Written by 9:52 pm Feature

Perlukah Pengganti Trisnoize

KamarMusik.Id Jumat, 6 Agustus 2026, Pas Band tengah berlatih di sebuah studio musik di jalan Bojongkoneng Atas, Kecamatan Cimenyan, Bandung. Latihan saat itu untuk memenuhi jadwal konser di Subang, 8 Agustus. Proses latihan berjalan tersendat karena setiap menyelesaikan satu lagu Bengbeng tak mampu menahan tangis. Lima hari sebelumnya, Sabtu, 1 Agustus, Trisnoize, pemain bass yang juga saudara kandungnya, meninggal dunia. Di sudut lain, Sandy Andarusman juga menahan kesedihan yang sama. Momen haru ini diceritakan oleh Richard Mutter.

Sehari sebelumnya, Sabtu 7 Agustus, keluarga besar pas Band berkumpul di sebuah kafe di jalan Gatot Subroto, Bandung. Ini semacam ungkapan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah memberikan perhatian pada Trisnoize sejak sakit hingga kepulangannya.

Perhatian musisi Bandung pun tumpah. Personel Koil, Buddi Arab (Time Bomb Blues), Kuburan, Nurman Hanifuddin (7 Kurcaci), Derry Sulaiman (eks Betrayer) dan lain-lain terlihat mengikuti ragkaian acara hingga berakhir sekitar pukul 24.00 WIB. Melanie Soebono, yang khusus datang dari Jakarta, meluapkan kesedihannya di pelukan Bengbeng. Mel yang sejak lama berkawan akrab dengan pas Band pernah beberapa kali menjadi bintang tamu.

Melanie Soebono dan Biddi Arab (Time Bomb Blues). Foto: Dok. Buddi Arab

Bengbeng memang paling terpukul.  Sebab pada Sabtu, 11 Juli, gitaris tersebut ditinggal pergi istrinya, Anita Dian Savitri, yang mengembuskan napas di Rumah Sakit Al Islam.  Bisa dipahami jika di Subang ia langsung mencoret lagu “Kumerindu” dari daftar lagu yang telah disiapkan. Lagu yang dimaksud merupakan salah satu hit dari album Stairway to Seventh yang dinyanyikan oleh Yukie Martawijaya dengan Bunga Citra Lestari.

“Penghilangan lagu itu spontan di atas panggung sama Bengbeng,” cerita Andrian Champ dari pihak manajemen.

Sebagai entitas yang didirikan pada 1993, cobaan berat seperti ini bukan pertama kali dialami Pas Band. Semasa kepengurusan saya, Richard Mutter mengundurkan diri secara tiba-tiba di tengah persiapan album baru dan kesibukan menyelesaikan tur yang menyisakan sejumlah kota.  Cukup mengangetkan karena Kiki, panggilannya, menyampaikan keputusanya hanya melalui telepon. Bahkan Yukie, Begbeng dan Trisnoize pun belum mengetahuinya.

Dalam diskusi di jalan Babakan Garut no 406/120, Laswi, Bandung, kami segera menyisir satu per satu kandidat yang dapat menyelamatkan situasi. Sempat muncul nama Agus aziz, mantan drummer Sahara. Namun ketika berusaha menghubungi, diketahui Aguz tengah tur Eropa bersama band fusion Krakatau. Pilihan kemudian jatuh pada Sandy Andarusman, drummer U’Camp. Sebagai catatan, agenda pertemuan saat itu bukanlah untuk mendapatkan pengganti Richard Mutter.

Dengan latihan spartan, mengingat perbedaan warna musik antara U’Çamp dengan Pas Pand dan jadwal tur di depan mata, akhirnya kami harus berterima kasih pada Sandy yang telah memungkinkan kami memenuhi kewajiban kepada promotor. Jika tidak, runyamlah urusannya.

Bengbeng (gitar), Richard Mutter (drum), Yukie Martawijaya (vokal), Sandy Andarusman (drum), Trisnoize (bass). Foto: Dok. Pas Band

Persoalan muncul setelah tur selesai: siapa drummer yang akan mengisi drum untuk sesi rekaman? Lagi-lagi kami dituntut bergerak cepat dan fleksibel. Sandy Andarusman kemudian diminta mengisi drum untuk lagu “Boom”, “Terlalu Yakin” dan “Mengisi Pagi” sedangkan Jordan – drummer additional duo Air – untuk mengisi “Pantai Abiss” dan “Hey Negeri”.

Namun, tetap saja, kepergian Richard Mutter yang berperan penting membuat langkah band ini terasa pincang. Suka atau tidak kami dituntut berpikir keras agar kepergiannya tidak terlalu memengaruhi rencana perilisan album. Dalam konteks inilah muncul ide membuat gimmick berupa duet bersama Tere, yaitu “Kesepian Kita”. Tema besarnya apa lagi jika bukan ungkapan rasa kehilangan. Liriknya ditulis oleh Yukie dan Trisnoize. Saat itu tidak ada seorang pun yang menduga bahwa langkah yang ‘bermain dengan risiko’ tersebut menjadi sebuah lompatan besar.

Oya, Tere sebenarnya merupakan kandidat keempat pelantun “Kesepian Kita” yang ngepop itu. Siapa para kandidat sebelumnya, teman-teman nanti dapat mengetahui bocorannya melalui podcast Journey of Pas Band di kanal YouTube Kamar Musik_Id.

Theresia Ebenna Ezeria Pardede (Tere). Duet di lagu “Kesepian Kita”. Foto: Istimewa.

Kini Pas Band harus kehilangan lagi seorang personel. Pertanyaannya, perlukah Pas Band segera mencari penggantiTrisnoize agar tetap dapat menemui penggemarnya di sejumlah kota? Banyak pilihan bisa diambil. Untuk itu berikut ini ada beberapa ilustrasi yang dapat menjadi rujukan.

Soenatha Tanjung (gitar), Arthur Kaunang (bass) dan Syech Abidini (drum) pernah dibuat pusing karena Ucok Harahap (vokal) sering mangkir dari panggung AKA. Tidak mau berlarut-larut, mereka kemudian membentuk band baru bernama SAS ketimbang memecat Ucok. Dengan demikian, warisan karya AKA tersimpan utuh dalam sejarah musik rock Indonesia. Ini mirip dengan langkah The Beatles yang membubarkan diri ketika personelnya cekcok terus. Hal serupa juga dilakukan oleh Led Zeppelin mau pun The Police.

Ketika John Bonham tewas karena over dosis pada 25 September 1980, Robert Plant segera mengeluarkan pernyataan resmi yang menggetarkan: “Dengan kepergian Bonzo (Bonham) maka perjalanan Led Zeppelin telah selesai!”

Reza Artamevia Duetdi lagu “Getir”. Foto: Istimewa

Ingat Nirvana?  Setelah kematian Kurt Cobain pada 1994, Krist Novoselic dan Dave Grohl tidak lagi merekrut vokalis/gitaris baru. Prinsip mereka: “Tidak ada Kurt Cobain, tidak ada Nirvana.”

Dave Grohl kemudian mendirikan Foo Fighters sedangkan Novoselic memilih tetap berbisnis di dunia musik. Sebelumnya, tindakan ekstrem seperti itu ditempuh oleh The Doors, Cream atau Jimi Hendrix Experience.

Namun setiap musisi memiliki perspektif berbeda dalam menyikapi musibah mau pun gejolak dalam bandnya. Tidak sedikit yang memilih mendatangkan musisi additional namun tidak pernah menjadikannya personel resmi. Contoh gampangnya adalah The Rolling Stones yang harus kehilangan dua personel resmi: Bill Wyman (bass) dan Charlie Watts (drum).

Hal serupa dilakukan oleh R.E.M yang ditinggalkan Bill Berry (drum) pada 1997.  Michael Stipe, Peter Buck, dan Mike Mills tidak mencari drummer baru sebagai personel resmi. Untuk kebutuhan panggung dan rekaman mendatangkan Joey Waronker dan Bill Rieflin namun tidak pernah mengangkatnya sebagai personel resmi. R.E.M. tetap berjalan sebagai trio sampai bubar pada 2011.

Bunga Citra Lestari. Duet di lagu “Kumerindu”. Foto: @IG bclsinclair

Contoh paling ekstrem dari band yang bersikeras mempertahankan orisinalitas bandnya tercatatat Electric Light Orchestra. Pasca ditinggal Roy Wood dan Bev Bevan, Jeff Lynne merupakan satu-satunya personel resmi yang tetap bertahan. Rangkaian tur dunia yang selama ini dijalaninya hanya menampilkan musisi additional. Kelompok The The bahkan lebih menyerupai proyek solo Matt Johnson dikarenakan ia tak berminat merekrut personel tetap.

Daftar band yang hanya menyisakan seorag personel ini akan bertambah panjang jika ditambah dengan Panic! At the Disco (Brendon Urie), Ghost (Tobias Forge), Intervals (Aaron Marshall) ,Art Ensemble of Chicago (Roscoe Mitchell) dan banyak lagi.

Mereka adalah sederet nama yang memiliki pemahaman bahwa personel asli merupakan bagian identitas artistik dari sebuah band. Selebihnya, lebih banyak band yang melanjutkan perjalanan karirnya dengan merekrut personel baru. Model seperti ini lumrah dilakukan oleh musisi Indonesia.

Trisnoize (bass). Banyak menyumbang lagu hit. Foto: Dok. Pas Band

Bagaimana Pas Band menyikapi kekosongan personel kembali kepada kesepakatan bersama. Apa pun langkah yang akan diambil sama-sama menawarkan peluang dan risiko. Merekrut personel baru  membutuhkan energi ekstra karena membutuhkan waktu, penyesuaian pola dan tentu saja penyatuan visi.  Bagi saya, sudah bukan waktunya lagi Pas band berada dalam situasi tersebut.  Merawat jejak langkah sebagai band yang pernah menjadi bagian dari movement musik era ’90-an akan lebih masuk akal. Mereka akan menjadi pintu masuk bagi generasi baru yang ingin melakukan penelusuran sejarah pergerakan rock alternatif.

Sebaliknya, dengan mengandalkan peran musisi additional akan memberi banyak kesempatan bagi munculnya kejutan di kemudian hari sebagai bagian dari upaya penyegaran.   

Sekadar masukan saja. (*)

Penulis: Denny MR. Foto image: Dok. Pas Band

Visited 20 times, 1 visit(s) today
Close Search Window
Close