Written by 7:22 pm Feature

Cerita di Balik Perilisan Vinyl Baru SAS Group

KamarMusik.Id. Sebuah label independen di Amerika Serikat, Psychicreader NYC, merilis album kompilasi lagu-lagu terbaik milik SAS Group berjudul “Bad Shock”, 5 November 2025. Judul tersebut berasal dari lagu yang terdapat pada album Vol. 2 (Indra Record, 1976).

Tidak lama berselang rilisan fisiknya terlihat dipajang rapih di Disk Union, salah satu toko musik di Jepang. Kini pihak label tengah menjajagi kemungkinan untuk mengedarkannya di Indonesia guna mengantisipasi permintaan para penggemar klasik rock.

“Bad Shock” menjadi kompilasi resmi pertama dalam format piringan hitam. Aransemen seluruh lagu di dalamnya versi rekaman asli. Sebelumnya pernah beredar kompilasi berjudul “Baby Rock” (Billboard, 1990), namun keseluruhan lagunya merupakan hasil rekaman ulang.

Maka, dari segi orisinalitas “Bad Shock” lebih mampu merekonstruksi kegilaan dunia panggung dan rekaman musik rock Indonesia di masa silam.

Pasca pemecatan vokalis Ucok Harahap, AKA Group membubarkan diri. Tiga personel lainnya, Soenatha Tanjung (vokal, gitar, harmonika, biola), Arthur Kaunang (vokal, bass, piano, keyboard) dan almarhum Syech Abidin (vokal, drum) membentuk SAS Group. Nama tersebut diberikan oleh Ismail Harahap, mantan manajer AKA Group yang tak lain adalah orangn tua Ucok Harahap.

Berbeda dengan band sebelumnya yang selalu mengetengahkan atraksi teatrikal, SAS lebih menonjolkan skill dan kekompakan. Penguasaan Arthur pada piano klasik menjadi pintu masuk pengaruh progresif rock seperti Emerson, Lake & Palmer, Led Zeppelin, Gran Funk Railroad dan Deep Purple.

Dengan formasi trio, SAS group memiliki keleluasaan tampil agresif di atas panggung. Ketiganya mampu bernyanyi dan menciptakan lagu, kombinasi yang menjadi daya tawar mereka di antara dedengkot musik cadas lain seperti The Rollies, God Bless, Superkid atau Giant Step.

Proses perilisan album kompilasi “Bad Shock” memerlukan waktu sekitar dua tahun. Semua bermula pada 2023 ketika saya menerima sebuah pesan pendek melalui WhatsApp dari Naratama Rukmananda. Saat itu Nara, begitu panggilan gaulnya, bekerja sebagai penyiar program VOA Creative Talks merangkap Program Director untuk Voice of America. Dia bermaksud mencari tahu informasi Arthur Kaunang, personel SAS Group.

Saat Naratama berkesempatan pulang ke Indonesia, saya lantas mempertemukannya dengan Arthur Kaunang di Cilandak Town Square. Ia datang mewakili kepentingan Cotter Phinney, pemilik Psychicreader NYC, guna menjajagi perilisan karya SAS Group khusus untuk wilayah Amerika Serikat.

Kopi hitam disertai kudapan ringan menjadikan sore terasa hangat karena Arthur Kaunang, satu-satunya personel SAS Group yang masih aktif, memberikan lampu hijau terhadap rencana tersebut – belakangan Naratama menjadi bagian dari label Psychicreader NYC.

Beberapa bulan kemudian giliran Cotter Phinney tiba di Jakarta untuk menindaklanjuti. Topik pembicaraan semakin mengerucut pada kontrak kerjasama. Uniknya, dalam pertemuan tersebut Cotter datang membawa ‘mahar’ berupa piringan hitam Deep Purple, Stormbringer.

“Saya membelinya tadi sore di Blok M Square,” cetusnya sambil tertawa. Dia berpendapat bahwa Deep Purple turut membentuk musikalitas SAS Group.

Rupanya sudah cukup lama Cotter mengincar SAS Group. Ia menghabiskan waktu bertahun-tahun memburu berbagai album mereka melalui marketplace. Tentu dengan harga tidak masuk akal. Wajar jika kaset dan piringan hitam SAS menjadi sumber perburuan para kolektor.

Cotter seorang gitaris merangkap vokalis Medium Band yang beralitan rock. Jadi, usai menikmati santap malam, Arthur lantas menantangnya untuk ber-jam session membawakan Baby Rock dan Larantuka. Sekadar untuk menunjukan keramahan. Namun Cotter menyambar kesempatan itu dengan penuh semangat.

“Arthur Kaunang itu idola saya,” katanya.

Keesokan harinya, di sebuah studio latihan di bilangan Kebayoran Baru, Cotter memperlihatkan level permainan gitarnya saat memainkan interlude kedua lagu tadi. Keseruan hari itu diakhiri dengan pesta kecil dalam rangka ulang tahun Julie Kaunang, istri Arthur yang sudah dikenalnya sejak kelas 5 SD. Kedua anak mereka, Mecko dan Tessa Kaunang, hadir di sana.

Sejak itu komunikasi kami berempat berlangsung intens. Baik melalui sambungan telepon, WhatsApp mau pun zoomimg. Terutama lebih pada proses seleksi lagu mana saja yang akan dimasukan ke dalam susunan kompilasi. Untuk diketahui, SAS Group telah merilis lebih dari 15 buah album. Memilih beberapa karya terbaiknya tentu tidak mudah.

Mengingat hasilnya akan diedarkan di Amerika Serikat, pilihan Cotter seluruhnya lagu berbahasa Inggris. Namun saya mengusulkan sisipan beberapa judul berbahasa Indonesia untuk mengantisipasi animo konsumen di tanah air. Antara lain Sansekerta, Ke Nirwana, Larantuka dan Jika Nanti Kau Panggil Namaku. Singkatnya, terkumpullah 14 judul terdiri dari bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Durasi keseluruhan lagu-lagu tersebut membutuhkan dua keping keping piringan hitam, yang tentu saja akan berkorelasi kepada harga jual, hal yang mereka hindari. Cotter sendiri berambisi memperkenalkan musikalitas SAS Group kepada generasi milenial.

Akhirnya disepakati kompilasi dipecah menjadi dua bagian. Volume satu diberi judul “Bad Shock”, berisi Baby Rock, Space Ride, Bad Shock, Summer Sun, Tatto Girl, Larantuka dan Jika Nanti Kau Panggil Namaku.

Untuk melengkapi kebutuhan materi audio, saya bersedia meminjamkan kaset “1981” (Nirwana, 1981) dan piringan hitam “Sansekerta” (Yulia L.L., Arco Product, 1984). Namun kemudian muncul kekhawatiran, bagaimana dengan ‘keselamatan’ barang langka tersebut saat pengiriman? Sebab, berbeda dengan piringan hitam resmi “Baby Rock”, piringan hitam “Sansekerta” dibuat hanya untuk kepentingan promosi radio alias tidak dijual. Jumlahnya tentu terbatas.

Tapi kemudian Naratama mengirim kabar bahwa seorang kenalannya, Eugenia Audrey Utoyo, akan bertolak ke New York untuk mengikuti kelulusan S2 Hubungan Internasional di Harvard University. Audrey dikenalnya melalui kerjasama VOA dengan PERMIAS pada 2019. Saya diminta untuk segera menghubunginya.

Setelah berulang kali gagal bikin janji akhirnya saya berhasil menemuinya di kompleks TVRI, tempatnya bekerja sebagai penyiar TVRI World. Kini rasanya saya bisa tidur nyanyak. Terima kasih Audrey sudah mau direpotin!

Proses mastering yang berkali-kali mengalami proses ulang menunjukkan keseriusan Cotter Phinney saat mengeksekusi materi “Bad Shock”. Naratama memaklumi bahwa temannya itu bekerja dengan insting anak band untuk mengejar kesempurnaan audio.

“Gue salut sama dia, anaknya gigih banget.”

Dan, entah kepindahan studio ke berapa kali sebelum akhirnya kualitas mastering yang diinginkan tercapai di studio Wouter Brandenburg. Proses transfer materi audio ke dalam format digital dilakukan oleh Winston Luhur, sound engineer merangkap musisi yang justru berasal dari Indonesia.

Perilisan “Bad Shock” bukan cuma membakar semangat Arthur Kaunang untuk tetap ngerock, tetapi juga Soenatha Tanjung, gitaris yang suda lama gantung gitar.

Momen yang memantik pengunduran dirinya dari dunia musik adalah kecelakaan di panggung pada 1987. Ia tersetrum listrik saat memainkan gitar, menyebabkan tangah kirinya lumpuh total. Peristiwa tersebut seolah mengubah definisinya tentang hidup. Soenatha mulai rajin megikuti pendalaman iman dan aktif dalam kegiatan gereja.

Sebagai bentuk tanggung jawab ia masih bersedia menyelesaikan kontrak SAS Group dengan SKI Record berupa rekaman “Metal Baja” (1992).

Namun kabar pengerjaan “Bad Shock” yang dikirim secara teratur oleh Arthur Kaunang membuat naluri musisinya seperti terbangun kembali. Apalagi ada permintaan dari sejumlah promotor agar SAS Group tampil lagi di atas panggung.

“Beberapa kali mampir ke rumah Soen di Surabaya, aku berusaha mengajaknya memainkan lagu-lagu AKA mau pun SAS. Awalnya cukup sulit namun lama-kelamaan mulai ada hasilnya,” cerita Arthur. Menurutnya, akibat terlalu lama meninggalkan dunia musik membuat Soenatha kesulitan mengingat lirik mau pun melodi karyanya sendiri.

Album kompilasi “Bad Shock” dibuat sebanyak 200 copies untuk wilayah edar Amerika Serikat, Jepang dan kemungkinan Indonesia. Artinya, boleh jadi rilisan fisiknya akan menjadi karya langka dalam waktu singkat.

Nampaknya langkah Psychicreader NYC bakal menyusul Now Again (Los Angeles) dan Strawberry Rain (Portugal) sebagai label yang, antara lain, menunjukkan ketertarikan pada karya musisi Indonesia. Now Again pernah merilis kompilasi “Those Shocking Shaking Days” terdiri tiga keping piringan hitam berisi lagu-lagu rock klasik Indonesia era 1970 – 1978.

Ada pun label terakhir yang dimiliki kolektor asal Kanada, Jason Connoy, pernah merilis album Kelompok Kampungan, “Mencari Tuhan” (2010) dan tiga album Benny Soebardja yaitu “Benny Soebardja & Lizard” (2012), “Gimme a Piece of Gut Rock” (2012), “Night Train” (2012).

Perilisan piringan hitam “Bad Shock” bukan sekadar sebagai penjaga nostalgia, melainkan sebagai bukti bahwa karya arek Surabaya ini memiliki daya tahan hidup yang melampui zaman. “Bad Shock” lebih merupakan pengakuan dunia luar atas dedikasi para personelnya.

Musik SAS Group akan selalu tegak, lugas, sekeras “Metal Baja”, tak tergantikan. (*)

Penulis: Denny MR Grafis Instagram & Facebook: Junior Eka Putro

Visited 148 times, 1 visit(s) today
Close Search Window
Close