Written by 11:31 am News

Pergulatan Stepforward

Dengan album baru dan gitaris Roma Sophiaan yang resmi menggantikan Ricky Siahaan, Stepforward sudah siap menggetarkan kembali skena herdcore.

kamarmusik.id. Nama Stepforward hampir saja menghilang dari ingatan, sampai pada 30 Agustus lalu band hardcore yang terbentuk pada 1995 itu merilis album mini Tak Pernah Mati.  Dengan formasi Jill van Diest (vokal), Fajar Arifan (drum), Junas Mirardiarsyah (bass) dan Roma Sophiaan (gitar).

Nama terakhir ini mulai menggantikan posisi yang ditinggalkan oleh Ricky Siahaan sejak 2025. Publik menyaksikan pertama kalinya dalam panggung “Riffmeister: The Legacy of Ricky Siahaan” di Synchronize 2025 lalu. Posisinya kemudian diresmikan lewat peluncuran single “Tak Pernah Mati”, 7 Juli 2026.

Album mini tersebut berisi 5 buah lagu. Tetap menebar imaji beringas. Setidaknya memiliki benang merah dengan debut albumnya,  Stories of Undying Hope (2001).  

Sekilas, judul tersebut menyerupai sebuah pesan atas eksistensi mereka yang cukup lama tidak beraktivitas. Namun menurut Jill, satu-satunya personel asli yang bertahan, inti dari “Tak Pernah Mati” tidak berhubungan langsung dengan asumsi tersebut.

Honestly, ini adalah lagu untuk Ricky dan mendiang Papa saya. It’s a love letter. Tapi secara tidak langsung juga menggambarkan energi Stepforward.” Yang dimaksud adalah Ricky Siahaan, gitaris yang dianggap mastermind yang membentuk identitas Stepforward. 

Jill van Diest (vokal)

Ada dua lagu berasal dari materi lama yang diaransemen baru, yaitu “Forever Stand Undivided” dan “Perempuan”. Sedangkan tiga judul lainnya, “Angkara”, “Camkan Memarku” dan “Tak Pernah Mati” merupakan materi baru yang belum pernah direkam atau dirilis sebelumnya bersama Ricky. Sulit dihindari, proses reinterpretasi melahirkan cara pandang berbeda dalam memaknai tema “Perempuan”.

“Karena struggle beberapa puluh tahun lalu sebagai perempuan di skena hardcore jadi satu pecutan yang berbeda jika diliat di tahun 2026. Survived with flying colours.

Diakui oleh Jill van Diest dari semua materi, pengerjaan “Tak Pernah Mati” terasa paling sulit.

“Lagu ini tentang proses berduka saya pribadi. I just lost my dad di bulan April 2026, sementara Ricky pergi genap setahun. So it’s a fresh open wound. Dan secara emosional masih berantakan banget.”

Roma Sophiaan (gitar)

Ricky Siahaan bergabung dengan Stepforward sejak 1999. Gaya permainannya yang kuat dan sarat distorsi berkontribusi besar pada musikalitas Stepforward terutama menjelang persiapan album pertama. Pada 2002 ia membentuk Seringai bersama Arian13 (vokal), Sam Bram (bass) dan Edy Khemod (drum).    

Secara keseluruhan materinya dikerjakan di Studio Dexter, Jakarta bersama sound engineer Heston Prasetyo, Johanes Abiyoso, dan I Wayan Eka Wiguna. Ada pun mixing dan mastering digarap oleh Praditya Putra via Invasion Studio yang sebelumnya menggarap pula album milik Seringai, Negatifa, Modern Guns, Godplant sampai Final Attack.

Satu album penuh dan satu album mini mungkin bilangan yang cukup aneh untuk sebuah kelompok musik berusia 30 tahun. Tetapi marilah kita kesampingkan persoalan kuantitas dan mencoba memahami kompleksitas  yang mereka lalui.

Junas Mirardiarsyah (bass)

Jill van Diest bertutur tentang berbagai peristiwa menghalangi langkah Stepforward menuju studio rekaman. Salah satu adalah kesibukan masing-masing personel yang menyebabkan keberadaan entitas ini timbul-tenggelam. Jika kemudian mereka tetap mampu menjaga kewarasan, semata karena adanya nilai persahabatan di antara sesama personel. Masing-masing berusaha saling mengerti dan menerima termasuk dukungan dari lingkungan di sekitar.

“Kami tidak pernah bubar ataupun hiatus. Lebih ke terlena yang berkepanjangan,” tambahnya.

Sebagai seorang veteran Jill melihat perkembangan menarik pada musisi hardcore generasi sekarang.  Menurutnya, mereka tidak lagi sekadar berkutat di sisi musikalitas, tetapi sudah melebar pada upaya agar bisa diterima khalayak luas. Musisi hardcore masa kini memiliki kepedulian pada pengaruh media sosial, algoritma dan masa visi masa depan.

“Mereka lebih diverse, lebih banyak hal yang diangkat, kreatif, berani eksplorasi, gak lagi terkotak-kotak dan banyak layer di luar musik yang dipikirkan secara detail dan profesional.”

Fajar Arifan (drum)

Fakta ini tentu berbeda dengan ketika dirinya mulai nyebur ke skena hardcore. “Saat gue memulai di tahun 1995, gak pernah sekalipun mikir akan jadi begini begitu. Gak pernah juga mengklaim sebagai apa pun. Cuma pengen manggung, pengen bikin lagu. Pengen seneng-seneng sama temen satu band. Terdengar klise, tapi itulah yang sejujurnya.” 

Stepforward akan tetap menempatkan diri sebagai bagian dari perlawanan sejarah hardcore melalui isu-isu yang berasal dari keresahan hati. Berbagai peristiwa yang lahir dari pengalaman akan mengisi tema lagu-lagu yang akan datang. Rasa ketidakpuasan, ketidakpastian, kehilangan, luka, dan ribuan emosi lain seiring dengan bertambahnya usia mereka.   

Situasi dalam negeri yang sedang tidak baik-baik saja, misalnya, menjadi sumber melimpah bagi Sepforward untuk tetap menyemburkan kemarahan melalui lirik. “Lebih susah untuk tidak jatuh lagi ke siklus naik turun dan hilang timbul kami, to be exact.”

Jill van Diest mengakui bahwa bandnya masih menyimpan mimpi untuk beroleh kesempatan tur di dalam mau pun luar negeri. Sederhana sebenarnya. Namun bagi kelompok yang sudah hadir sejak dekade ’90-an keinginan ini harus distabilo. Dan, perilisan album mini dapat menjadi pembuktian bagi eksistensi Stepforward ke depan.

Berulang kali menyimak lagu “Tak Pernah Mati” memang terasa seperti membangunkan keseharian sosok Ricky Siahaan saat masih di majalah Rolling Stone Indonesia. Suaranya yang perlahan namun tegas atau binar matanya saat kami berdiskusi tentang dunia panggung musik rock era tahun ‘70an yang penuh sensasi dan aksi sabotase.  Ia meninggal pada 19 April 2025 usai tampil Bersama Seringai di Jepang.

Kini lelaki bersahaja itu pasti sedang tersenyum menyaksikan Stepforward bangkit kembali. (*)

Foto: IG Stepforward. Foto image: Rigel Haryanto

Visited 3 times, 10 visit(s) today
Close Search Window
Close