Written by 3:20 pm On The Spot

Gempuran Terakhir JogjaROCKarta

KamarMusik.Id. Semula saya menduga jumlah penonton hari pertama akan sedikit dengan mundurnya Helloween sebagai headliner, dan sebagian besar akan me-refund atau setidaknya pindah ke hari kedua.

Ternyata dugaan itu meleset. Stadion Kridosono terlihat penuh meski tidak bisa dikatakan padat. Hal ini menunjukkan para penggemar heavy metal tidak ingin kehilangan moment pada perhelatan terakhir JogjaROCKarta, 6 dan 7 Desember 2025.

Di pertengahan ’80an Majalah Hai pernah memperkenalkan istilah ‘rocker gaek’ untuk melabeli musisi seperti Mick Jagger, David Coverdale atau Robert Plant (padahal waktu umur mereka paling baru di kepala 4). Dan, malam ini saya merasakan auranya. Dengarkan saja obrolan khas di antara mereka.

“Eh udah diminum tadi, obat asam lambungnya?”, “Wah kolesterolku naik sampai 240 nih,” atau “Terakhir ngukur tensi, berapa?”

Saat tiba giliran Down For Life suasana  sudah ramai dan meriah. Musik mereka menggetarkan dan sekilas mengingatkan pada Lamb Of God dan Fear Factory (kombinasi death growl dan haunting clean vocal. Iya, Fear Factory. Kamu pikir yang memelopori paduan vokal semacam itu adalah Slipknot? Tarik mundur dulu, kawan.)

Down For Life tampil agresif dengan frasa bahasa Indonesia yang ‘baik dan benar’. Sebenarnya akan terasa lebih mengena seandainya mereka berani menggunakan ungkapan sehari-hari. Bahkan bila perlu menampilkan bahasa daerah.

Fakta ini pernah dibuktikan oleh Jogja Hip Hop Foundation yang nge-rap dalam Bahasa Jawa. Terasa lebih riil banget. Semburan kemarahan dan agresinya jauh lebih terasa ketimbang stage rap menggunakan bahasa Indonesia ‘yang baik dan benar’.

Bukan hanya Down For Life yang disambut meriah, tetapi juga Jamrud, band asal Cimahi, Jawa Barat. Lirik mau pun vokal mereka sebenarnya sederhana saja, tapi Jamrud memiliki kemampuan menciptakan riff yang luar biasa. Contohnya Pelangi di Matamu yang begitu akrab di hati pengunjung JogjaROCKarta dan sanggup mengundang koor massal.  

Kesampingkan Everything About You atau Cats In The Craddle, jujur nih mengundang Ugly Kid Joe ke JogjaROCKarta sebenarnya hampir sama dengan mengundang Tyketto atau Sleeze Bees. Tidak bikin heboh.  Saat lagu pembuka, Neighbour, penonton masih kelihatan adem. Begitu juga ketika So Damn Cool dari “America’s Least Wanted”.

Baru pada Cats in the Cradle penonton terlonjak. Mungkin karena lirik lagu yang dipopulerkan oleh Cat Stevens ini sangat mengena di penonton era ’90-an. Puncaknya terjadi saat Everything About You dibawakan yang berhasil mendongkrak suasana.                                                        

Untuk saat ini Ugly Kid Joe bukan band kelas headliner. Di JogjaROCKarta mereka ‘ketiban sampur’ karena secara mendadak Helloween mengumumkan batal tampil menyusul kabar Michael Kiske sakit. Padahal masih ada Andi Deris dan Kai Hansen. Ya, memang jadi tidak 100% seperti yang diharapkan, tapi akan tetap lebih baik daripada sama sekali tidak jadi. Lagipula, yakin deh, banyak fan berat Helloween yang akan more than thrilled melihat Kai Hansen membawakan Ride The Sky!

Jadi, angkat topi untuk Ugly Kid Joe yang sudah berusaha keras mengatasi kekecewaan sukses membangkitkan suasana.

The Hu memperlihatkan orisinalitas yang membuatnya terlihat menonjol. Secara visual mereka sangat menghibur. Kostum para personelnya mengingatkan pada era Genghis Khan nan ganas. Seperti para villain dalam film bertema apokaliptik.

Ya, The Hu memang band asal Ulaanbaatar, Mongol. Selain memadukan tontotan yang tidak lumrah baik dari segi instrumen mau pun vokal, saya berani mengkategorikan mereka sebagai Battle Metal – walaupun nggak mengerti liriknya sama sekali. Semacam Sabaton atau Turisas-lah.

Tentu jangan dilupakan juga Loudness! Semua yang saya suka tentang heavymetal ada di aksi panggung mereka. Lagu-lagu powerful, terutama gitaris Akira Takasaki yang tidak ragu atau pelit dalam menunjukkan ketangkasan yang menjadi alasan mengapa dia layak dihormati. Vokal Minoru Niihara memperlihatkan aura ke-Jepang-annya yang menjadi faktor pembeda dari umumnya melodi vokal “barat”.

Ada pun Anthrax sangat layak menempati posisi sebagai penutup ritual terbesar heavy metal ini. ‘Anak bawang’ paling menderita semasa The Big 4 tapi buat saya justru lebih  terhormat dibandingkan Metallica, Slayer dan Megadeth – di luar angka penjualan album.

Dari sisi kualitas album selama 15 tahun terakhir, Anthrax pun mengungguli ketiga nama rekannya di Big 4. Album ”Worship Music” (2011) dan “For All Kings” (2017) sangat solid.  Karena itu luar biasa menyenangkan ketika mereka  membawakan Fight ‘Em Till You Can’t dan Breathing Lightning.

Stelist mereka tidak memasukkan era John Bush sampai era reuni Belladona, dan cukup mengagetkan bahwa Caught In A Mosh, lagu favorit Scott Ian, muncul dibagian awal. Menurutnya, ini adalah lagu bandnya yang paling penting.

Seperti juga ketika konser di Ancol, 2012, Frank Bello paling seru terlihat sangat menikmati manggung. Scott Ian sama ikoniknya Kerry King. Charlie Benante kalem di belakang set drum. Anthrax menyihir dengan  sound menggelegar dan berhasil menutupi vokal  Joey Belladona yang terkadang fales. Tetapi ini adalah panggung live! Some mistakes are to be expected and even welcome.

Perhelatan akbar JogjaROCKarta telah menyelesaikan misinya. Ia datang pada 2017, mengguncang, dan kini meninggal jejak yang tidak akan terhapus oleh zaman.

Tabik JogjaROCKarta 2025! (*)

Penulis; Immanuel Sembiring. Editor: Denny MR. Fotografer: Reza Kodok

Visited 103 times, 1 visit(s) today
Close Search Window
Close