Written by 10:58 am Uncategorized

The Cure Menaklukkan Prancis

The Cure Menaklukkan Batu-Batu Romawi Nîmes: Tiga Jam Menjelajah Melankolia yang Tak Pernah Tua

Kamar Musik.Id. Arènes de Nîmes yang berlokasi di Prancis Selatan merupakan sebuah amfiteater Romawi kuno yang terkenal dan sangat terawat,  dibangun sekitar tahun 70–100 Masehi, Kota kecil bernuansa Romawi ini memang terkenal memiliki kultur seni sangat kuat. Sejak 1978, setiap tahun berlangsung Festival de Nimes yang sukses mendatangkan David Bowie, Peter Gabriel, Dire Straits, Radiohead, Slipknot dan banyak lagi. Namun yang paling terkenal adalah konser Metallica dan Rammstein.

Di sana, pada 25-26 Juli 2026,  The Cure berhasil membuktikan mengapa mereka tetap menjadi salah satu band paling berpengaruh dalam sejarah rock alternatif. Ini merupakan rangkaian dari European Festival Tour 2026. Karena animo yang membludak, promotor menambah jadwal pertunjukan menjadi tiga hari.

Untuk sebuah bangunan kuno dengan kapasitas 13.800 penonton untuk konser dan  24.000 untuk pertunjukan matador, Arene de Nimes ini akustiknya nyaris sempurna. Semua instrumen akan terdengar baik dan detail. Sangat berbeda dengan gedung kekinian yang akustiknya seringkali jelek.

Liputan kali ini cukup membuat ketar-ketir karena ramalan cuaca memperkirakan adanya ancaman badai. Artinya konser bisa saja dibatalkan secara tiba-tiba. Beruntung saat itu cuaca cerah, tidak sepanas seminggu sebelumnya dimana konser Marilyn Manson dan Pixies terpaksa dibatalkan karena bebatuan bagi calon penonton panasnya mencapau sampai kira-kira 45-50C !

Pukul 9.30 malam waktu setempat terdengar intro berupa suara gemuruh hujan, nuansa ini sangat menyatu dengan awan mendung yang menggantung di sekitar arena. Kemudian satu per satu muncullah Jason Cooper (drum), disusul Reeves Gabrels ( gitar ), Eden Gallup ( gitar ), Simon Gallup ( bass ), Roger O’Donnell (keyboard) dan Robert Smith (vokal) menyapa penonton dari sisi kiri dan kanan panggung. dan memberi salam hangat buat semua.

Tanpa ledakan ledakan kembang api, The Cure lebih mengandalkan kekuatan lagu, atmosfer dan permainan tata cahaya memukau guna membangun emosi. Sebuah pesan mendalam bahwa konser musik bukanlah pesta visual, melainkan sebuah perjalanan psikologis. Dan,  itu selama hampir tiga jam! Lagu pembuka berjudul “Alone” dari album terakhir, Songs Of A Lost World,  yang panjang dan muram menghadirkan lanskap emosional yang perlahan terasa menghipnotis.

Pada dua lagu berikutnya, “Pictures Of You” dan “High”, terlihat kemampuan Robert Smith dalam mengubah kerinduan menjadi nyanyian massal. Ribuan suara memenuhi amfiteater, menciptakan koor yang terdengar lebih seperti ritual daripada sekadar konser rock.

Ketika Robert Smith mulai memainkan flute pada “Burn”, soundtrack  film The Crow,  pada screen raksasa yang bermandikan warna merah nampak sosok  Jason Cooper tengah memainkan tribal di drum. Lagu ini terdengar lebih gelap dibanding versi studionya. Cooper memainkan drum dengan tenaga penuh, sementara Roger O’Donnell membangun lapisan keyboard yang membuat seluruh arena terasa seperti diselimuti kabut. Lalu itu Gabriel Cooper (17), putra Jason Cooper, memainkan saksofon dalam “A Night Like This”.

Soal pemunculan musisi lintas generasi ini soal lumrah dalam tradisi The Cure. Beberapa hari sebelum konser di Nimes, misalnya, Simon Gallup mendadak sakit. Posisinya digantikan sang anak, Eden. Beruntung malam itu Simon terlihat segar bugar.  Seperti biasa gaya pencabik bass era ’80-an itu rockstar abis!

“The Last Day of Summer” dan “In Your House”, dua lagu wajib The Cure, disambut sorak panjang para penggemar lama. Puncak emosional kemudian terjadi saat “Play for Today” sebelum “A Forest” membawa penonton larut dalam repetisi bass hipnotik yang menjadi salah satu ciri khas The Cure sejak awal era post-punk.

The Cure menyempurnakan rangkaian tur musim panas ini dengan memberondongkan “Fascination Street”, “Never Enough”, “Push”, “In Between Days”, dan “Just Like Heaven”. Di sini terlihat kelasnya. Mereka mampu berpindah dari post-punk yang agresif menuju pop alternatif yang cerah tanpa kehilangan identitas.

Menjelang akhir set utama, “From the Edge of the Deep Green Sea” tampil megah dan penuh ledakan. Lagu ini sekali lagi membuktikan mengapa album Wish tetap dianggap sebagai salah satu mahakarya The Cure. Puncaknya berlangsung ketika “Endsong” menjadi klimaks yang muram namun indah—sebuah refleksi tentang usia, kehilangan, dan waktu yang terus berjalan.

Encore pertama menghadirkan “It Can Never Be the Same” dan “Faith”, dua lagu yang membuat suasana berubah sangat hening. Robert Smith nyaris tidak banyak berbicara. Ia membiarkan lagu-lagunya berbicara sendiri. Lalu pada encore terakhir, ‘pesta’ yang sesungguhnya dimulai. Lagu-lagu seperti “Lullaby”, “The Lovecats”, “Friday I’m in Love”, “Close to Me”, “Why Can’t I Be You?” hingga lagu penutup “Boys Don’t Cry” segera mengubah amfiteater kuno itu menjadi arena bernyanyi massal bersama lintas generasi.

Lagu-lagu yang telah berusia puluhan tahun tersebut terdengar sama segarnya seperti ketika pertama kali dirilis. Waktu menunjukkan tepat pukul 12 malam ketika The Cure mengakhiri penampilannya yang meninggalkan kesan mendalam.  

Hal yang mengagumkan adalah stamina vokal Robert Smith yang nyaris tidak berubah dengan puluhan tahun silam. Musikalitas para personelnya pun sangat terjaga dalam menghidupkan tidak kurang 30 lagu!

Sebuah pertunjukan musik yang memanjakan mata dan telinga. Sulit terlupakan. (*)

Penulis: Dikyana Hidayat. Editor: Denny MR. Foto-foto: Dikyana Hidayat. Foto Image: Cr Roberto Ricciutiredfer

Visited 8 times, 1 visit(s) today
Close Search Window
Close