KamarMusik.id. Nine Inch Nails (NIN), kelompok rock industrial asal Cleveland, Ohio, menggebrak Accor Arena, Paris (7/7). Inilah konser mereka sejak tujuh tahun silam. Pada 2018 mereka tampil di Olympia dengan mendapat sambutan membludak.
Kini untuk rangkaian Peel It Back Tour World 2025 mereka memilih Accor Arena, venue dengan kapasitas yang jauh lebih besar, yakni 20.300 tempat duduk. Ini tempat konser favorit saya. Selain dekat dengan distrik Asia juga merupakan persinggahan wajib band manacanegara. Kedatangan NIN sebuah kesempatan langka. Jadi, sejak jauh hari saya sudah memesan tiketnya sebelum kehabisan.
Setelah menempuh lima jam perjalanan dari stasiun Gourdon, sampailah di stasiun Austerlitz. Saya menginap di district 13, karena di sana bertebaran restoran Asia dan moda transportasi menuju Accor Arena terbilang mudah. Beruntung, hujan yang semula turun dengan lebat mulai mereda saat menuju venue.

Panggung Peel It Back Tour World 2025 terlihat unik untuk tidak mengatakan futuristik. Terdiri dari dua bagian. Di atas panggung utama terdapat panggung kedua yang masing-masing tertutup tirai hitam yang tembus pandang. Sejak awal karirnya NIN memang selalu inovatif. Saat tampil di festival Woodstock 1994, misalnya, para personel melumuri seluruh tubuhnya dengan lumpur.
Konser dibuka oleh DJ Boys Noize asal Jerman. Dia berusaha menyesuaikan diri dengan nuansa gelap panggung utama. Penampilannya tidak buruk, akan tetapi durasinya yang memakan waktu satu jam lebih membuatnya terasa membosankan. Sebelumnya, Boys Noize pernah berkolaborasi dengan Trentz Reznor menggarap soundtrack Challenger.
Sekitar pukul 9 lampu di panggung kecil padam. Reznor tampil seorang diri ditemani piano. Suasana mendadak hening saat jemarinya memainkan “Right Where it Belong”. Siluet tubuhnya yang diproyeksikan ke belakang panggung terkesan megah. Gelap. Monumental.

Setelah itu bergabung Atticus Ross (keyboard) memainkan “Ruiner” disusul oleh Alessandro Cortini (bass) yang langsung menyambung dengan “Piggy”. Panggung kedua kemudian memperlihatkan siluet Ilan Rubin (drum) diikuti terangkatnya tirai tadi, menyisakan tirai panggung utama. Oh ya, saat itu dia berulang tahun. Kebahagiaan saya tentu saja ketika menyaksikan langsung sosok Robin Finck (gitar).
Barulah setelah seluruh personel lengkap, NIN segera menggempur dengan “Wish”, “March Of The Pigs”, “Reptile”, “The Lovers”, “Copy of A”, dan “Gave Up”. Permainan laser yang memanjakan mata sangat terasa mendukung karakter setiap lagu. Kadang menawarkan dominasi warna cerah, namun tidak jarang terlihat gelap, murung.

Sementara itu Boys Noize kembali naik pentas. Kali ini, bersama Reznor, menghentakkan irama full techno lewat “Vessel”, “Sin” dan “Came Back Haunted”. Panggung pun disiram sinar merah membara.
Perpindahan dari panggung utama ke panggung kedua berlangsung sangat rapi. Dari set akustik melompat ke elektronik sebelum kemudian menggelegar dalam set full elektrik. Penonton seolah dipaksa untuk berjoget ala disko, moshing sampai surfing. Kesemuanya dibangun melalui setlist yang dinamis.
Dengan atmosfer seperti itulah NIN menyelesaikan “1,000,000”, “Heresy”, “Closer”, “The Perfect Drug”, “Burn”, “Head Like A Hole” hingga “”Hurt”.

Jujur, menonton konser NIN seperti menikmati instalasi seni. Naluri sensorik kita digempur oleh pesona dari segala arah melalui atraksi pencahayan dan grafik yang harmonis dengan kebisingan. NIN termasuk jarang melakukan tur, oleh karena itu seluruh kemampuan tata panggung dan tata cahaya dikerahkan secara maksimal.
Semuanya berkembang dari ide kreatif Trent Reznor. Pria berusia 60 tahun kelahiran New Castle, Pennsylvania, itu bagai menua secara terbalik. Sorot matanya nyalang penuh amarah. Vokalnya jauh lebih bertenanga.
Untuk tata artistik Peel It Back Tour 2025 Reznor bekerjasama dengan direktur kreatif Todd Tourso dan MTLA.studio. Tata cahaya yang luar biasa tadi dirancang oleh Paul “Arlo” Guthrie. Pertunjukan ini menampilkan nuansa sinematografi yang natural melalui visual imersif yang diproyeksikan ke tirai tembus pandang. Ini adalah bentuk terobosan Reznor untuk menggantikan peran panel LED tradisional demi menciptakan efek 3D berlapis-lapis yang belum pernah ada sebelumnya.

Melalui imajinasi liar Reznor, pernah dinobatkan sebagai sosok inspiratif versi Majalah TIME, NIN menjelma sebagai nama penting pada skena industrial. Dari 13 nominasi Grammy Awards, dua di antaranya disabet untuk “Wish” (1993) dan “Happiness in Slavery” (1996) masing-masing untuk kategori Best Metal Performance.
Setelah Accor Arena, Peel It Back Tour masih akan berlanjut hingga berakhir di Kia Forum, Los Angeles, 19 September 2025. Itulah saat dimana NIN akan merilis album baru, yang berasal dari soundtrack film Tron: Ares – antara lain dibintangi Jared Leto.
Meski pun Reznor dan Atticus Ross telah merilis sedikitnya 20 skoring musik untuk film, termasuk Social Network (2010) dan Soul (2020) yang memenangi piala Oscar, Tron : Ares merupakan album soundtrack film layar lebar pertama yang dirilis di bawah label Nine Inch Nails (*).
Penulis: Dikyana Hidayat (Kontributor Paris) Foto image: Astrida Valigorsky/Getty Image