kamarmusik.id. Lampu panggung Lapanada Festival yang digelar di Kartini Expo Center, Minggu, 23 Agustus 2026, perlahan meredup. Menyisakan pijar hangat yang menyorot Angga Puradiredja dan Indah Wisnuwardhana di tengah riuh ribuan penonton yang mendadak terdiam.
Alih-alih melantunkan salah satu hit orisinal andalan mereka, tuts kibor dan ketukan drum merayap pelan, membawakan intro yang sangat familiar namun dalam nuansa yang beda. Aku Cinta Kau dan Dia milik Dewa 19 disulap menjadi ruang pesta funk yang seksi. Panggung konser yang diadakan sebagai ajang reuni akbar SMAN 8 Jakarta itu langsung pecah.Semua bernyanyi. Bahkan ada yang berteriak seraya memejamkan mata dan meneriakkan kepedihan di hatinya. Namun, pada akhirnya, mereka bergoyang, terbius musik yang dibawakan dengan manis oleh band asal Jakarta itu.
Bicara cover version, Maliq memang nggak ada matinya. Meski band ini bukan terlahir sebagai spesialis cover version layaknya band-band rock era ’80-’90-an, mereka punya barisan lagu cover version yang cukup diperhitungkan. Bukan cuma untuk proyek musik. Di kancah sinema, mereka juga sukses mengejutkan publik lewat interpretasi ulang lagu legendaris Vina Panduwinata, Kumpul Bocah, yang diubah menjadi sajian pop-retro penuh energi untuk soundtrack film animasi Jumbo.
***
Bagi band pelopor pop-soul jazz yang lahir pada 15 Mei 2002 ini, membawakan lagu cover tidak pernah dianggap sebagai selingan yang mengisi kekosongan setlist. Sejak awal dekade perjalanan karier mereka, mulai dari bereksperimen menyuntikkan nuansa reggae elektrik lewat lagu Beri Cinta Waktu di album edisi khusus rilisan 2008 hingga proyek daur ulang lintas generasi lain kayak Prasangka (A Tribute to KLa Project-2011) dan Barcelona di album Fariz RM & Dian PP (2014), band ini konsisten memperlakukan karya musisi lain sebagai kanvas segar. Mereka dengan berani menanggalkan struktur asli yang kadung melekat di kepala publik, lalu meraciknya ulang dengan menyematkan DNA khas mereka: ketukan ritmis yang rapat, harmonisasi vokal yang hangat, dan sentuhan disko-soul yang membuat tubuh refleks bergoyang.
Di balik keberhasilan mereka mengolah lagu, terdapat formula analisis yang membuat karya cover mereka tidak terdengar seperti versi KW lagu aslinya. Pertama, Maliq memiliki prinsip “dekonstruksi total tanpa merusak nyawa”. Mereka paham betul bahwa mengaransemen lagu yang sudah legendaris adalah sebuah bentuk pertaruhan besar.
“Ada beban untuk gimana caranya bisa bikin lagu enak dari lagu yang udah enak,” ungkap Lale, sang gitaris dalam sebuah wawancara.
Alih-alih meniru mentah-mentah vokal atau aransemen asli, mereka memreteli akor dan ritmenya, lalu menjahitnya kembali dengan tambahan tekstur instrumen tiup (brass section), ketukan bas yang dinamis, serta paduan vokal Angga dan Indah yang cair.
Mudah dikatakan tapi sebenarnya ribet dikerjakan. Saat meracik ulang Kumpul Bocah milik Vina Panduwinata pun, Widi dan kawan-kawan harus membongkar pasang demo berkali-kali untuk mendapatkan rasa yang pas, sekaligus menyesuaikan dengan dinamika visual gambar. Untuk menangkap esensi kehangatan masa kecil, mereka bahkan sampai melibatkan rekaman vokal anak-anak secara berlapis.
Selanjutnya, ada faktor relevansi era dan pergeseran lanskap estetika. Waktu mereka merombak katalog-katalog penting, sebutlah proyek perayaan tiga dekade karya ciptaan Ahmad Dhani lewat singel “Aku Disini Untukmu”, “Kamulah Satu-satunya”, dan “Aku Cinta Kau dan Dia”, hingga warisan pop riang era 80-an milik Mama Vina, Maliq tidak sedang bernostalgia. Mereka membungkus ulang lagu-lagu berkarakter kuat tersebut ke dalam lanskap pop urban modern yang akrab di telinga pendengar lintas generasi masa kini. Ini yang membuat mereka bisa menjembatani penonton masa lalu dengan penikmat musik digital hari ini.
***
Pendekatan artistik yang tak biasa ini rupanya membuahkan apresiasi tinggi langsung dari para pencipta atau penyanyi asli. Ahmad Dhani secara terbuka memuji keberhasilan aransemen Maliq yang sukses membawa lagu Dewa 19 keluar dari pakem aslinya. Begitu pula ketika Vina Panduwinata turut menyambut antusias kehadiran versi baru “Kumpul Bocah” yang tidak kehilangan ruh keceriaannya, bahkan berkolaborasi langsung dalam penayangan video musiknya.
Dan ini bukan cuma di studio. Panggung-panggung festival besar juga kerap menjadi laboratorium bagi Maliq untuk membongkar pasang lagu lintas generasi secara langsung. Ketika mereka bersinggungan dengan katalog legenda agung seperti Chrisye, Koes Plus, hingga sang Raja Dangdut Rhoma Irama di atas panggung, pendekatannya selalu bergeser menjadi sebuah fusi budaya yang sukses memantik reaksi emosional.
Ambil contoh monumental saat mereka berkolaborasi langsung dengan Rhoma Irama dan Soneta Group di panggung Pestapora. Bukannya memainkan dangdut dengan pakem konvensional, Maliq malah menyuntikkan groove funk-urban yang rapat ke dalam lagu-lagu Soneta. Sementara, Rhoma membalas dengan membawakan nomor pop-soul Maliq yang membuat penonton langsung meledak dalam koor massal.
Rhoma bahkan melontarkan candaan khas di atas panggung: “Masya Allah, ini habis lagu gue diacak-acak sama dia, tapi jadi keren, betul nggak?”sebuah pernyataan yang disambut tawa gemuruh penonton.
***
Keputusan kreatif lintas medium ini pun berbuah manis ketika bersentuhan dengan ekosistem platform streaming digital. Di Spotify, singel daur ulang seperti Aku Cinta Kau dan Dia bertransformasi menjadi salah satu trek raksasa yang merajai tangga lagu dengan perolehan menembus lebih dari 70,9 juta pemutaran, bersanding ketat dengan hit abadi mereka sendiri seperti Dia dan Untitled. Sementara itu, trek daur ulang ikonik lainnya turut mencatatkan jutaan streams konsisten dan menjadi magnet utama dalam peta pendengar bulanan mereka, dengan kisaran 2,3 juta pengguna aktif.
Dominasi serupa juga terpelihara di YouTube Music dan Apple Music, di mana versi aransemen ulang yang mereka buat konsisten menempati daftar putar utama (editorial playlists), membuktikan bahwa sentuhan magis Maliq diterima luas lintas zaman.
Pada akhirnya, kesuksesan Maliq & D’Essentials dalam meracik lagu daur ulang mengajarkan kita, bahwa sebuah karya besar tidak akan pernah usang. Lagu itu hanya sedang menunggu tangan-tangan dingin yang tepat untuk membuatnya kembali hidup, relevan, dan mengajak ribuan orang berdansa bersama di lantai dansa. (*)
Foto: Facebook: Maliq & D’essentials