KamarMusik.id. Kamis malam, 4 September 2025, linimasa Instagram @sindikasi.aksara menghadirkan acara Bedah Buku “Jurnalisme Musik dan Selingkar Wilayahnya” karya Idhar Resmadi dengan moderator Foggy FF.
Salah satu topik menarik tentu saja pada pertanyaan tentang serbuan fenomena kecerdasan buatan (AI) terhadap dunia musik yang sampai sekarang masih menimbulkan pro dan kontra. Apakah AI merupakan ancaman atau justru peluang? Idhar menegaskan bahwa AI hanyalah pengulang data. Kreativitas, kata dia, tetap milik manusia.
“Keunikan tetap dibutuhkan dalam mencipta khasanah musik. Kreativitas adalah kunci agar musisi tidak terjebak dalam plagiarisme,” ujarnya.
Buku setebal hampir 200 halaman ini bukan terbitan baru sebenarnya. Dicetak pertama kali oleh KPG (Kepustakaan Gramedia) pada 2018. Antara lain berisi pandangannya tentang jurnalisme musik dalam konteks lebih luas. Menurutnya, jurnalisme musik adalah persoalan arsip, catatan sejarah, sekaligus ruang kritik yang dapat membuat musik tetap hidup.
Dengan memahami bab demi bab, “Jurnalisme Musik dan Selingkar Wilayahnya” berhasil membangun kesadaran bahwa pekerjaan seorang jurnalis musik adalah profesi yang menantang sekaligus membanggakan. Kelengkapan buku ini bahkan dapat diartikan sebagai sebuah gugatan pada wajah jurnalisme musik sekarang yang tengah diperbudak oleh algoritma. Atau, jangan-jangan jurnalisme musik itu sendiri sudah mati suri?
Pada halaman 76, misalnya, Idhar bercerita bagaimana para penulis musik sekarang berinteraksi dengan zaman. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Marty Davis tentang legenda hardcore asal Amerika, Black Flag (Bloomburry Books). Jurnalisme dalam bentuk komik, novel grafis atau esai foto merupakan upaya lain para penulis musik untuk tetap eksis.
Ia menyebut gaya jurnalisme sastra yang banyak terinspirasi dari oleh gonzo memungkinkan seorang penulis musik menghadirkan sudut pandang lebih subjektif dan personal ketika menafsirkan sebuah karya. Membaca atau menulis musik dengan cara ini seperti membuka jendela baru, yang pada gilirannya dapat menghadirkan cerita lebih luas.
Tulisan yang mengetengahkan sudut pandang subjektif sebenarnya sah-sah saja sepanjang si penulis membekali dirinya dengan argumentasi mendalam. Bahkan dapat menjadi medium refleksi atas sebuah karya musik.
Kritik tulisan, yang umumnya bersifat personal, kerap mengundang polemik. Tak semua pemusik dapat menerimanya secara terbuka. Pada Juni 2017 band rock Kings of Leon dan rapper Chance The Rapper menuntut media daring MTV News agar menghapus ulasan mereka yang dianggap negatif (halaman 132).
Namun, atas nama dinamika, kritik dalam dunia musik tetap diperlukan untuk memberi kesempatan pada daya analisis dan interpretasi dalam menilai karya seseorang. Indonesia tidak kekurangan penulis musik yang baik. Namun ruang untuk berkontribusi semakin sempit, sehingga mendorong mereka untuk bergerilya dengan caranya masing-masing.

Idhar Resmadhi seorang penulis dan dosen Telkom University yang tinggal di Bandung. Di antara sederet karyanya, yang menarik antara lain Music Records Indie Label (Dar Mizan, 2008) dan Based on a True Story Pure Saturday (UNKL Books, 2013).
Ketika Glenn Fredly menggagas Konferensi Musik Indonesia (KAMI) pertama di Ambon pada Maret 2018, saya bersama Idhar dan bebera penulis lain seperti Wendi Putranto (Rolling Stone), Ed (UrbanNews), Samack, Rudolf Dethu dan almarhum Bens Leo mengusulkan penerbitan majalah musik untuk dapat mengembalikan jurnalisme musik sebagai representasi industri seni kreatif.
Sayang, usul tersebut tidak sempat terwujud dikarenakan Glenn Fredly keburu berpulang (*)
Penulis: Denny MR Grafis: Ayu Pramesti