KamarMusik.id –Micharel Lang (24), cowok eksentrik berambut kriwil, berpenampilan lusuh. Pada Desember 1968 ia mendatangi kantor Capitol Records untuk menawarkan demo Train, band yang dimanajerinya. Dia ditemui Artie Kornfeld (25), wakil presiden label tersebut, yang juga produser The Cowsills. Pembicaraan pun berkembang.
Berbekal pengalamannya menggelar Miami Pop Festival, 18 Mei 1968 dengan meraup 25.000 penonton, Lang menawarkan gagasan konser spektakular sekaligus membangun studio rekaman.
Keduanya lantas melirik Woodstock, lahan luas yang berjarak sekitar 100 mil dari Manhattan. Salah satu pertimbangannya, di sana pernah tinggal sejumlah nama seperti Jimi Hendrix, Van Morrison, Bob Dylan dan Janis Joplin. Setidaknya, nama-nama tersebut pernah berkarya di sekitar situ. Ini bisa menjadi awal yang baik.

Lang dan Kornfeld segera mengajukan proposal kepada Joel Rosenman (24) dan John Robert (26), dua anak muda dari keluarga kaya. Mereka sepakat mendirikan Woodstock Venture Inc. dengan kepemilikan saham dibagi prorata.
Melalui sebuah agen real estate, fima baru ini mendapat informasi sebuah lahan di daerah Town of Wallkill, milik Howard Mills, yang dapat disewa jangka pendek seharga 10,000 dollar AS. Infrastrukturnya lengkap. Saluran listrik dan air tersedia plus, yang terpenting, mudah diakses dari New York.
Hanya saja, tempat itu adalah kawasan industri yang tidak sesuai dengan konsep yang digagas Lang, yaitu back to the land. Tapi Wallkill adalah pilihan paling masuk akal saat itu.
Rosenman, anak hukum lulusan Yale, ditugasi melobi pemerintah. Dia tak terlalu paham soal musik. Kepada pemerintah, dia menyampaikan rencananya untuk menampilkan musisi folk dan jazz dengan asumsi meraup 50.000 penonton. Karena paparannya belepotan, pihak pemerintah menilai wacana Festival Woodstock itu ngawur. Entah bagaimana, izin yang diharap akhirnya turun juga.

Sementara itu suhu politik tengah bergejolak. Antara lain krisis Kuba, penembakan Presiden AS John F Kennedy oleh Lee Harvey Oswald, isu rasisme yang berujung ditembaknya Martin Luther King yang dikenal gigih memperjuangkan hak-hak sipil. Rakyat dibuat kelelahan. Amerika dalam keadaan sekarat.
Berbagai gejolak ini menginfiltrasi perbincangan Lang dan Kornfeld. Woodstock kemudian dicitrakan sebagai simbol yang mengkampanyekan perdamaian sekaligus menolak segala bentuk kekerasan. Sebab itulah menggunakan slogan Three Days of Peace and Music. Logo-nya yang ikonik itu dirancang oleh seorang seniman bernama Arnold Skolnick.
Untuk menjaring ratusan ribu penonton tentu dibutuhkan sederet musisi terkenal. Akan tetapi siapa yang kenal Woodstock Ventures Inc.? Atas nama kredibilitas, Lang mengusulkan agar mereka dibayar mahal saja, bila perlu dua kali lipat dari honor yang berlaku saat itu. Disetujui.
Mereka segera menemui para musisi untuk menyodorkan nominal yang sulit ditolak. The Who, misalnya, langsung menyatakan kesediaannya setelah dikibas 12.500 dollar AS. Kemudian Jefferson Airplane (12.000 dollar AS). Creedence Clearwater Revival (11.500 dollar AS). Tetapi musisi dengan bayaran tertinggi adalah Jimi Hendrix, yaitu 32.000 dollar, karena diplot sebagai headliner yang akan menutup pertunjukan. Satu per satu para artis bergabung. Santana, Janis Joplin, Ravi Shankar, Joe Cocker dan banyak lagi. Sementara Bob Dylan konon ogah-ogahan menandatangani kontrak dan sampai acara selesai tak kunjung memberi kabar.

Woodstock dirancang secara kolosal tanpa adanya rujukan acara sejenis. Lang, misalnya, menginginkan sound system untuk 150.000 orang padahal saat itu konser musik dengan jumlah penonton terbanyak adalah 50.000 orang. Stan Goldstein (35 tahun), temannya sewaktu penyelenggaraan Miami Pop Festival, bersedia mencarikan solusi.
Obsesi Rosenman dan Roberts lain lagi. Mereka menginginkan sebuah pendokumentasian film tentang konser musik yang akan dikenang sepanjang masa. Untuk itu diperlukan sineas yang mampu menerjemahkan segala gagasan. Pilihan jatuh pada Michael Wadleigh (27 tahun), sutradara berbakat yang pernah menghasilkan sejumlah film independen, antara lain bertemakan kehidupan jalanan dan budaya di era ’60-an serta beberapa biografi tokoh terkenal, termasuk Martin Luther King. Kornfeld membutuhkan biaya 100.000 dollar untuk merelisasikan rencananya. Jumlah yang tidak terlalu besar sebenarnya, dan itu segera ditutup oleh Ted Ashley dari Warner Brothers.
Wadleigh yang begitu bersemangat menggarap film Woodstock belakangan bahkan merogoh koceknya sendiri sebesar 50.000 dollar. Ia menurunkan 100 orang personil, termasuk Martin Scorsese (kini menjadi sutradara terkenal) untuk menangani editing. Skenario yang dibuatnya berisi kritik keras kaum hippies pada Perang Vietnam – Medium inilah antara lain yang menasbihkan Festival Woodstock sebagai gerakan anti mapan yang melahirkan Flowers Generation.

Kabar tentang akan diadakannya konser musik besar-besaran itu segera tersiar luas. Masyarakat Wallkill langsung mengidentifikasi bakal hadirnya komunal raksasa dengan segala macam ritual barbar: Gelombang protes pun merebak. Para birokrat dan warga setempat menyatakan penolakannya atas rencana konser tersebut. Caranya: meneror Howard Mills sebagai pemilik lahan. Jangan lupa, situasi Wallkill saat itu tengah memanas akibat konflik sosial dan politik. Isu kedatangan kaum hippies sangat mudah memantik demontrasi.
Lang dan kawan-kawan akhirnya menyerah. Mereka terpaksa mencari alternatikf lain.
Tersebutlah Elliot Tiber, warga Bethel pemilik motel El Monaco merangkap President of the Bethel Chamber of Commerce. Seniman gay ini sangat dibenci warga setempat karena kegiatan komunitas hippiesnya yang dipenuhi kaum homoseksual dan lesbian. Setelah mendengar penolakan pemerintah Wallkill, Tiber segera mengontak kantor Lang untuk menawarkan relokasi venue. Sayang, lahan miliknya dianggap kurang memenuhi persyaratan.
Maka Tiber segera mengajak Lang untuk menemui temannya, seorang penjual susu yang memiliki lahan terluas di daerah tersebut. Dialah Max Yasgur.

Mengetahui Woodstock Ventures Inc dihuni orang kaya, John Roberts adalah jutawan pemilik warisan pabrik farmasi, Yasgur serta merta menaikkan harga sewanya. Akibatnya negosiasi berlangsung alot. Tapi, setelah didahului gerundelan, mereka akhirnya bersepakat.
Belajar dari peristiwa Wallkill, Woodstock Ventura Inc. memutuskan untuk membayar segala bentuk pungutan. Mereka tidak segan menyuap pejabat lokal agar proses pengurusan ijin konser berjalan lancar. Setelah beres, keluarlah iklan yang bernada provokatif: “Datanglah ke Woodstock dan lakukan apa yang kamu suka tanpa ada yang menghalangimu!’
Warga Bethel yang cemas lantas menggalang perlawanan dipimpin Abe Wagner (61 tahun). Di sana sini muncul gerakan anti semit dan anti hippies. Tetapi semuanya tidak digubris oleh pejabat setempat Daniel J Amatucci. Surat petisi dari sekitar 800-an warga berakhir di tong sampah. Tindakan ini membuat mereka murka dan memutuskan membentuk barikade manusia di sepanjang jalan menuju Festival Woodstock.

Kepanikan dirasakan oleh Lang dan kawan-kawan. Saat itu tiket sudah terjual 180.000 lembar. Tiber, yang berulang kali menerima telepon gelap yang mengancam keselamatan nyawanya, akhirnya nekad mengadakan wawancara di sebuah pemancar radio. Intinya, dia menjamin para calon penonton bahwa apa pun yang terjadi Festival Woodstock tetap akan dilangsungkan.
Namun setiba di rumah Tiber menyadari bahwa segala kegilaan obsesi Michael Lang dan kawan-kawan membuatnya tidak bisa tidur .
Saat itu, Kamis 14 Agustus 1969, masih sehari menjelang penyelenggaraan Woodstock dimulai. Tetapi kemacetan sudah mengular sepanjang puluhan mil dari lokasi pertunjukan di Bethel, Sullivan County, New York. Mereka adalah calon penonton Woodstock yang datang dari berbagai belahan AS, generasi yang kecewa terhadap berbagai kebijakan pemerintahnya, lalu berusaha menemukan dunia sendiri, diprovokasi oleh tagline acara : “Datanglah ke Woodstock dan lakukan apa yang kamu suka tanpa ada yang menghalangimu!’
Konsentrasi massa itu secara masif terus bertambah dari waktu ke waktu.

Empat sekawan Michael Lang, Artie Kornfeld, Joel Rosenman dan John Robert semakin gelisah. Personil tambahan segera diterjunkan guna membantu tim sekuriti dan terutama medis. Sebagian lagi diperbantukan menambah saliran air, toilet, dapur atau membangun panggung alternatif yang berukuran lebih kecil daripada panggung utama yang berukuran 20 m x 15 m x 5 m. Perangkat sound system- nya diperoleh dari pinjaman milik The Grateful Dead.
Sementara itu para calon penonton yang tidak menyadari kepanikan pihak penyelenggara asyik mengerubuti kios merchandise yang menjual berbagai macam souvenir khas kaum hippies serta berbagai atribut dengan simbol dan slogan kontrakultura. Mereka adalah orang-orang yang tidak perduli dengan heboh pendaratan Apollo 11 yang sedang jadi perbincangan dunia.
Jumat 15 Agustus 1969, tepat pukul 17.07 waktu setempat Festival Woodstock resmi digelar. Seharusnya band Sweetwater tampil membuka acara, tapi band tersebut terlambat tiba di lokasi. Akhirnya seorang musisi tidak terkenal, Richie Havens, diminta mengisi kekosongan. Ia mengimprovisasi lagu “Motherless Child” menjadi lagu yang diberi judul “Freedom”. Temanya berisi spirit pembebasan kaum kulit hitam.
Lagu yang kelak muncul dalam film Woodstock garapan sutradara Michael Wadleigh ini menjadi hit di seluruh dunia.
Jadi, isu kebebasan yang ditiupkan sebagai ruh Festival Woodstock bukan cuma disambut oleh penonton, tetapi ‘dimanfaatkan’ sebagian pengisi acara. Arlo Guthrie, penyanyi folk lain yang tampil setelah Richie Havens, meneriakan sebuah kalimat yang kemudian sangat terkenal: “New York State Thruway is Closed, Man!”. Ia melakukan monolog di bawah pengaruh narkotik.

Joan Baez, headliner hari pertama, naik panggung dibayangi memburuknya cuaca. Ratu folk yang tengah hamil itu sempat menceritakan suaminya, David Harris, yang sedang ditahan. Joan adalah seniman yang gencar melancarkan protes. Salah satu lagu yang dibawakannya malam itu, “Joe Hill”., didedikasikan untuk Joe Hill, pemusik folk yang dieksekusi mati pada tanggal 19 November 1915 setelah didakwa terlibat pembunuhan.
Hujan deras pun turun saat Joan Baez menyanyikan lagi terakhir, “We Shall Overcome”. Kecuali tenda-tenda darurat yang sudah basah kuyup, tidak ada lagi tempat bagi penonton untuk berlindung dari hujan dan sengatan udara yang menggigit. Sebagian harus rela tidur atau beristirat di area terbuka, yang basah dan tentu saja berlumpur.
Pada awalnya Lang hanya merencanakan Woodstock untuk sekitar 60 ribu sampai mentok-mentoknya 150 ribu. Namun faktanya jumlah pengunjung meledak hingga 450 ribu! Akibatnya, tiket masuk seharga $US 18 terpaksa digratiskan. Dan, mulailah muncul berbagai permasalahan.
Di lahan peternakan seluas 240 hektar milik Max Yasgur ini, 600 toilet yang disediakan pihak penyelenggara hanya mampu bertahan sebentar, setelah itu tidak dapat lagi dipergunakan karena meluap. Untuk membersihkan badan, pengunjung festival dipaksa ‘kreatif’ dengan memanfaatkan air sungai yang mengaliri area ini. Dalam sleeve cover album soundtrack dari film Woodstock The Movie akan terlihat dua perempuan telanjang lagi mandi di sungai ini.

Urusan air minum dan makanan juga tidak kurang ribetnya. Pada hari pertama perusahaan katering Food for Love yang di kontrak Woodstock Ventures Inc berhasil membagikan 500 ribu potong hamberger dan hot dog. Tetapi hari berikutnya mereka tak berkutik. Akses menuju area festival terputus oleh luapan pengunjung.
Tidak ada pilihan, pihak penyelenggara akhirnya mendatangkan kebutuhan perut ini melalui helikopter. Warga di sekitar Bethel yang semula menentang habis-habisan akhirnya berbalik menyediakan makanan dengan harga murah bagi mereka yang ‘terkurung’ di ring dalam.
Hari kedua menampilkan bintang rock The Who yang belum lama merilis album My Generation. Muncul pukul 05.00 sebelum Jefferson Starship, vokalis Roger Daltrey antara lain menyanyikan “See Me, Save Me” dari album klasik Tommy. Kehadiran The Who menarik perhatian setelah sebelumnya dalam sebuah atraksi membakar peralatan, termasuk penghancuran gitar oleh Pete Townshend.

Hari terakhir, 17 Agustus, festival dibuka oleh Joe Cocker, yang setahun sebelumnya mengeluarkan debut album dengan meng-cover lagu milik The Beatles, “With a Little Help from My Friends”. Penampilan di Woodstock melejitkan mantan tukang pasang instalasi gas ini sebagai superstar baru.
Hari itu sebenarnya Jimi Hendrix diagendakan menutup seluruh rangkaian festival, akan tetapi badai hujan yang menguyur memaksa pertunjukan dihentikan cukup lama. Hendrix baru naik panggung keesokan harinya, tanggal 18 Agustus. Penonton yang tersisa hanya tinggal sekitar 25 ribu orang.
Namun di arena yang sudah luluh lantak itu Hendrix menciptakan sejarah saat memainkan “The Star Spangled Banner”, yang aransemennya ia interpretasikan sendiri melalui dengan suara rentetan tembakan dan bom dari gitarnya. Tindakannya ‘memperkosa’ lagu kebangsaan Amerika Serikat tersebut menjadi sumber perdebatan berkepanjangan. Ia menutup penampilan monumentalnya dengan “Hey Joe”, pukul 9:00 pagi.

Sekitar 32 musisi yang tampil selama penyelenggaraan Woodstock sebenarnya tidak sesuai rencana. Iron Butterfly, salah satu band rock kondang saat itu, batal tampil karena tertahan di airport. Joni Mitchell urung hadir karena rombongannya terhalang oleh ribuan pengunjung yang juga tidak berhasil masuk ke area festival. Namun ia sempat menulis lagu berjudul “Woodstock” dan akhirnya dinyanyikan oleh kelompok Crosby, Stills, Nash & Young, yang sudah lebih dulu tiba di lokasi. Lagu tersebut menjadi sangat terkenal antara lain berkat cerita batalnya Joni tampil.
Michael Lang juga batal mengundang Led Zeppelin karena mereka terlanjur kontrak dengan acara lain. Begitu pun The Jeff Back Grup. The Canadian dan Lighthouse mengundurkan diri akibat stress melihat venue dan luapan pengunjung. The Byrds menolak setelah mendapat pengalaman buruk dalam acara sejenis di Atlanta.
The Doors menyatakan tidak tertarik karena Jim Morrison ogah tampil di arena terbuka seluas itu. Hanya Bob Dylan dan Frank Zappa yang tak diketahui alasannya. Lang mengaku pihaknya sudah menyodorkan kontrak, namun entah kenapa Bob Dylan tidak kunjung menandatanganinya.

Begitulah, selama empat hari tiga malam, Festival Woodstock bertransformasi menjadi komunal rock and roll raksasa yang mengklaim sebagai ‘Bangsa Woodtock’. Mereka bersatu dalam wacana kontakultur yang menghalalkan kebebasan berpikir dan anti kekerasan. Semangat kebersamaan diterjemahkan oleh generasi bunga ke dalam ritual seks bebas dan penggunaan narkotika tanpa batas.
Walhasil selama acara berlangsung telah terjadi delapan kasus aborsi, sekitar 797 pengguna narkotika yang harus dirawat, dua di antara tewas karena overdosis, 5.162 orang terpaksa menjalani perawatan medis dan seorang yang tewas tergiling traktor yang supirnya tidak pernah diketahui keberadaannya sampai sekarang.
Lebih dari itu, kemacetan brutal yang ditimbulkannya telah menyebabkan penduduk marah besar dan pemerintah setempat bersumpah tidak akan pernah lagi mengijinkan pertunjukan sejenis.

Woodstock tercatat sebagai episode pertama dan terakhir dari hedonisme generasi bunga yang lahir di tengah situasi serba permisif. Festival yang terukir sebagai gerakan kontrakultur dalam upaya mendobrak tradisi konservatif. Inilah moment yang mengubah sejarah rock & roll.
Dalam pandangan ahli sejarah kontemporer AS, Bert Feldman, “Woodstock merupakan peristiwa yang hanya terjadi satu kali sepanjang hidup kita. Ia adalah kenangan terbaik sekaligus terburuk. Sebuah peristiwa kebudayaan yang tidak akan pernah terjadi lagi.”
Dengan segala keunikannya, Woodstock terbilang sukses dan fenomenal. Namun Lang dan kawan-kawan rugi besar hingga 1,3 juta dollar AS. Enam bulan setelah peristiwa berlangsung, Roberts dan Rosenman membeli saham milik Lang dan Kornfeld masing-masing senilai 31.240 dollar AS. Empat pemuda nekat penggagas acara itu kemudian membubarkan diri.
Penulis : Denny MR Foto image: Istimewa