Kamar Musik_Id. Video pendek itu memperlihatkan wajah polos seorang bocah bernama Pison Kogoya (8), siswa SD dari Papua Pegunungan, yang mendonasikan seluruh uang tabungannya untuk korban bencana di Sumatera.
Seperti diberitakan harian Kompas (4/12/2025), Pison dengan suka rela membongkar celengan miliknya. Nominalnya mulai dari seribu, dua ribu, lima ribu, puluhan ribu, hingga ratusan ribu. Total seluruhnya berjumlah Rp 1,6 juta. Semula uang ini akan digunakan olehnya untuk libur Natal ke Jayapura, Papua, namun berita bencana yang berseliweran di handphone-nya membuyarkan rencananya.
”(Untuk bantu) rumahnya yang tenggelam, yang tidak ada baju, tidak ada makanan,” katanya dalam video yang diunggah di Instagram @merawatpapua, Rabu (3/12/2025). Langkah Pison yang domisilinya berjarak sekitar 5.000 kilometer dari wilayah pusat bencana sangat menggugah.

Di Jakarta sejumlah elemen masyarakat pun sigap mengulurkan bantuan. Para selebriti, influencer, content creator, komedian dan musisi. Antara lain Ferry Irwandi (10.374.062.800), Rachel Vennya (350.000.000), Leya Princy (), Praz Teguh (1.007.392.429), Ricky Harun (39.036.755), Fuji (217.109.229). Sebagian terjun langsung ke Lokasi bencana dan menemukan fakta betapa dahsyat bencana yang menggguncang Aceh, provinsi Sumatera Utara dan provinsi Sumatera Barat.
Sampai tulisan ini di upload sebagian masih membuka aksi penggalangan seperti dilakukan oleh Melanie Subono. Melalui Rumah Harapan Melanie, Mel sudah terbilang lama menjadi aktivis kemanusiaan.
100 Musisi Heal Sumatera
Minggu sore, 7 Desember 2025, bertempat di Lippo Kemang, Jakarta Selatan, seratusan musisi tanah air bahu-membahu mengumpulkan donasi. Digelar di T Space, Bintaro, Tangerang Selatan, Banten. Para musisi yang menyisihkan waktunya antara lain Kaka Slank, Andien, Judika, Maliq & D’Essentials, David Bayu, Ello, Rio Febrian, Trio Lestari, Fryda Lucyana, Barry Likumahuwa, Bertha dan Andre Taulany yang ‘reuni’ dengan Stinky. Persiapannya terbilang mepet, cuma satu minggu. Semua tampil tanpa dibayar.
Patungan bela sungkawa ini diinisiasi oleh Kadri Mohamad, Irma Hutabarat dan Tompi yang juga sebagai pengelola T Space. Hingga pukul 21.30, dana yang terkumpul menembus angka Rp 15.179.230.059.
Musisi yang bergerak untuk proyek kemanusiaan selalu muncul dari waktu ke waktu. Baik di Indonesia mau pun luar negeri. Umumnya berujud penggalangan donasi lewat konser. Sebagian berlanjut dengan merilis album rekaman. Berikut ini beberapa di antaranya.
Suara Persaudaraan
Sering diingat sebagai pionir gerakan kemanusiaan, Suara Persaudaraan terinspirasi oleh sukses USA For Afrika di Amerika dengan produser Quincy Jones. Sekitar 55 penyanyi, 15 komposer dan 21 musisi pendukung menyatukan rasa sebagai bentuk solidaritas sosial melalui musik. Penggagasnya adalah James F Sundah.
James F Sundah bersama Addie MS, Ajie Soetama, Lydia, Ianiar, Utha Likumahuwa, Chris Manusama menulis lagu Anak-Anak Terang dan diaransmen oleh Addie MS.
Meski beredar di bawah label ProSound pada 1985, namun sejumlah label lain turut memberi dukungan seperti Aquarius, AMK, Union Artist, Purnama, Billboard dan Jackson Records.
Uniknya, meski mengadopsi konsep USA For Africa, jumlah penyanyi yang membeludak di dalamnya tak urung membuat Quincy Jones terkagum-kagum.
“Hebat kamu James bisa mengumpulkan 55 artist, saya saja cuma berhasil mengumpulkan sekitar 40 artist,” cerita James F Sundah dalam obrolan melalui zoom pada 16 Oktober 2025. Dia kini bermukim di New York, Amerika.

Kita Untuk Mereka
Luluh lantaknya Aceh akibat terjangan tsunami pada 2004 serta merta menggerakkan sejumlah musisi untuk membuat proyek kemanusiaan bernama Kita Untuk Mereka. Almarhum Glenn Fredly menulis lagunya dengan aransemen Erwin Gutawa. Ada pun penyanyi yang terlibat berasal dari lintas generasi. Antara lain Titiek Puspa, Sheila On 7, Ebiet G Ade, Padi, GIGI dan banyak lagi.
Dirilis pada 2005, album Kita Untuk Mereka dinyanyikan secara keroyokan oleh Indonesian Voices.
Jazz For Aceh
Prorek Jazz For Aceh berawal dari konser di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, 22 Januari 2005. Tujuannya , seperti Kita Untuk Mereka, untuk turut membantu korban gempa bumi dan tsunami. Penyelenggaranya Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Farabi Music dan majalah Warta Jazz.
Acara ini menampilkan Bubi Chen Quartet, Idang Rasjidi dan kawan-kawan, Sixth Element & Rieka Roslan. Sempat beredar kabar bahwa proyek ini didokumentasikan dalam album rekaman, namun tidak bisa divalidasi mengingat sangat sulit menemukan keberadaan album tersebut.
Sonic/Panic
Album Sonic/Panic muncul pada 2013 atas prakarsa The Indonesian Climate Communication, Arts & Music Lab (IKLIM). Lebih dari sekadar kompilasi musik multi genre, album ini secara sadar memosisikan sebagai manifestasi bahwa musik bisa menjadi medium aktivisme sosial dan lingkungan.
Dirilis lewat label Alarm Records yang dianggap sebagai “label rekaman sadar iklim pertama di Indonesia”, mereka ingin agar musik Indonesia tak sekadar bergulat dengan persoalan estetika dan komersial, melainkan turut bertanggung jawab atas dampak ekologis dan tanggung jawab sosial. Musisi pendukungnya Navicula, Endah N Rhesa, FSTVLST, Iksan Skuter, Tony Q Rastafara, Tuan Tiga belas, Iga Massardi, Pribumi, Rhythem Rebels, Kai Mata, Guritan Kabudul dan Nova Felastine.

USA For Africa
Gerakan kemanusian lahir sebagai respons atas proyek serupa, Band Aid, yang dibuat oleh Bob Geldof (Boomtoen Rats) atas bencana kelaparan yang menimpa Etiopia. Harry Belafonte membawa gagasan ini kepada Quincy Jones dan Lionel Richie. Gayung bersambut. Sekitar 40-an musisi papan atas, termasuk Bob Dylan yang dikabarkan sulit bersosialisasi, merekam lagu We Are the World ciptaan lionel Richie dan Michael jackson. Inilah salah satu aksi kekuatan global.
Dari hasil penjualan album rekaman, acara dan donasi, USA For Africa berhasil meraup sekitar 130 juta dolar. Dana sebesar itu disalurkan pada lebih dari 500 organisasi Afrika di 21 negara. Menjadikannya proyek kemanusiaan paling ikonik dan terkenal sepanjang masa.

Rock Aid Armenia
Pada 7 Desember 1988 terjadi gempa Spitak di Armenia yang menelan korban 25.000 sampai 50.000 tewas dan 130.000 terluka. Gempa bumi ini diyakni sebagai gempa paling mematikan pada abad ke-20.
Tersebutlah John Dee dan beberapa dari industri musik dan rekaman tergerak untuk mengumpulkan donasi dengan dengan nama Life Aid Armenia dan merilis album. Dee mulai dengan merekam ulang lagu What’s Going On yang dibawakan oleh David Gilmour (Pink Floyd), Boy Goerge (Culture Club) dan lainnya.
Rekaman ulang paling terkenal tentu saja Smoke on the Water dari Deep Purple yang melibatkan rocker kondang seperti Ian Gillan, Paul Rodgers, Bruce Dickinson, Roger Taylor, Brian May, Tony Iommi, David Gilmour, Ritchie Blokmore. Boleh dibilang, inilah album kompilasi bertema amal yang didukung sejumlah musisi terkenal di dunia.
Selain kedua lagu di atas, beberapa band rock lain turut mendermakan lagu mereka mulai dari Pink Floyd, Yes, Led Zeppelin, Foreigner, Iron Maiden sampai Bon Jovi. Dalam perkembangannya nama Life Aid Armenia kemudian diubah menjadi Rock Aid Armenia. Dee merilis album kompilasinya dengan judul “The Earthquike.”

Hear ‘N Aid
Proyek Hear ‘N Aid pertama kali digagas oleh dua personel Dio, Vivian Campbell (gitar) dan Jimmy Bain (bass). Ide dasarnya berasal dari kesadaran bahwa koloni metal metal belum pernah ada yang terlibat dalam proyek kemanusiaan. Mereka lantas mengutarakannya kepada Ronnie James Dio yang langsung tancap gas menulis singel berjudul Stars yang direkam di
Sedikitnya 40 musisi cadas berkumpul untuk merekam single Stars di studio A&M Records, Hollywood, Los Angeles, pada 20 dan 21 Mei 1985.
Keluarga Dio mengumumkan perolehan Hear ‘N Aid mencapai lebih dari 3 juta dolar. Seperti Band aid dan USA For Africa, selury pandapatan disalurkan untuk menanggulangi bencana kelaparan di Etiopia.

Higher Ground Hurricane Relief Benefit Concert
Pada 17 September 2005 sejumlah musisi jazz yang tergabung dalam Jazz at Lincoln Center menggelar konser untuk membantu korban bencana terkhusus dampak dari Hurricane Katrina.
Sebagai ungkapan rasa prihatin, sejumlah musisi jazz spontan terjun langsung seperti Dinana Krall, Terrence Blanchard, Norah Jones, Cassandra Wilson, James Taylor, Bettle Midler dab banyak lagi.
Pendapatan sebanyak 2 juta dolar didistribusikan oleh Baton Rouge area Foundation untuk membantu pemulihan seperti kebutuhan perumahan, Kesehatan, Pendidikan dan tentu saja membangun kembali komunitas musik.

Far Corporation
Tidak semua proyek amal berjalan sesuai rencana. Ada juga yang melenceng pada level eksekusi. Far Corporation, misalnya. Proyek yang semula bernama Frank Farian Corporation dibuat sebagai gerakan amal. Mereka kemudian mengcover lagu Mother and hild Reunion milik Paul Simon, dan merilis album debut “Division One” (1985).
Sayangnya, setelah itu produser Frank Farian tidak fokus pada rencana awal dan malah menjadikan Far Corporation tak lebih sebagai supergrup khusus lagu cover. Ini terjadi setelah mereka mengcover Stairway to Heaven yang sebenarnya tak pernah direncanakan. Lagu ciptaan Jommy Page dan Robert Plant ini berhasil masuk chart Billboard Hot 100 AS posisi 89 dan posisi 8 untuk chart di Inggris. Padahal versi aslinya tidak pernah dijadikan single.
Tidak ada catatan resmi bahwa hasil penjualan album mereka disalurkan untuk keperluan amal. Far Corporation sendiri akhinya tak lebih sebagai band komersil. Setiap tampil personelnya berubah terus. Namun yang paling popular adalah formasi khsusus Stairway to Heaven, yaitu Robin Mc Auley, Steve Lukather, David Paich, Bobby Kimball dan Jeff Porcaro.
Tidak jelas bagaimana bagaimana lagu ini bisa lolos dari Jimmy Page yang dikenal sangat selektif mengijinkan ciptaannya dicover musisi lain.

Galibnya gerakan spontan dan menuntut langkah cepat, seringkali momen penting tersebut menyisakan kendala. Salah satunya adalah pendokumentasian serta pencapaian gerakan itu sendiri. Pembagian tugas sering tumpang tindih, atau munculnya kesulitan mekanisme penyaluran bantuan di lokasi dan tranparansi.
Rock Aid Armenia, misalnya, tidak meninggalkan catatan resmi berapa donasi yang berhasil terkumpul. Ketika 30 tahun kemudian sebagian pendukungnya mengunjungi Armenia, mereka lebih fokus pada pendirian sekolah musik di Gyuri – salah satu wilayah paling hancur akibat gempa. John Dee dan kawan-kawan konon tidak kunjung memberikan laporan resmi. Para musisinya sendiri tidak ada yang ambil pusing.
Sementara itu untuk mengawal tranparansi pencapaian 100 Musisi Heal Sumatera, Kadri Mohamad mengaku bekerjasama dengan Iluni UI yang sistem penyaluran dananya akan diaudit oleh public accountant.
“Iluni UI tentunya punya planning jangka waktu pendek, menengah dan panjang. Konsepnya kurang lebih sama dengan waktu Komunitas Biduan bikin (donasi) untuk Lombok dan Palu yang terkumpul total 23 miliar,” kata pengacara dan vokalis Makara tersebut.
Konser amal yang dia maksudkan adalah “Gala Dana 100 Biduan 100 Hits Untuk Palu Donggala Sulteng, digelar di Lippo Mall Kemang (5/10/2018) dan musisi lintas genre. Termasuk Raisa, Tulus, Inul Daratista, Ariel Noah dan Yura Yunita.
Berlangsung sejak pukul 13.00 WIB hingga 23,15 WIB, konser ditutup dengan lagu Smoke on the Water dan Tanah Airku.

Para musisi menjadikan aksi mereka bukan sekadar sarana penghibur, namun jembatan untuk membangun harapan bagi yang tertimpa bencana. Proyek kemanusiaan, apa pun bentuknya, bukti bahwa sebuah nada dapat bermakna kepedulian.
Ketika Indonesia bergetar oleh duka dan keadilan terasa menjauh, para musisi bangkit menyuarakan kemanusiaan. Menyalakan api semangat sembari terus menyadarkan bahwa kepedulian selalu punya ruang.
Para musisi adalah penjaga api itu. (*)
Penulis: Denny MR. Grafis: Junior Eka Putro.