kamarmusik.id. Usai menuntaskan puluhan panggung stadion bersama Queen, Roger Taylor memilih masuk studio dan melahirkan sebuah album solo yang padat perenungan sekaligus pukulan rock yang tetap bertenaga.
Kini setelah nyaris dua tahun penuh melibas panggung stadion berkapasitas puluhan ribu penonton bersama Adam Lambert, pada 2025 mesin raksasa Queen akhirnya diparkir sejenak di garasi. Jadwal tur maraton lintas benua yang menguras fisik itu resmi memasuki masa rehat, memberi ruang bernapas bagi para personelnya.
Rehat ini memberi waktu bagi Brian May untuk memulihkan kebugaran dan kembali menekuni riset astrofisika. Namun, bagi sang penabuh drum, Roger Taylor, kata istirahat tampaknya nggak pernah ada dalam kamus hidupnya.
Bukannya duduk santai di mansion mewah sambil menghitung pemasukan dari konser stadion di 36 kota seantero Eropa, Amerika, dan Jepang, kakek kepala tujuh ini langsung masuk studio, melahirkan Violence Insane In A Beautiful World, album solo ketujuhnya yang akan dirilis resmi lewat label raksasa Columbia Records pada 18 September 2026 mendatang.

Untuk meramu sepuluh materi di dalamnya, Roger kembali bekerja sama dengan secondan andalannya, Joshua J. Macrae. Persaudaraan musikal mereka sudah terentang hampir empat dekade, berawal dari 1987 ketika Joshua lolos audisi sebagai drummer band sampingan Roger, The Cross.
Sejak itu, duet ini berevolusi menjadi produser dan penata suara yang nyaris nggak terpisahkan. Mulai dari album Happiness? (1994), Electric Fire (1998), album penting Queen Made in Heaven (1995), hingga Outsider (2021), Roger memberi ruang bagi Joshua untuk memoles barisan karyanya. Dan, di album anyar ini, kerja sama panjang itu terasa kian padu dan matang. Sarat perenungan, namun tidak kehilangan ketukan rock klasik yang bertenaga.
Album ini dibuka nomor cantik “A Beautiful World”. Sebuah lagu yang idenya berangkat dari premis unik: bumi biru kita sebetulnya pemandangan yang menipu.
Dari luar angkasa, bumi tampak begitu tenang, bersih, dan anggun. Cuma bulatan biru berbalut awan putih tanpa cela. Namun, Roger memilih untuk memosisikan dirinya sebagai alien yang mengamati daratan lebih dekat, dan keindahan itu buyar. Lautan tersedak jutaan ton sampah plastik, dentum meriam perang nggak henti membakar kota-kota, dan manusia sibuk saling memangsa cuma karena perkara keyakinan.
Satu hal lain yang menarik dan tergolong segar untuk album Roger Taylor adalah penampilan Ndlovu Youth Choir, kelompok paduan suara asal Limpopo, Afrika Selatan. Harmoni vokal anak-anak muda berbahasa Zulu ini melebur mulus dengan tarikan vokal serak khas Roger, melahirkan lapisan suara yang megah sekaligus hangat. Choir ini melantun di “Come On Summer (It’s Party Time)” dan nomor penutup “A Great Big Beautiful World (reprise)”.

Meski menampilkan kesegaran, Violence Insane In A Beautiful World terasa agak timpang di beberapa sudut. Lirik satire dalam “Don’t Photograph Food”, misalnya, sesekali terdengar seperti omelan orang tua yang terganggu tren kekinian. Temanya unik, tapi terasa cetek jika disandingkan dengan tema perang dan krisis iklim yang berat di lagu lain.
Struktur musik di beberapa lagu juga cenderung bermain aman. Tempo sedang khas era 80-an yang mudah ditebak, lengkap dengan polesan produksi yang rasanya terlalu steril untuk album yang mengusung kata violence di judulnya.
Toh, Roger tetap berhasil menyelamatkan sisi emosionalnya lewat momen-momen yang intim. Single kedua, “I See You Now” contohnya. Lagu ini adalah balada cinta tulus yang ditulisnya untuk sang istri, Sarina. Video musiknya digarap Sarina bersama Simon Lupton dalam format hitam-putih, yang tersisa hanya warna merah menyala pada sepatu kets merah milik Roger.
Nuansa rapuh serupa juga terasa kental saat ia membawakan ulang “Jealous Guy” milik John Lennon. Meski jangkauan vokalnya nggak lagi sedahsyat dulu, namun penghayatan Roger bolehlah dikasih jempol.
Kabarnya, buat mendukung album ini, Roger langsung menggelar tur solo pertama dalam lima tahun terakhir. Tur intim yang bakal menjelajahi enam kota di Inggris Raya ini bergulir mulai 21 September 2026 di Newcastle, melintasi Edinburgh, Birmingham, Manchester, Swansea, dan berakhir di gedung konser legendaris The Roundhouse, London. Kali ini, Roger memboyong barisan musisi yang jadi andalannya: pemain kibor setia Queen Spike Edney, drummer Tyler Warren, pencabik bas Neil Fairclough, gitaris Christian Mendoza, dan Tina Keys sang multi-instrumentalis.
Bagi Roger, cutinya Queen dari panggung justru menjadi berkah terselubung. Menjadi kesempatan langka untuk kembali ke panggung-panggung kecil yang hangat, menatap mata penonton dengan lebih dekat, dan meneriakkan hal-hal yang diyakininya lewat barisan nada dan lirik.
Mungkin, bukan album terbaiknya. Namun Violence Insane In A Beautiful World tetaplah sebuah karya yang harus disimak. Terutama kamu yang menggemari vokal rock andalnya di luar kerumitan musik Queen.
Penulis: Junior Eka Putro
