal sudah cukup untuk menjelaskan strategi Priest malam itu: ambil lagu-lagu yang sudah menjadi monumen heavy metal, lalu mainkan seolah-olah lagu tersebut baru ditulis kemarin. Penonton bahkan lebih cepat menyambar bagian vokal dibandingkan Halford. Zénith berubah menjadi paduan suara heavy metal berukuran raksasa.
Rob Halford. Bukan Soal Usia.

Pertanyaan yang selalu mengikuti Judas Priest sekarang sebenarnya sederhana: seberapa jauh Rob Halford masih mampu menguasai panggung?
Pada bagian awal, Halford membutuhkan sedikit waktu untuk benar-benar menemukan bentuk vokalnya. Tetapi setelah beberapa lagu, suaranya semakin terbuka dan memasuki wilayah yang membuat reputasinya sebagai Metal God terasa masuk akal. Beberapa laporan bahkan menempatkan “Victim of Changes” sebagai salah satu puncak vokal malam itu. Itu bukan lagu ringan.
“Victim of Changes” adalah jenis lagu yang bisa membongkar kelemahan penyanyi dalam hitungan menit. Di usia 75 tahun, Halford masih berani memasukkannya ke dalam setlist—dan bukan sekadar menyelesaikannya, tetapi menjadikannya salah satu momen paling dramatis malam itu. Di sini yang menarik adalah Halford tidak lagi berusaha menjadi manusia ‘sirene’. Ia hanya perlu menunjukkan bahwa suara itu masih punya otoritas.
Dan di Zénith, otoritas itu masih terdengar.
Duet Gitar, Warisan Besar.

Bagian lain yang tak kalah menarik adalah duet gitar Richie Faulkner dan Andy Sneap. Sebab, tidak mungkin membicarakan gitar Judas Priest tanpa menyebut Downing dan Tipton. Mereka bukan sekadar dua gitaris yang pernah bermain bersama. Mereka adalah salah satu cetak biru paling penting dalam sejarah heavy metal.
Namun malam itu Faulkner dan Sneap tidak mencoba menjadi tiruan keduanya. Andy Sneap di posisi pengganti Glenn Tipton pun sangat andal mengambil alih peran Tipton. Maklum, selain gitaris andal, Sneap juga adalah seorang produser. Ia pernah menggarap album Machine Head, Opeth, Napalm Death, Megadeth dan banyak lagi. Ia memang seorang metalhead sejati! Begitu juga Faulkner sendiri sebagai pengganti posisi KK Downing sangat bagus permainannya.
Mereka memainkan repertoar Priest dengan pendekatan yang lebih modern: presisi, keras, rapat, dan sangat terkontrol. Pada “The Sentinel”, “Delivering the Goods”, dan terutama “Victim of Changes”, keduanya menunjukkan bahwa warisan gitar Priest masih bisa hidup tanpa harus menjadi rekonstruksi museum. Sejumlah laporan bahkan menilai duet riff keduanya sebagai salah satu kekuatan pertunjukan.
Di belakang mereka, Ian Hill tetap menjadi fondasi yang nyaris tidak banyak bicara. Bass-nya tidak mencari perhatian, tetapi justru itulah fungsinya. Sementara Scott Travis menjadi palu godam yang memastikan Priest tidak pernah kehilangan momentum. Keduanya sangat rapih sebaga penjaga rhythem section.
Maka, ketika “Painkiller” datang, semua teori tentang usia, formasi dan perubahan personel mendadak menjadi tidak relevan.
Ujian Terakhir.

Riff pembuka “Painkiller” tetap memiliki kemampuan untuk membuat sebuah ruangan seperti kehilangan akal sehat. Scott Travis mengubah panggung menjadi mesin pembunuh. Faulkner dan Sneap menumpuk gitar sekokoh dinding baja. Lalu Halford masuk.
Inilah bagian ketika Judas Priest 2026 terdengar paling dekat dengan mitosnya.
Kemudian “Living After Midnight” menjadi penutup. Lagu yang dahulu terdengar seperti pesta rock’n’roll kini berubah menjadi semacam upacara bersama. Ribuan suara ikut bernyanyi, dan untuk beberapa menit, perbedaan generasi menghilang.
Itulah kekuatan Judas Priest. Mereka bukan lagi band muda yang sedang mencari masa depan. Mereka adalah band tua yang sudah memiliki masa lalu, tetapi masih bersikeras memainkan masa kini.
Di Le Zénith, Judas Priest membuktikan bahwa usia memang mengubah tubuh, formasi dan cara sebuah band memainkan musik. Tetapi usia tidak otomatis membunuh karakter. Selama riff masih bisa menggigit, drum masih bisa menghantam, dan Rob Halford masih mampu mengangkat mikrofon lalu membuat satu ruangan menunggu nada berikutnya, Metal God ini masih tetap bertaring.
Setelah jeda encore beberapa menit, set kedua di mulai dengan intro ”The Hellion” dilanjut dengan ”Electric Eye”. Kemudian aksi khas yang ditunggu – tunggu pun muncul : Rob Halford naik panggung dengan motor Harley nya dan itu pertanda buat lagu ”Hell Bent For Leather”, klasik banget! Konser pun ditutup dengan ”Living After Midnight” yang berhasil membuat venue bernyanyi bersama.
Seorang penonton nyeletuk tentang durasi pertunjukan yang dianggapnya cukup singkat. Ia menduga Halford sakit.Memang konsernya singkat banget. Tidak lebih dari 90 menit. Tapi hal itu tetap membuktikan bahwa seorang Rob Halford yang 75 tahun staminanya masih terlihat fit. Vokalnya memang rada turun tetapi karakter lengkingan khasnya hanya satu di dunia.
Jika pada saat pembuka terdengar pula “War Pigs” serta “Faithkeepers Intro”, malam itu gempuran Judas Priest berakhir dengan terdengarnya “We Are the Champions” milik Queen. Mengapa tidak ada “British Steel”, ”Screaming for Vengeance” atau ”Defenders of the Faith dan Painkiller”, sebaliknya mereka justru lebih memberi ruang kepada “Lightning Strike” dari Firepower dan “Panic Attack” dari ”Invincible Shield”?
Ini sebuah pesan : Judas Priest tidak mau menjadi band yang hidup dari katalog masa lalu.
Mereka adalah band yang suaranya lahir dari dunia amplifier tabung, gitar yang berteriak, drum akustik dan rekaman analog. Kini mereka tampil dalam produksi konser yang jauh lebih presisi dan digital. Suara Priest 2026 memang tidak harus terdengar seperti Priest 1980.
Dan mungkin justru di situlah paradoksnya: Judas Priest sedang memainkan lagu-lagu berusia 40 atau 50 tahun dengan teknologi panggung yang sama sekali bukan milik zaman ketika lagu-lagu itu dibuat.
Ketika keluar dari venue terlihat sebuah photobooth dengan belakang cover album Screaming For Vengeance. Rupanya disana sedang berlangung penggalangan dana untuk Glenn Tipton yang menderita parkinson. Antriannya mengular. (*)
Editor: Denny MR.